Agama, Santri dan Tanggungjawab Kemanusiaan

Catatan ringan,

Hadi M Musa Said

Khadam GP Ansor & Ponpes Cipulus Purwakarta

Wahai orang-orang yang beriman..! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah. Karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.

Al-Maidah : 8

 

Sungguh keadilan, Kedamaian, ketentraman adalah harapan kita semua sebagai warga Bangsa.

Indonesia adalah rumah bagi semua Agama, rumah bagi semua golongan, rumah bagi semua etnis dan suku, keberagaman adalah sunatullah, jadi jangan pernah coba-coba untuk merubah atau merusaknya dengan meng-klaim hanya milik satu Golongan atau Agama, Indonesia dengan Pancasila nya adalah nama yang disepakati para pendiri Bangsa ini dan menjadi sangat keramat yang dijadikan pijakan bersama atas kesepakatan bersama dalam mendirikan NKRI,

Kita lahir, tumbuh dan dibesarkan di tanah Air Indonesia, kita makan minum dari hasil tanah dan air Indonesia, kita berdiri tegak dan bersujud tunduk pada Tuhan diatas Tanah Air Indonesia dan kita juga akan mati dikubur kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi serta menyatu dengan Tanah Air Indonesia.

Untuk itu merawat, menjaga dan mempertahankan Indonesia sebagai sebuah Bangsa adalah kewajiban dan tugas mulya kita semua sebagai warga Negara Indonesia, bukan malah merusaknya dan mencoba berselingkuh dengan ideoligi lain yang jelas-jelas sudah Gagal di Negara asalnya dan sekarang dibawa oleh sekelompok orang Frustasi yang mengatasnamakan Agama, tapi salah dalam memahaminya,

Agama diturunkan itu untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam dan perekat manusia satu dengan yang lainya, menjadi jembatan perbedaan dalam kebhinekaan untuk sebuah kebersamaan dalam keberagaman,
sesuai dengan Firman Allah SWT,

Wahai Manusia..! sungguh kami telah ciptakan kamu dari seorang Laki-laki dan seorang Perempuan, kemudian Kami jadikan kamu ber-Bangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulya diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa, sungguh Allah Maha mengetahui, Maha teliti. (Al-Hujurat:13)

Pemahaman dan tafsir Agama seringkali hanya didasari oleh keinginan seseorang dan kelompoknya untuk memuaskan dan mempertahankan sebuah kekuasaan atau sekedar eksistensi sebuah kelompok didepan kelompok lainya, yang pada ahirnya menjadi pembenaran sepihak atas nama Tuhan.

Sebagian manusia modern yang seringkali mengedepankan logika pun demikian, memberi makna Agama sesuai dengan kebutuhannya, ketika dianggap cocok maka disitu mereka mengaku ber-Agama, tafsir Agama adalah kebenaran akan sebuah keyakinan bukan pembenaran atas nama kelompok atau golongan, Agama untuk mendidik sifat kemanusian kita sebagai manusia dalam bingkai aturan kebaikan dan Rahmat Tuhan,

Ajaran kemanusiaan untuk membangun sebuah peradaban dunia yang lebih tertata dengan penuh keharmonisan, sebagian orang yang mengaku sebagai tokoh Agama jadi-jadian (karbitan) hari ini sudah menjadi selebritis dan seringkali mengedepankan egonya hanya untuk memenuhi pesanan pemilik modal dalam setiap ceramah nya,

Para ustadz seleb yang hanya belajar lewat sosmed sudah dianggap ustadz dengan tarif yang diatur oleh management, tidak ada bedanya dengan artis flm, sinetron dll, yang selama ini justru mengaburkan makna Agama sebagai jalan lurus peradaban manusia, karena mereka hanya mementingkan popularitas dan honor tinggi dari sponsornya, tanpa sebuah keilmuan yang mempuni dan mereka sudah berani berfatwa seperti Ulama Alim yang dalam ilmunya.

Padahal berceramah didepan media dengan disuguhi materi yang sudah tersistem dengan sebuah program yang seringkali menyudutkan ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an kita yang ada di Indonesia.

Disinilah tugas kita semua untuk saling mengingatkan artinya mereka harus disadarkab bahwa karena ceramah-ceramahnya itu justeru bisa merusak hubungan manusia yang satu dengan yang lainya,

Agama apapun didunia ini tidak ada yang mengajarkan hal buruk, semua sepakat bahwa titik pertemuanya adalah pada kemanusiaan dan cinta kasih yang bisa diimplementasikan dalam keseharian kita sebagai manusia yang merdeka,

Manusia modern yang digelari ustadz, Ulama, ahli Agama ternyata masih banyak yang abal-abal karena memang karbitan tidak pernah belajar pada Guru yang benar dan majelis-majelis ilmu serta Pesantren-pesantren, mereka harusnya malu mengaku ustadz tanpa keilmuan yang matang, karena sebutan Ustadz hanya diperuntukan bagi mereka yang betul-betul memahami ilmu Agama dan begitu juga antara ucapan dan prilaku nya bisa dipertanggungjawabkan,

Gerakan ayo mondok yang dilakukan oleh Kementrian Agama dan NU harus menjadi momentum peradaban baru untuk mendorong revolusi mental yang nyata, bahwa revolusi mental itu sudah dilakukan dari dulu di semua pondok Pesantren, tanpa harus memakai jubah besar dan beteriak-teriak di jalanan,

Dan bagi alumni santri-santri harus mampu memanfaatkan Sosmed, Teknologi Informasi menjadi media dakwah yang betul-betul mampu menjelaskan Agama dengan ramah, santun dan lembut seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, model dakwah memang terus berkembang dan santri juga harus mampu menjadi pendakwah-pendakwah yang handal, jangan pernah takut dengan kelompok-kelompok radikal yang selalu memaksakan pendapatnya dan merasa paling benar, sampaikanlah Islam dengan senyum yang ramah dan penuh cinta, itulah substansi ajaran Islam yang sebenarnya.

Dan Pondok Pesantren adalah kawah candradimuka tempat santri ditempa mencari ilmu Agama dan Ilmu hikmah tentang kehidupan, dan menjadi Santri adalah jalan lurus dan menjadi manusia pilihan yang dipilih Tuhan untuk terus mengabdi pada Agama Islam yang benar, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengabdi pada Kemanusiaan yang penuh dengan harmoni untuk terus menciptakan perdamain Dunia,

#BanggaJadiSantriNU

 

Wallahu’a’lam bishawab

Tulis tanggapan anda: