Argumentum Ad Hominem

Sesat pikir (logical fallacy) masih menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian besar manusia Indonesia. Hal ini mesti segera terselesaikan, agar kita bisa menjadi bangsa yang lebih bermartabat. Menyatakan sesuatu atau mengeluarkan pendapat, tidak boleh sembarang. Karena dengan itu, sesungguhnya orang lain dapat memahami kualitas diri kita. Terlebih, soal kemampuan daya berpikir dan tata logika yang kita miliki.

Jangan sampai, kita menjadi bahan olok-olok karena bicara yang tak sesuai dengan konteks persoalan. Di lingkungan sekitar, kita akan menjumpai orang-orang yang memiliki daya nalar sangat rendah. Sehingga, terkadang tidak nyambung saat diajak debat atau diskusi. Sebenarnya hal itu bukan hanya disebabkan oleh tingkat pendidikan formal yang rendah, tetapi juga mungkin karena racun indoktrinasi sudah tertanam kuat di dalam otak.

Kita sering melihat fenomena bahwa hampir sebagian besar masyarakat, memiliki sifat kagetan. Kemudian responsif. Karena kaget dan langsung merespon, maka hasilnya pun sangat jauh dari nilai kebaikan dan estetika. Segala sesuatu yang instan, dadakan, dan tiba-tiba sangat berpotensi menimbulkan penyakit. Nah, instan dalam bersikap dan berpikir, akan menjadikan akal tak sehat. Kalau akal atau tata logika sudah sakit, seluruh laku dan gerak akan rusak. Sila buktikan sendiri.

Amat, pemuda ndeso yang gandrung terhadap dinamika dan dialektika di kampungnya memiliki kecenderungan sebagai penikmat kegaduhan di internet. Ia seringkali menemukan hal yang menurutnya aneh saat sedang berselancar di media sosial. Atau, keunikan saat menghadapi orang-orang di sekitar ketika menanggapi berbagai isu kekinian.

Mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan ternama di Indonesia ini aktif menulis. Siapa pun diserang karena dianggap menyimpang. Semua orang diberi apresiasi sebab karya yang sudah dicipta. Ia tak segan menghantam dan memuji. Semua dilakukan atas dasar objektivitas. Begitu, logika Amat bekerja.

Di kampus, Amat terkenal sebagai kritikus andal. Berdasar data dan fakta. Bahkan, dirinya berani mempertaruhkan status mahasiswanya kalau di kemudian hari terjadi kisruh yang berkelanjutan. Persetan dengan itu, ia tetap menulis. Atas nama idealisme, segala macam resiko siap diterima.

Ia pernah melancarkan kritik pedas kepada pihak kampus karena dianggap gagal dalam beberapa aspek. Salah satunya terkait fasilitas. Amat menganggap bahwa hampir setiap kebijakan kampus, tidak pernah melibatkan peran mahasiswa. Sehingga, timbul kesan bahwa perguruan tinggi yang dijadikannya tempat mencari dan menggali ilmu itu hanya sebagai ladang bisnis pendidikan. Pedas, memang. Tapi, seperti itulah tata logika Amat tersusun.

Karena terlanjur kesal, Amat menulis bahwa di gedung tempat pejabat kampus bekerja, terdapat iblis yang bersemayam. Selain itu, pembunuh berdarah dingin dan preman berdasi turut di dalamnya. Sebagai penyuka sastra, hampir seluruh tulisan yang ia terbitkan penuh dengan metaforik dan kiasan. Sehingga banyak orang awam yang salah tafsir. Gagal paham atau –menurut Amat– pahamnya yang salah.

Sehari setelah menulis, ia kaget bukan kepalang. Namanya menjadi buah bibir dan cibir beberapa pihak. Banyak yang tidak suka dengan tulisan pedasnya. Sampai-sampai, di ruang kelas di setiap fakultas, namanya menjadi pergunjingan halal yang mesti didiskusikan. Bahkan, tak jarang ia dihubungi; berupa pesan singkat atau telepon. Ancaman datang bertubi. Ajakan pertemuan untuk diskusi dan berdebat silih berganti.

Tapi ia tak gentar. Sebagai pemuda dewasa, Amat siap menanggung konsekuensi yang ada. Ia mesti lakukan konfirmasi dan klarifikasi. Maka, ia temui semua orang yang ingin mengajak diskusi. Direspon sangat cepat saat ada pihak yang menyoal tulisannya. Ia datangi dan tanggapi secara bijak segala sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

Usai berdiskusi dan menemui berbagai pihak yang berkeberatan dengan tulisannya, Amat menyendiri di kantin kampus. Ia berpikir sejenak. Semacam mengulang memori pelajaran logika saat masih menjadi mahasiswa di semester awal. Seketika dalam perenungannya, ia teringat sebuah kata kunci. Yakni, ‘sesat pikir’.

Saat tiba di rumah, ia membuka layar smartphone-nya. Kemudian Amat mencari kata kunci ‘sesat pikir’. Tak lama, muncul banyak sekali artikel yang membahas soal itu. Secara acak, Amat meng-klik salah satu tautan yang ada. Dia membaca dengan sangat hati-hati dan saksama. Amat ingin belajar lebih dalam lagi agar mampu bersikap bijak dan dewasa dalam menghadapi pernyataan riuh-gaduh yang tercipta karena tulisannya.

Ketika itu, Amat baru tahu ternyata ada 5 kategori sesat pikir yang seringkali digunakan orang Indonesia dalam mengomentari pernyataan orang lain. Pertama, Appeal to Belief. Yaitu, sesat pikir mengenai argumentasi yang digunakan untuk mendukung atau menolak sesuatu didasarkan pada kepercayaan personalnya; pernyataannya subjektif.

Kedua, Argument from Adverse Consequences. Yakni, ketika seseorang merasa bahwa dirinya harus benar dalam perdebatan. Karena kalau ia tidak benar, maka hal-hal (yang ia percaya) tidak baik akan menjadi konsekuensinya. Karena itu, lawan debat harus berada di posisi salah menurut standar yang ia pakai.

Ketiga, Bandwagon Fallacy. Yaitu, saat seseorang mendasarkan argumen pada arus mayoritas pendapat yang ada. Hal ini, seringkali terjadi, karena terkadang suatu fenomena telah mendapatkan label kebenaran secara luas, meskipun kebenarannya belum terverifikasi. Dalam hal ini, media juga berperan penting dalam membentuk opini publik sehingga masyarakat menjadi sesat pikir ketika menganalisa peristiwa.

Keempat, Genetic Fallacy. Yakni, saat argumetasi didasarkan pada asal-usul dari hal yang diperdebatkan. Titik kesalahan dari cara berfikir ini adalah, mengambil generalisasi dari satu hal dan menggunakannya untuk menganalisa hal lain yang tidak memiliki korelasi.

Kelima, Ad Hominem. Yakni, lebih kepada menyerang individu daripada argumentasi yang harusnya diperdebatkan. Karena di Indonesia, budaya men-judge dan memberi stigma kepada lawan debat masih sangat sering terjadi. Dan, seringkali poin dari sebuah perdebatan tidak berakar pada argumentasi yang empiris, melainkan serangan terhadap individu.

Setelah tahu kelima jenis sesat pikir. Amat tertarik mempelajari poin terakhir. Karena selama ini, orang-orang masih sangat senang untuk menyerang pribadi seseorang daripada melawan dengan argumentasi yang lebih logis dan masuk akal. Kemudian Amat kembali melanjutkan pembelajarannya di internet. Ia mencari dengan kata kunci Ad Hominem. Alhasil, ditemukannya tiga kategori dari salah satu jenis sesat pikir itu.

Pertama, Abusive ad Hominem. Sebuah bentuk argumentasi yang dikemukakan bukan untuk menyerang pernyataan lawan debat, tapi argumentasi itu justru ditujukan pada pribadi lawan debat yang mengemukakan pernyataan.

Kedua, Circumstantial ad Hominem. Argumentasi yang dikemukakan bukan untuk menyerang pernyataan lawan debat, tapi argumentasi itu justru ditujukan kepada hubungan antara pribadi lawan debat yang mengemukakan pernyataan dengan situasinya.

Ketiga, Tu Quoque ad Hominem. Sebuah argumentasi untuk menyerang lawan debat yang ditujukan kepada persoalan bahwa orang tersebut tidak menjalankan apa-apa yang telah disampaikan.

Usai belajar dari Mbah Google, Amat mulai pusing. Namun ia berkeyakinan, bahwa sudah ada ilmu yang mengisi ruang kosong di otaknya. Menurut Amat, Argumentum Ad Hominem jenis ketiga ini masih sering ditemui di tengah kehidupan masyarakat.

Keesokan hari, Amat mendiskusikan secara gamblang kepada teman-temannya di kampus mengenai kesesatan dalam berpikir. Kemudian, masing-masing orang atau lawan bicaranya ia tanya, “Coba yuk, kita introspeksi. Kira-kira jenis kesesatan berpikir yang mana yang sering, telah, atau sedang kita lakukan?”

 

Wallahu A’lam

Aru Elgete

Jatimakmur, Bekasi, 29 September 2017

Aru Elgete

Aru Elgete

Pecandu nona manis si penikmat kopi pahit. ☕

Tulis tanggapan anda: