​Sebuah Analogi Kebangsaan

Menganalogikan kecintaan kita terhadap bangsa ini adalah dengan menyamakan kecintaan kita terhadap kedua orang tua kita terkasih. Mereka yang telah merawat dan membesarkan kita dari kecil sampai besar (dewasa), bahkan dari buaian sampai liang lahat. Merawat tatkala kita sakit, merawat dengan segala kasih–sayang, merawat dengan segala kelebihan dan keterbatasan, mendidik–menyekolahkan kita dengan uang hasil “kristalisasi” keringat mereka, supaya kita terdidik secara formal maupun informal bahkan spiritual, agar kita menjadi “tanda zaman.” Demi menjadikan kita insan bermakna dan bermanfaat bagi sesamanya bahkan bagi Indonesia Raya dan alam semesta.
Manakala kedua orang tua kita diganggu, disakiti fisiknya, disakiti perasaannya, dizalimi, dihina bahkan dilecehkan oleh orang lain, maka sudah pasti dan pasti, kita akan merasa sedih tak terperikan. Bahkan sudah pasti dan pasti, kita akan marah dan murka terhadap orang yang mengganggunya! Dan, sudah sebuah keniscayaan, kita akan membela, mempertahankan dan menjunjung tingi harkat,  martabat dan kehormatan kedua orang tua kita terkasih dengan segenap cara dan membela mati-matian sampai titik darah penghabisan.

Dus, semua itu kita lakukan, karena kita sangat mengenal sosok kedua orang tua kita, mengenal kasih–sayangnya yang tiada tara, memahami semua perjuangan dan segenap daya–upayanya hanya semata untuk kita anaknya. Dus, kita begitu merasakan segala curahan kasih– sayangnya terhadap kita, dan hanya untuk kita, yang intinya kita sangat mengenal deru sejarah perjuangan kedua orang tua kita terhadap anak dan keluarganya. Sehingga, sudah selayaknya pembelaan kita terhadap kedua orang tua terkasih adalah MUTLAK!

Begitu pula seharusnya kita memperlakukan negeri dan tanah air tercinta ini, Indonesia Raya. Karena kita sudah merasa–menikmati–mengecap indahnya alam nusantara dari Sabang sampai Merauke, yang di dalamnya terkandung nikmat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhana Wa Ta’ala (SWT) yang luar biasa. Alam nusantara raya yang tropis, bulir air bening yang mengalir tiada henti, mengalir sampai jauh sampai ke seluruh sel tubuh dan sel darah kita, tanah yang menumbuhkan segala jenis dan ragam penganan untuk kehidupan manusia Indonesia. Angin nusantara yang terhisap ke hidung sampai rongga dada manusia Indonesia, minyak dan gas bumi yang menjadikan api kehidupan manusia Indonesia, dan seluruh Sumber Daya Alam yang menjadikan setiap sudut kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan atas dasar dan alasan inilah, bangsa-bangsa asing menjajah tiada henti. Sebab, di sana, di negeri tanah asalnya, tidak mereka temukan apa yang ada di bumi nusantara tercinta ini. Bumi nusantara yang menjadi kawah candera dimukanya dunia.

Pun, negeri yang dikarunia para pendiri bangsa, orang-orang terpilih, suri tauladan bagi negeri yang luar biasa ini. Para Founding Father yang memiliki kedalaman dan kejernihan berpikir bagi persatuan, kemerdekan, kesejahteraan dan keadilan bangsanya. Anak-anak bangsa yang melakukan pengembaraan batin yang panjang bagi cita-cita kemerdekaan bangsanya. Para pendiri bangsa yang progresif, revolusioner dan visioner. Orang-orang yang memiliki pandangan jauh ke depan demi Indonesia merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Demi terbebasnya bangsa Indonesia dari penjajah asing, dan dari keterjajahan fisik maupun pikiran. Semuanya demi gilang-gemilangnya bangsa dan kejayaan bangsa Indonesia!

Maka, WAJIB dan MUTLAK lah bagi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia membela sampai titik darah penghabisan terhadap negeri tercinta ini, Indonesia Raya! Sebab kita mengenal sejarah bangsa ini.* 

{Penulis: Bung Ghopur, Desember 2013}

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..