Asa Itu Selalu Ada. 


Namanya Sudiarto. Usia 31 jalan 32 tahun. Pemuda asli Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Banyuasin III. Orangnya pendiam, santun  dan cekatan. Dia dari suku asli Banyuasin, walau nama dan kulitnya kayak orang Jawa. Pekerjaannya…..KEPALA DESA. 

Sudiarto terpilih secara aklamasi dalam pilkades lalu dengan mengalahkan 5 tokoh senior di desa itu. Desa Tanjung Tiga berpenduduk sekitar 2000 jiwa. Desa ini tidak memiliki akses jalan darat, jadi sungai Musi menjadi nadi kehidupannya. Mata pencarian pokok warganya adalah petani padi ladang dan nelayan sungai. Speed boat menjadi moda transportasi utama. Fasilitas umum dasar yang ada baru SD, Puskesdes, Masjid,  MCK umum yg sangat terbatas. 
Dengan Anggaran Dana Desa yang diterimanya, Sudiarto membangun menambah fasilitas MCK di desanya, fasilitas pengolahan air bersih (filter air Musi), speed boat untuk mengangkut warga masyarakat terutama anak-anak untuk berangkat sekolah selevel SMP di Pangkalan Balai dan yang paling menggembirakan bagi saya adalah membangun PAUD untuk desa itu. Semua aktifitas itu adalah janji kampanye yang dengan cekatan dan dikawal ketat untuk diwujudkan. “Karena kami beruntung sekarang desa bisa maju, Yuk (mbak)”, ujarnya kepada saya. 
Yang menjadi keinginannya saat ini adalah membuka jalan darat ke Desa Rantau Bayur, dengan jembatan melintas Sungai Pangi (anak sungai Musi) sejauh 80 m saja, tetapi berhadapan dengan masalah pembebasan tanah dari desa tetangga.  

Hal inilah yang dia utarakan ke Pak Asko untuk dirembug bersama. Harapannya anak-anak Desa Tanjung Tiga bisa lebih mudah melanjutkan SMP hingga SMA. Semua anak Tanjung Tiga harus tamat wajib belajar 9 tahun adalah tekadnya. Sehingga, dengan  keikhlasan melayani warganya, setiap pagi Pak Kades muda ini menyupiri sendiri speed boat milik desa untuk mengantar warganya sekolah SMP-SMA. Semata mengingat pengalamannya menyelesaikan SMA nya dulu. “Saya itu pengin melanjutkan kuliah, Yuk. Tetapi tugas saya disini belum selesai. Kalau jalan sudah terbuka. Baru bisa tenang saya.”

Sungguh saya beruntung bertemu orang-orang hebat dan tulus melayani warga sekitarnya seperti ini. Semangat melayaninya tak tanggung-tanggung. Dengan sigap pun dia mengantarkan rombongan kami ke desa tetangga Tanjung Pasir dengan menyupiri sendiri speed boat dengan laju yang kencang dan lancar. Bagi saya ini bukti nyata bagaimana dia mengenali daerahnya hingga ke seluk beluk. Bahkan saat menyandarkan speed boat ke dermaga pun dilakukan dengan sangat cekatan. 
Perjalanan ini meyakinkan saya bahwa asa itu selalu ada. Dalam diam, jauuuuuuhhhhh diluar radar sosmed dan media. Karena ada di pelosok Sumatera Selatan yang hanya 1 jam penerbangan dari Jakarta tetapi hampir 5 jam dari Palembang, kombinasi jalan darat dan speed boat. Sangat tidak menarik bagi para buzzer-buzzer politik yang lagi nge-hits sekarang, gak seksi bo! 😁
Ada sosok-sosok yang bekerja merawat Indonesia yang bukan hanya Jawa, Jakarta apalagi pilkada. INDONESIA TOO BIG TO FAIL. Ketika iseng saya tanya pendapat Pak Sudiarto ini tentang Pilkada Jakarta…jawabnya cuma satu. GAK TERTARIK, YUK! 😎

Tulisan: Arum Kusumaningtyas. 

#myjourney #workingmom #creativehead #indexpolitika #banyuasin #ceritaindonesia #wonderfulindonesia

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..