​Blunder HTI

Saat bayaran listrik naik melonjak ugal-ugalan, ramai-ramai orang yang tidak memilih Pa JKW menyalahkan mereka yang memilihnya. Salah memilih pemimpin katanya. Ingkar janji katanya. Kalau sudah di atas sana, lalu kamu mau bilang apa? Pun, jamaah HTI juga ikut-ikutan menyebar ‘kepedulian’ dan mengaitkannya dengan ‘kapitalis’ lah, ini lah, itu lah. Tapi tidak sadar, bahwa mereka juga sama-sama berperan seperti yang memilih itu.

Cita-cita itu masih lama. Namun perjuangan menyelamatkan ummat, tidak perlu menunggu sampai khilafah itu tiba. Apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah yang terbaik untuk saat ini. Jika ummat Islam telah kenyang perutnya, tenang hidupnya, damai menjalani hari demi harinya, barulah berbicara yang ada di atas itu. Silakan apa saja. Negara, Raja, atau apapun itu namanya. Sementara ummat Islam saat ini masih terus berjuang hanya untuk sesuap nasi hari ini. Esok entah mau makan apa lagi.
Masih ingatkah kita pada setiap momen pilkada, pilgub, pilpres, atau pileg bagaimana sikap HTI (atau sejenisnya) dan jamaah pendukungnya? Bukankah sikap mereka yang mengharamkan pesta demokrasi menjadikan suara umat Islam berkurang? Sudah cukuplah kaum munafik (yang disebut dalam al-Qur’an) di antara kita, yang haus harta dan gila kekuasaan, memecah belah persatuan ummat. Kesadaran akan dampak temporal, nyatanya tidak juga hadir dalam diri mereka setelah beragam peristiwa merugikan menimpa umat Islam sendiri.
Lihatlah bagaimana dengan tangan mereka akhirnya merasakan akibatnya. Rencana pembubaran HTI secara paksa katanya tidak sesuai undang-undang. Jangan lihat undang-undangnya, lihatlah siapa eksekutornya. Mereka tentu lebih tahu tentang penguasa. Tapi kenapa berdiam diri, tidak bersatu dengan ummat Islam lainnya. Menunjukkan aksi nyata, saat itu juga. Bukan pilihan mana yang terbaik. Tapi mana yang paling sedikit dampak buruknya.
Bukan hanya HTI yang merasakan dampaknya. Lantaran ketidakpedulian mereka (dan yang sejenisnya) kini ummat Islam berada dalam cengkraman penguasa. Memutarbalikkan logika dianggap biasa. Atas dasar apa orang yang tidak berpuasa harus dihormati? Dimana-mana minoritaslah yang harus menghargai mayoritas. Lihatlah bagaimana kita sangat menghargai apa yang terjadi di Bali. Bukan. Ini bukan tentang kedudukan perayaan agamanya. Tapi tentang bagaimana semangat menghormati kepentingan orang yang lebih banyak. Kemudian juga, bagaimana salah satu ‘ustadz’ HTI dihentikan ceramahnya ternyata juga diwacanakan akan berlaku pada ustadz-ustadz yang lain. Belum lagi wacana pembubaran ormas. Ah kalian tidak sadar juga. Dulu kalian ke mana?
Please. Bangun dari mimpi. Yang akan merasakan dampak bukan hanya kami dan mereka yang selama ini hanya berjuang untuk hidup dari hari ke hari walau pas pasan. Kalian dulu ke mana? Milih siapa?

#SayaTidakBersamaHTI #onnythea

(Tulisan Onny Khaeroni di wall Facebook) 

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: