Awal Penyesuaian

Awal Penyesuaian

Malam semakin larut. Tak terasa jam menunjukan setengah sepuluh. Salikin berkemas untuk mengganti bajunya persiapan tidur. Ya…. mulai malam ini, Salikin harus tidur di atas ubin hitam yang mengkilap, karena sudah bertahun – tahun dijadikan landasan dasar untuk tidur para santri.

Untuk mengurangi dinginnya ubin, Salikin menghamparkan sajadahnya. Mulai malam ini, Salikin harus siap berbagi tempat dengan teman satu bilik, mengingat luas bilik dan jumlah penghuni yang tidak seimbang. Sesekali  dia juga harus rela dan sabar kalau ada kaki temannya yang tiba-tiba naik di kepalanya, sebab posisi tidur bisa berubah seiring pulasnya rasa tidur. Salikin juga harus membiasakan diri mendengar irama dengkuran teman-temannya yang seolah-olah bersautan.

Semakin larut tak terasa Salikin mulai terkantuk-kantuk dan akhirnya tertidur.

Serasa tak lama baru tidur, suara gemuruh mulai terdengar. Jebred….. jebred.. brag.. brug.. glodag.. glodag.. sayup – sayup terdengar ucapan, bangun.. bangun … subuh.. subuh..

Ternyata ada santri yang mulai membangunkan santri-santri yang masih tidur. Berangsur-angsur para santri mulai bangun menuju kolam mandi.

Salikin pun ikut bangun menuju kolam mandi. Alaa mak.. ternyata dikolam mandi Salikin harus antri dengan teman-temannya. Salikin baru melihat kenyataan hidup, ternyata untuk mandi, di pondok harus antri. Bahkan untuk berak pun, kalau suasana pagi hari harus antri.

Setelah melakukan aktifitas di kolam mandi, Salikin mulai berbenah untuk sholat jamaah subuh di masjid. Menunggu tibanya adzan subuh, Salikin ikut-ikut temannya sholat tahajud. Ini pengalaman pertama Salikin melakukan sholat tahajud. Boro-boro ketika di rumah sholat tahajud, untuk bangun subuh pun harus dengan perjuangan melawan kantuk. Sambil sesekali terkantuk, Salikin mencoba berdiri tegak untuk sholat tahajud walaupun hanya dua atau empat rokaat. Tak terasa adzan subuh dengan suara khas masjid, menandai waktu sholat subuh telah masuk. Salikin bersama teman biliknya segera berangkat menuju masjid  dengan berjalan kaki.

Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit, iqomat tanda sholat subuh akan dimulai dikumandangkan. Para santri, termasuk Salikin, berdiri segera membentuk shof. Takbirotul ihrom imam sudah terdengar, para makmum pun mengikuti. Gerakan sholat terus berjalan sampai akhirnya terdengar salam imam yang diikuti salamnya makmum. Para santri masih tetap ditempatnya mengikuti wiridan yang dibaca imam, sambil diawasi oleh pengasuh.

Wiridan pun selesai yang dilanjutkan bersalam salaman, dan ini kesempatan bagi para santri untuk mencium tangan para Kyai pengasuh pondok.

Salikin dan teman-temannya pulang ke bilik pondok. Ternyata di pagi hari ada kegiatan pengajian kitab kuning dengan ngapsahi. Salikin dengan tanpa kitab karena belum beli mengikuti pengajian. Jam enam seperempat pengajian selesai, Salikin langsung diajak temannnya ke rumah Ibu Nyai untuk sarapan pagi. Salikin masuk ke bagian dalam rumah Bu Nyai yang di situ sudah disiapkan tempat plus makanan yang telah disiapkan dalam wadah piring, serta minuman yang telah dijatah dalam gelas.

Setelah selesai sarapan, Salikin kembali lagi ke bilik untuk mempersiapkan diri berangkat sekolah. Jam menunjukan pukul tujuh kurang seperampat jam, Salikin langsung tancap berjalan kaki menuju sekolah. Yang jelas di sekolah Salikin terkadang terkantuk-kantuk karena di pondok mulai jam tiga sudah bangun. Itulah awal penyesuaian Salikin di pondok pesantren.

Tulis tanggapan anda: