Ada Marwah ber-NU di Apel Kader NU

jagatngopi.com–Untuk kali keberapa, saya lupa, yang pasti saya di SMS (Short Message Service) lagi oleh mas Mun’im. Senior PMII yang di pertemuan kader saya liat di atas mobil, pegang tongkat dan mengayun-ayun tongkat kecil-pendek.  Bentuknya seperti alat untuk menabuh drumband, sejenis alat musik yang kalau ditabuh sedikit brisik. Jangan salah, sang kyai ini mengayunkan tongkat bukan untuk memainkan musik seperti halnya Jimmie manopo, sang drummer yang terkenal itu. Tapi untuk melakukan “inspeksi pasukan” sekaligus memipin ribuan kader penggerak NU menyanyikan lagu perjuangan kader (mars ?) Ya lalwaton (ya ahlal waton).

Kembali tentang pesan singkat. Pikiran “nakal” saya langsung mengunggah. Terbersit, wah…ini kayaknya mau dapat oleh-oleh khas kebumen, Jawa Tengah. Ya, beberapa jenis penganan Nusantara khas kebumen langsung membenak di dada. Dari mulai Lanting, Jipang sampai Soto Ayam Petanahan. Tapi pilihan terakhir saya meyakini tidak mungkin, karena disamping repot bawanya, sampai sawangan bisa basi. Penganan tradisional Kebumen memang “11 12” sama Purwokerto, kalau toh beda, paling beberapa jenis saja. Bagi pelancong, sepulangnya dari jelajah-wisata biasanya tak lupa membawa oleh-oleh khas daerah setempat. Itulah kenapa, angan saya menambat ketika ada sms undangan ke rumah dari orang yang terkenal ideolog itu.

“Bagaimana jagatngopi..?”. Itu pertanyaan, tepatnya sapaan pembuka yang terlontar. Jujur, saya tersenyum sambil mbatin “masuk ini barang”. Betapa tidak, dalam proses manajemen  branding satu produk, ukuran keberhasilan awal antara lain bagaimana pasar merespon atas produk yang dipasarkan. Persoalan respon itu positip atau negatif, itu lain soal. Dan dalam konteks ini, seorang Mun’im sudah mengingat jagatngopi. Bangga dan lega !

Sampai di sini. Sapaan itu menjebak saya untuk lupa atas harapan lanting dan jipang (ha..ha..ha..). Apalagi, sejurus dengan itu datang tamu berkutnya Zaeni Rahman dan Amir Ma’ruf, dua yuniornya di PMII Jogja. Obrolan ngalor-ngidul layaknya kenduri tetangga kian menemukan keseriusannya dan butuh penalaran ekstra, khususnya ketika masuk dua pokok pikiran penting. Pertama, menyoal gempitanya kader penggerak NU yang hadir di acara Istighotsah dan Apel Kader dengan mengandalkan keswadayaan kader, mereka iuran per kader 10 ribu-an. Artinya, mereka (kader) tidak mau merepotkan diri, meminta sumbangan dana ke pihak luar, yang kerap mensyaratkan dengan ini dan itu. Kedua, menyoal ragam syair lagu ya lal waton yang memang banyak versi. Seperti versi Lirboyo, Jombang, Rembang dan Sarang. Kader Penggerak NU sendiri, memilih syair dari versi Sarang yang sudah diaransir sedemikian rupa oleh PP Lesbumi NU.

Untuk soal kedua–tentang ya lal waton–dorongan “ngangsu kaweruh” saya tak begitu memaksa, wong sudah di kunci dengan kalimat “ada di buku saya, fragmen” seloroh Mun’im. Artinya saya tinggal baca saja untuk di rumah atau di mana saja untuk memenuhui “dahaga pengetahuan” itu. Justru pada soal yang kedua yang hemat saya menarik bahkan relatif baru tapi lama. Baru karena dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir keswadayaan ber-NU sudah semakin memudar, tergerus oleh pragmatisme zaman. 

Kenyataan itu sudah sekian lama menggejala di tubuh NU hampir di semua tingkatan. Tidak sedikit tamsil orang aktif di NU sekedar untuk memenuhi kepentingan pragmatisnya. Menanggok keuntungan material misalnya, kekuasaan (politik)  umpamanya atau kepentingan lain yang bersumbu pada pragmatis-primordial. Akhirnya, aspek pemberdayaan dan penguatan kewargaan “enyah” direalisasi programnya. 

Dikatakan lama, karena NU pernah merasakan keswadayaan warga sebagai “arena jihad” mengusung nilai-nilai aswaja, membentengi Pancasila dan NKRI. Seperti banyak diriwayatkan, tidak sedikit warga yang rela menjual ternaknya demi kegiatan dan kejayaan NU. NU Banyuwangi misalnya, seperti yang diwartakan NU online bahwa Cabang Banyuwangi terkadang harus menyewa satu gerbong khusus untuk mengirim bahan makanan guna mendukung penyelenggaraan Muktamar. Seperti halnya Muktamar di Jakarta setelah perang kemerdekaan, NU Banyuwangi mengirim 100 kwintal beras untuk konsumsi Muktamar.

Sampai di sini. Saya terperanjat dari nikmatnya membayang tentang ber-NU sekarang yang situasinya paradoks dengan dulu–sekalipun tidak semua begitu. Nyatanya Para Kader Penggerak NU sudah membangkitkan kembali dengan keswadayaan sebagai ruh dan marwah dari sebuah perjuangan membangun NU. Demi suksesnya Istighotsah dan Apel Kader Penggerak NU mereka “kunteng” atau rukun enteng dengan iuran 10 000 an tiap kader.  

Apalagi tentang buahtangan khas kebumen, bahwa saya sedang diskusi dengan Mas Mun’im tentang NU dengan segala aneka ragamnya pun hampir lupa, saking nikmatnya merekabayang fikiran.

Akhirnya, bukan sekedar ilmu yang saya dapat dari silaturahmi itu. Aneka bingkisan berisikan makanan tradisional pun saya dapat. Semoga ini bagian dari membangun muruah NU.

Leave a Reply