Anjing-anjing Penjaga

Anjing-anjing itu siap menyalak jika tuannya diusik. Mereka berisik sekali berusaha menggonggong sekeras mungkin agar tuannya tahu. Mereka berharap Tuannya menilai mereka sebagai anjing yang setia sehingga sepotong tulang dan sekerat daging akan diberikan oleh tuannya untuk mereka. Mereka akan girang bukan kepalang meskipun sepotong tulang dan sekerat daging itu bukan yang segar, tetapi busuk, bahkan mungkin diambil dari bangkai binatang lainnya. Tapi, percayalah, anjing-anjing itu tidak peduli yang penting itu dari tuannya, Tuan Yang Terhormat dan Yang Mulia di mata para pemujanya.

Dan, sang Tuan pun tahu bahwa anjing-anjingnya itu tidak perlu diberi kambing guling. Buat apa diberi makan yang lezat dan nikmat, jika dengan bangkai saja mereka sudah memujanya? Bukan begitu, pikir tuannya. Lagi pula anjing-anjing itu tidak cukup pintar, tidak bisa membedakan mana bangkai atau daging segar. Di mata anjing-anjing itu halal dan haram setipis mata silet, yang penting itu berasal dari tuannya.

Anjing-anjing itu tidak sadar bahwa Tuan mereka sangat mudah untuk membuang mereka dan menganti mereka dengan anjing-anjing lain yang oleh Tuannya dinilai lebih setia dan lebih kuat, dan lebih cerdas. Di mata Tuannya, mereka hanyalah anjing penjaga, tidak lebih. Sebagai anjing penjaga, Sang Tuan akan mencari aning-anjing yang loyalitasnya sampai mati, bukan setengah mati. Tapi, itu saja tidak cukup, harus juga sebagai anjing petarung, yang tidak peduli bertarung dengan siapa pun, dan tidak mempertanyakan mereka bertarung buat apa.

Sang Tuan itu sangat elegan, selalu bermain cantik di hadapan musuh-musuhnya. Tapi, anjing-anjingnya tidak pernah mengerti apakah itu taktik atau startegi. Tuannya bisa ngopi bareng dengan musuhnya, berbincang-bincang hingga malam suntuk. Tapi, anjing-anjingnya terus disuruh menggonggong. Bahkan, satu ketika ada anjing yang disuruh menyerang musuhnya. Anjing itu adalah anjing paling senior dan paling setia, yang diberi kandang khusus oleh sang Tuan.

Anjing bodoh dan malang itu pun langsung saja menyerang musuh sang Tuan. Ketika anjing itu berhasil menggigit musuh sang Tuan, ternyata sang Tuan langsung menyuruh anjing-anjing lainnya membunuh anjing itu.

“Bunuh saja anjing itu! Anjing itu anjing gila, bukan anjing saya, dan saya tidak tahu kenapa anjing itu ada di kerumunan anjing-anjing saya!” kata sang tuan kepada musuhnya sabil tersenyum dan menggandeng masuk sebuah café untuk ngopi bersama.

Tamsela, September 2017

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

One thought on “Anjing-anjing Penjaga

  • September 15, 2017 at 7:19 am
    Permalink

    Buldog….

    Reply

Tulis tanggapan anda:

%d bloggers like this: