Apa Motif Syaikh A. Khotib Minangkabau Mengirim Santrinya Ke Mesir?

Ulama Nusantara di Timur Tengah juga mempunyai peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Syaikh Ahmad Khotib dari Minangkabau.

Hal ini menjadi tema diskusi menarik dalam kajian Turats di Islam Nusantara Center (INC), bersama A. Ginanjar Sya’ban dan Gus Milal Bizawie. Sabtu, 29/7/17.

Syaikh Ahmad al-Khatib Minangkabau termasuk ulama besar Nusantara di Mekah. Beliau sezaman dengan Syaikh Mahfudz Termas, Syaikh Ahmad Fathoni dan Syaikh Mukhtar Atharid dari Bogor. Menjadi guru para ulama Nusantara seperti Mas mansur, Kiai Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari dan termasuk Kiai Nur Halim.

Gus Milal mengatakan bahwa Kitab-Kitab Syaikh Ahmad al Minangkabau memang tidak secara langsung membahas nasionalisme. Tapi ia mempunyai misi ketika mengirimkan santri-santrinya ke Mesir agar menimba semangat nasionalisme yang saat itu menguat di Mesir.

Sehingga terbitlah majalah untuk menyuarakan ide-ide nasionalisme.

“Motif yang dilakukan Syaikh Ahmad Khotib mengirim santrinya ke Mesir, saya pikir untuk menimba semangat nasionalisme..” ujar penulis Masterpiece Islam Nusantara ini.

Analisa tersebut diperkuat oleh Ahmad Ginanjar. “Mesir menjadi salah satu pusat gerakan pelajar Indonesia yang menggelorakan kemerdekaan. Ini bisa disimak dari dua majalah.” katanya.

Majalah tersebut adalah pertama, Seruan Al Azar (1925-1927) yang ditulis dalam Arab pegon berbahasa Melayu.  Diterbitkan oleh Thohir Jalaluddin, Mahfud Yunus, Idris Marbawi, dll Kedua, Majalah Merdeka. 

Dua majalah ini, lanjut Ginanjar, saling berkorespondensi dan berkomunikasi dengan majalah yang ada di Belanda, bernama Bintang Timur. Mereka saling bertukar gagasan dan pikiran bagaiman memerdekakan bumi putra.

“Semangat kemerdekaan ini terus diperjuangkan oleh para murid Syaikh Ahmad Khotib Minangkabau. Dengapa apa, dengan melobi para pejabat kerajaan mesir.” tandasnya.

Perdana menteri saat itu Nukrashi Pasya sering berkomunikasi dengan Ahmad Rosyid, yang akhirnya memberitakan bahwa ada negara muslim yang besar di India Timur bernama Indonesia. 

Akhirnya Nukrashi Pasya dan sekjen liga Arab mengkampanyekan di koran-koran. Mesir, atas perjuangan murid-murid Ulama Nusantaran ini, sampai membawa wacana kemerdekaan Indonesia ke sidang liga Arab. 

Dan Liga Arab mendukung penuh, dan berhasil menekan PBB. Sampai PBB menekan Belanda agar menghentikan agresi militernya. Makanya kemerdekaan Indonesia pada 1949, merdeka secara total. 

Ini menarik, bagaimana santri dari Nusantara memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di tanah pengasingan.

“Tentang nasionalisme syekh Ahmad Khotib sangat jelas sekali tracknya”, pungkas dosen Turats STAINU, yang juga Direktur INC ini.