Asbak Kiai Sutara

Semalam saya sowan ke ndalem Kiai Sutara. Seperti biasa, beliau baca kitab kuning. Belajar dan bekerja tak lepas dari kehidupan kiai yang hafal Qur’an dan ahli tata bahasa Arab ini. Beliau menguasai nadhom “Alfiyah”-nya Ibnu Malik, Relativitas Einstein, kerangka berpikirnya Jacques Derrida. Kiai Sutara fasih melantunkan kitab Barzanji sefasih melantunkan “Loveless Love”-nya Sidney Bechet.
Malam itu, Kiai Sutara memutar lagu-iagu Sidney Bechet bersama kopi pahit, menyedot rokok, sambil membaca sebuah kitab kuning, “Fushus al-Hikam”-nya Ibnu Arabi.
“Assalamu’alaikum, Kiai,” saya masuk. Sungkem.
“Duduk!” ujar Kiai Sutara.
“Musik apa ini, Kiai?”
“Bechet.”
“Maksudnya, Kiai?”
“Santri goblok! Bechet nama orang, bukan nama kambing!”
“Oh! Sepertinya bukan musik islami, Kiai?”
“Apa?!”
Kiai Sutara menutup kitab “Fushus al-Hikam” di mejanya. Menyalakan lagi rokoknya, menyedot dalam-dalam, menghembuskan asap tebal ke ruang tamu rumahnya yang dindingnya dihiasi wayang Punakawan. Nampaknya beliau merasa terganggu dengan ucapan saya soal “musik yang tidak islami” itu.
“Ampun, Kiai, kalau ada ucapan saya kurang berkenan di hati junjungan,” kata saya berhati-hati. Menundukkan kepala dalam-dalam.
“Astaghfirullah! Otakmu persis kerbau. Apa Islam?” Kiai Sutara menggebrak meja, “jawab!” lanjutnya. Saya kaget.
“Ngapunten, Kiai,” ujar saya gugup.
“Puntan-punten! Kebo! Hanya kebo yang tidak tahu arti suara yang keluar dari mulutnya. Jawab! Apa itu Islam?”
“Ampun. Islam adalah agama, Kiai.”
“Kebo! Semua orang tahu kalau Islam itu agama. Kambing juga tahu!”
“Ngapunten, Kiai.”
“Kamu harus tahu apa ciri-ciri utama Islam, supaya kamu dapat membedakan mana yang islami dan mana yang tidak islami. Agar tidak ngawur mulutmu yang seperti kambing!”
“Ciri utama Islam adalah “alladzina yu’minuna bil-ghaibi”; beriman pada Dia yang mahagaib, “wayuqimunas shalata”; mendirikan salat atau kebajikan, dan “wamimma razaqnahum yunfiqun”; berbagi rejeki atau mengentaskan penderitaan sesama.”
“Imanmu pada Dia yang mahagaib dan kebajikan salat itu tak dapat dibuktikan, karena itu sangat pribadi. Hanya “wamimma razaqnahum yunfiqun” yang dapat dibuktikan. Kalau kamu mampu, tapi “pelit bin kikir pait” dan tak tergerak mengentaskan, setidaknya, meringankan derita sesamamu, jangan ngaku Islam mumpung belum saya suruh makan rumput mulutmu.”
“Orang kaya naik haji, umrah, salat, zakat, puasa itu wajar. Murah meriah, bahkan gratis! Tapi, jika ia tidak berbagi rejeki, “pelit dan pait”, jangan ngaku orang kaya yang Islam. Karena otaknya otak Abu Jahal, bapaknya ketololan. Kalau kamu jadi orang kaya, tapi kikir, lebih baik gak usah ngaku Islam dan gak perlu mencari Allah. Munafik itu! Tuhan dan agama kok dijadikan hobi.”
“Ampun, Kiai.”
“Islam bukan musik, lagu, pakaian, bukan semua itu. Islam adalah ruh, tak tampak. Tapi, penggerak apa saja keluhuran. Bahkan sehelai daun yang melambai oleh angin adalah islami. Musik apa pun yang dapat membangkitkan kesahduan hatimu kepada Allah, itu islami. Mau dangdut atau jazz. Terserah! Jenis hanya identitas dari keniscayaan keanekaragaman manusia.”
“Walau pakaianmu putih dan lagumu berbahasa Arab, tapi tidak membangkitkan dirimu untuk berpikir dan berbuat baik pada sesamamu, itu bukan islami. Tapi, Abu Jahal si guoblok, yang mengusir Nabi dari Mekkah.”
“Tirakat” atau “jalan ibadah”-nya orang goblok sepertimu adalah belajar, berpikir, bekerja, tak bermalasan, tak menyandarkan hidup pada takdir tanpa ikhtiar.”
“Dan “tirakat”-nya orang kaya atau mapan adalah berbagi rejeki, mengentaskan atau meringankan derita sesama, bukan cuma zakat yang 2,5 persen, bukan “mbulet” mencari-cari Allah dan mengorek rahasia-Nya. Kedermawanan menjadi ilmu dan hikmah. Kekikiran itu najis nyebut nama Allah yang mahasuci dan tak pantas menyebut Nabi Muhammad yang luhur, agung, dan dermawan, yang memberikan semua jatah makannya dalam 3 hari bagi orang yang lapar dan tertindas.”
“Mengerti, santri kebo?”
“Ngapunten. Mengerti, Kiai.”
“Mengerti itu mudah! Saya tidak bertanya pada pengertianmu. Tapi, penerimaan hatimu. Tak ada gunanya mengerti, tapi hatimu tidak menerima dengan tulus segala pengertian. Seperti batu yang susah diproses kecuali dipecahkan. Kalau belum juga dapat menerima pengertian-pengertian, aku perintahkan kamu “tirakat” makan rumput seperti kambing dan kebo, karena otakmu tak jauh beda dengan hewan ternak.”
Saya diam. Sebagai santri, saya menunduk dalam-dalam.
“Gimana, sanggup “tirakat” makan rumput?” tanya Kiai Sutara sambil menghembuskan rokoknya.
“Ampun, Kiai. Tidak sanggup,” jawab saya cengengesan, garuk-garuk kepala.
“Kalau tidak sanggup, apa minta dipukul asbak saja kepalamu? Pilih mana, rumput apa asbak?”
“Waduuuh! Tidak sanggup kedua-duanya, Kiai,” jawab saya sambil memegangi kepala.
Kiai Sutara kepingkel-pingkel. Bersandar. Dari Mp3nya, lagu “Loveless Love”-nya Bechet yang asik mengalun tenang.
Muncar, 2016

Artikel ditulis oleh Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..