Antara Penceramah dan Pelawak 

Antara Penceramah dan Pelawak

Oleh : Didi Suheri
Seringkali manusia terjebak dalam makna rangkaian ayat yang mengalun dan mendayu-dayu di kitab suci. Terbuai sehingga lupa akan esensi dari perintah-NYA. Para pencermah sibuk berceramah dari panggung ke panggung, dari satsiun TV ke stasiun TV lainnya, seolah berdakwah model seperti ini telah menjadi peluang usaha yang menggiurkan, orang-orang seperti itu apakah tidak disebut penista agama ?

Firman Tuhan dia obral kesana-kemari dengan tarif yang telah ditentukan, mungkin.

Masyarakat dikampung suka ngepoin ketika saya habis selesai mengikuti acara maulid nabi atau Isro mi’roj, berhubung saya warga NU jadi tidak jadi soal dengan maulid nabi, oh iya di NU juga mungkin ada 3 golongaan, ada NU garis keras, NU garis lurus dan NU garis lucu. Nah kalau saya mungkin masuk kategori yang ke 3. Karena saya tidak pernah ikut Aksi Bela Islam yang berjilid-jilid, dan saya juga bukan jebolan pesantren yang paham ilmu ini, ilmu itu. banyaknya sih saya belajar kepada alam raya ini (kehidupan).
“Di, gimana tadi penceramahnya rame ga ?” tanya salahsatu warga

Saya terdiam sejenak dan berfikir, “ko ini orang nanya gitu, apa maksudnya yaa?” tanya saya dalam hati
“Kenapa emang Bu ?” saya balik bertanya
“Kalau penceramahnya rame, nanti Ibu mau panggil lagi, buat acara maulid di masjid ini, tapi kalau bikin ngantuk ceramahnya, enggak deh, mau nyari yang rame aja.” jawabnya
Maklum yaa kalau warga NU dikampung seperti itu, karena memang dikampung masih banyak NU abangan, mereka tidak tau NU itu apa, sejarahnya seperti apa, dia berani mengatakan dirinya NU karena sering ikut tahlilan, NU sudah seperti agama di kampung itu, kalau ada warga yang tidak tahlilan pasti anggapannya dia Muhammadiyah, beda agamanya dengan kita padahal kan itu hanya ormas, tapi sekarang sih Muhammadiyah juga udah mulai ada yang tahlilan.

Masyarkat di perkampungan tidak cukup berilmu tapi mereka patuh dan taat pada “pamarentah” orang kampung bilangnya.

Orang kampung tidak ada niat sama sekali ingin mendirikan negara islam, mari kita amati seksama, kebanyakan faham radikalisme tersebar di wilayah perkotaan yang notabene Industri bukan dari pelosok desa.
Kembali ke persoalan dakwah, saya tidak tahu sejak kapan masyarakat berpikir bahwa dakwah itu harus rame, mengundang gelak tawa yang membuat mata melek tidak ngantuk, hal ini telah mengakar di benak masyarakat, karena permintaan masyarakat akan penceramah yg lucu itu tinggi, maka para penceramah pun harus mengolah skill ngelawak bila perlu ikut kursus, tak heran hari ini banyak penceramah-penceramah ngasal, asal lucu tak peduli isi ceramahnya berisi atau tidak, yang penting bisa menghibur. Dan dapat uang saku, kalau ngga gitu takut ga pada makan anak-istrinya dirumah. Ko ustad atau kiyai masih saja takut ga dapat makan. Hehe

Dakwah yang disampaikan pun akhirnya tidak memberikan efek yang positif kepada masyarakat, setelah pulang, mereka lupa lagi apa yang di sampaikan pak ustad. Karena saat ikut pengajian, kebanyakan pada sibuk pamer baju dan perhiasan, biasanya itu kelakuan ibu-ibu.
Sok perhatikan materi yg disampaiakn penceramah, pasti materinya itu-itu aja dari panggung ke panggung, jarang sekali mengajak umat untuk bagaimana caranya beragama yang baik ditengah globalisasi ini,yaa intinya ke wilayah-wilayah sosial lah.

Karena tidak cukup soleh ritual saja, harus memiliki juga kesolehan sosial.

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: