Bagaimana Keterlibatan Perempuan Indonesia dalam Aksi Terorisme?

Aksi terorisme jarang sekali dilakukan oleh kalangan perempuan. Pertanyaan mendasarnya adalah Apakah Perempuan sudah terlibat secara aktif, hanya dijadikan objek saja, atau ada keterlibatan pasif?

Hal itu ditanyakan oleh Dr. Dzuriyatun Toyibah, saat memulai diskusi Islam dan Kebangsaan di Islam Nusantara Center (INC), 29/7/17.

Menjawab pertanyaan tersebut, Pembantu Dekan FISIP UIN Jakarta ini menjelaskan bahwa mereka para jihadis juga mendukung untuk mengarahkan perempuan dalam peran ini. Setidaknya mendukung secara mental aktivitas suaminya.

“Istri-istri bisa diharapkan untuk memotovasi aktivitas suaminya.” katanya. Dan yang paling penting adalah seorang istri teroris benar-benar menjaga anak-anaknya agar tidak terpengaruh oleh “musuh Islam”.

Selain itu, lanjut Toyibah, seorang ibu bertugas mentransmisikan ajaran jihad kepada anaknya. “Kenapa akhirnya perempuan boleh mengambil peran yang lebih ekstrim ?”, ia bertanya.

“Karena ada pengalaman-pengalaman pahit perempuan yang hidup di wilayah konflik. Dimana mereka juga mendapat teror”, jawabnya.

Keterlibatan perempuan dalam aktivitas terorisme memang lebih strategis. Karena tingkat kecurigaan kepasa wanita lebih kecil dibanding pria.

Bagaimana keterlubatan perepuan di Indonesia? Terkait ini, ia menjelaskan hasil riset terkait para istri teroris di Indonesia.

Ibah, sapaan akrabnya, mengatakan “Sebenarnya kalau dilihat dari tingkat keterlibatan perempuan Indonesia, masih minim”. Kebanyakan para istri tidak tahu tentang aktivitas suami.

Bahkan salah satu istri mengatakan “ini sudah takdir”. Ia percaya ditinggal suami yang mengaku berjihad. Bahkan yang menghidupi suaminya, yang mencari nafkah adalah istri.

“..Tidak mudah untuk perempuan Indonesia dipengaruhi dan terlibat ke aktivitas teroris. Karena mempunyai power kuat. Sementara saya menyimpulkan ini”, tandas Ibah.

Radikalisasi yang menimbulkan aksi terorisme, akan muncul jika ada faktor Pra-radikalisasi yang mendukung.

Seperti seorang anak nantinya bisa jadi teroris, apabila lingkungan keluarga, dan kondisi sosial-politik mendukung. “Seperti pelaku teroris bom bali, ketika kecil sering mendapat dongeng jihad peperangan dari ibunya.”, ujarnya.

 

Kalau kita lebih aktif menangani masalah ini akan sangat mungkin untuk diantisipasi.

Tulis tanggapan anda: