​De Grooten  Boeng  dan Identitas Muslim Nasionalis

Dalam sejarah Indonesia, setidaknya ada dua nama yang mendapat sebutan De Grooten Boeng atau Bung Besar. Nama pertama adalah F.H. de Hoog, namanya disebut dalam De Communistische Beweging in Nederlandsch- Indie, karya Petrus Blumberger, buku pertama yang menulis tentang gerakan komunis di Hindia-Belanda. 

 

Blumberger lebih memilih F.H. de Hoog, bukan Douwes Dekker, yang disebutnya sebagai tokoh kaum Indo, IEV (Indo-Europeesch Verbond), organisasi yang diperhitungkan saat itu. De Hoog dipilih sebab ia dianggap telah berhasil dalam kariernya, dari seorang klerk menjadi pegawai tinggi di Jawatan Kereta-api. Hal semacam ini menjadi pertimbangan yang berbobot, ditinjau dalam pergerakan penting zaman itu, pergerakan komunisme. Sebab itu, de Hoog mendapat gelar De Grooten Boeng dari kaumnya.
P. Swantoro dalam karyanya, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, memang tidak sampai jauh menjelaskan nasib de Hoog. Ia hanya menjelaskan sedikit saja dalam ulasannya mengenai karya Pertus Blumberger itu. Namun kita tau, ada Bung Besar lain yang menyusul kemudian, yang memiliki tapak jejak yang hampir serupa, jika kita hendak berbicara mengenai sejarah perjuangan kemanusiaan dan kemerdekaan. De Grooten Boeng yang ini bernama Sukarno, orang Jawa totok yang keras kepala juga dalam soal memperjuangkan nasib rakyat.
Saya tidak membahas De Grooten Boeng Soekarno dalam soal lain, saya akan membicarakannya dalam kapasitasnya sebagai seorang muslim yang menyenangkan, yang tentu saja turut memperjuangkan kepentingan Islam. Seperti Ozi D. Prabaswara, yang menulis banyak pengalaman De Grooten Boeng, dalam bukunya, Para Penjaga Terakhir Bung Karno, Biografi, Perjuangan, Kesaksian, dan Loyalitas Mereka pada Bung Karno. Ozi dalam bukunya itu menyebut sisi lain dari De Grooten Boeng, yaitu cerita kedekatan Bung Besar dengan orang-orang penting di sekelilingnya, seperti kedekatannya dengan Bung Hatta, Dr. Johannes Leimena, Chaerul Saleh, Ali Sadikin, Omar Dani, Dr. Subandrio, Ni Luh Putu Sugianitri, Njoto, Oei Tjoe Tat, Umar Said, dan Ngatimin. Dalam bukunya, Ozi D. bercerita mengenai Bung Karno yang menjadi ‘calo’ perkawinan antara Rahmi dengan kawan dekatnya, Bung Hatta, dan banyak lagi cerita menarik lainnya.
Soal Bung Karno, saya masih ingat cerita ibu saya waktu ia berangkat haji tahun 1991 silam. Ia bangga sekali menceritakan pengalamannya mengenai rasa hormat orang  Arab sana kepada De Grooten Boeng Sukarno. Ia bercerita, bahwa di antara jasa De Grooten Boeng Karno di Arab Saudi, adalah usulannya kepada Raja Arab Saudi supaya menanam pohon di wilayah padang Arafah, yang menjadi lokasi wukuf jamaah haji. Pohon-pohon yang berjajar di padang Arafah hari ini, yang memayungi jamaah haji dari terik mentari, menjadi simbol kebesaran nama orang Indonesia di tanah Arab. 
Kedekatan Sukarno dengan ulama juga sering disinggung oleh banyak sejarawan. Seperti inisiatifnya untuk membangun Masjid Istiqlal, masjid terbesar se Asia Tenggara. Sukarno juga disebut sebagai orang pertama yang menyitir ayat al-qur’an dalam siding PBB. Bahkan apa yang dikenakannya, seperti songkok hitam yang dipakainya, menjadi identitas Islami yang dikenal orang luar. 
Belum lama, setelah gegeran Suriah, putra dari Syekh Said Romadhon al Bouti yang bernama Dr. Taufiq Romadhon al Bouti, berbicara di depan banyak orang mengenai kecintaannya mengenakan songkok hitam Indonesia sebagai penutup kepala yang dipilihnya. Dia memilih songkok, karena ia sangat menghargai cara ber-Islam orang Indonesia. Kita tau, Syekh Said Romadhon alBouti, bapaknya, wafat pada saat menggelar pengajian tafsir di masjid, wafat dibom oleh kelompok teroris di Suriah. Syekh Said Romadhon disasar teror karena ia membela negaranya agar tetap utuh, karena itu ia disebut sebagai ulama nasionalis.
Dalam berbagai kesempatan, Dr. Taufiq juga mengenakan songkok Indonesia ini, pada saat ia berbicara mengenai pandangan ideal tentang Islam di banyak negara, juga pada saat ia menyolatkan anaknya, yang juga ikut meninggal bersama kakeknya, dalam peristiwa pemboman yang sama. Dr. Taufiq disebut mengenakan songkok nasional sebagai simbol perlawanan atas cara ber-islam yang keliru, seperti yang dilakoni oleh kelompok yang menewaskan anak dan bapaknya itu.
Ginting, dalam artikelnya di Harian Republika berjudul Kopiah adalah Indonesia, menceritakan soal Songkok Sukarno ini. Saat istirahat dalam sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959, Sukarno mengungkapkan tentang identitas nasional.
“Seandainya saya adalah Idham Chalid yang merupakan ketua Partai Nahdlatul Ulama (NU), atau seperti Suwiryo yang menjabat ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas,” kata Sukarno.
“Tetapi soal peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini, benar tidak Kiai Wahab?” Tanya Sukarno kepada KH. Abdul Wahab Hasbullah, anggota DPA yang juga merupaka Rais Aam NU.
“Memang betul, Saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan Peci hitam, Saudara tampak lebih gagah seperti para mubaligh NU,”  jawab Kiai Wahab.
Selain kepada ulama NU, De Grooten Boeng Sukarno juga menaruh hati kepada ulama-ulama dari Muhammadiyah. Seperti kepada Buya Hamka, meski Buya Hamka pernah berseteru keras dengan Bung Karno, tapi ia tetap menganggap Buya Hamka sebagai ulama yang patut dihormati. Pada masa akhir hidupnya, De Grooten Boeng menitipkan pesan yang disampaikan melalui ajudan Presiden Soeharto, Mayjen. Soeryo, pada 16 Juni 1970;
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”  
Buya Hamka yang mendapat pesan tersebut terharu sekaligus terkejut. Tanpa pikir panjang, Buya Hamka kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Besar disemayamkan. Sesuai wasiat, Buya Hamka memimpin shalat jenazah tokooh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu.
“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu,” ucap Buya Hamka.
De Grooten Boeng Karno juga disebut berjasa bagi bangsa Mesir dan dunia keilmuan Islam. Syekh Ali Goumah, ulama yang pernah menjabat sebagai Mufti Mesir, dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Haiah Kibaril Ulama, badan khusus yang mewadahi ulama-ulama senior di universitas al-Azhar, pernah mengemukakan bahwa Bung Karno menyelamatkan al-Azhar dari ancaman penutupan oleh Presiden Gamal Abdul Nasser. Alasan penutupan karena ulama al-Azhar diduga banyak yang bergabung dengan gerakan Ikhwanul Muslimin untuk merongrong kekuasaan.

Ketika Nasser berniat menutup al Azhar, De Grooten Boeng muncul mempertanyakan niat penutupan itu.
“Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup al-Azhar? Ya Gamal, al-Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir justru karena ada al-Azhar,” kata Bung Karno.
“Ya, itulah langkah terbaik bagi kita semua.” Jawab Presiden Nasser.
“Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan. Anda wajib menata kembali al-Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukan menutupnya.”
Berkat jasa-jasa Bung Karno tersebut, Universitas al-Azhar menganugerahkan doctor kehormatan atau Doktor Honoris Causa kepada Bung Karno dalam kunjungan ketiganya ke Mesir pada April 1960. Dan masih banyak jasa De Grooten Boeng bagi dunia Islam, maka picik sajalah orang yang menyandingkan nama Sukarno dengan ‘pantat’ manapun.

(Penulis: Bagus Sigit Setiawan

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: