Baju

Suatu ketika, Mark Twain bergumam; “baju mencetak manusia.” Seseorang yang cuma memakai baju polos dan tak mahal, bagai dianggap “bukan manusia”. Artinya, manusia yang “tak berlabel”.

Bagi Twain, manusia dikurung simbol dan prototipe oleh baju yang dikenakannya, yakni simbol atau prototipe sosial, ekonomi, tradisi, bahkan agama.
Busana muslim disimbolkan dengan warna putih atau hijau. Serban, peci putih, dan jilbab. Sebagian, secara membabi buta, menumbuhkan jenggot mirip kambing dan jidat ngecap hitam. Segera agama dikurung oleh simbol-simbol itu. Musik-musik bernuansa Arab dianggap musik islami. Sehingga jangan heran jika agama kehilangan jiwa, jauh dari kenyataan dan persoalan kehidupan yang nyata. Yang tampak dari agama cuma simbol-simbol memuakkan, dimaterialisasikan dengan prototipe yang bukan esensi nilai agama itu sendiri. Menjelma iklan.
Dengan simbol-simbol yang bersifat “kulit” atau artifisial belaka itu, manusia tidak egaliter. Egalitarian yang sudah memfosil lantaran cuma sebuah kontruksi pikiran terhadap ingatan. Nostalgia gombal sejarah manusia.
Di surga, Adam dan Hawa telanjang. Tak memakai baju. Sehingga tak ada hirarki. Setara! Tetapi karena keduanya berdosa, keduanya diusir ke bumi. Di bumi, keduanya mengenakan baju karena malu terhadap dosanya.
Baju pun menjadi tanda aktual dari dosa manusia. Dan manusia memperindah bajunya dengan segenap pengorbanan yang melelahkan, bahkan peperangan. Menyembah atau memutlakkan simbol dan bentuk yang dibubuhkan pada bajunya.
Padahal sejatinya, baju sekadar menyadarkan manusia pada kemanusiaannya. Bahwa ia adalah makhluk berdosa. Baju menyadarkan manusia pada dosa atau, dengan perkataan lain, kelemahannya yang manusiawi. Bukan kebanggaan dan kecongkakan status. Manusia merasa “dipaksa” memakai baju. Tetapi juga memaksakan simbol atau status pada baju.
Sesungguhnya, baju merupakan “pembelaan” atau sebentuk pertobatan manusia terhadap dosa, kehinaan, kenistaan: kemaluan. Itulah mungkin kenapa kelamin lazim kita sebut kemaluan.
Tetapi, manusia selalu rindu untuk telanjang. Meskipun ketelanjangan dan pamer kelamin dalam pornografi maupun dengan baju-baju ketat dan sebagian terbuka dirayakan sebagai kebebasan, peradaban tetap mentabukannya meski tanpa suara yang tegas. Bahkan seringkali apatis.
Banyak orang yang suka telanjang, apakah dengan motif merayakan kebebasan diri ataupun pornografi. Lebih banyak lagi orang ingin telanjang, namun mereka tak berkuasa atas tubuhnya. Sehingga mereka tidak telanjang di tengah ramai. Buktinya, model seronok dan ponografi menjadi industri raksasa di dunia yang diminati orang ramai. Orang-orang senang melihat orang lain telanjang bulat dan bermain-main riang dengan kelaminnya. Tetapi mereka juga memendam iri hati; kenapa dirinya tak bisa merayakan ketelanjangan, merayakan sifatnya yang paling azasi? Kawan saya mengatakan, betapa asik telanjang bersama istrinya sambil bercakap-cakap perihal apa saja di dalam rumahnya tanpa terganggu, sebelum akhirnya ketelanjangan itu ditutup dengan percintaan yang liar.
Bentuk baju tidak azasi. Tetapi, fungsi baju itulah yang penting. Simbol nilai. Bukan simbol agama dan status. Bukti kenistaan, kehinaan, dan perasaan penuh dosa. Sejatinya, baju menjadi penutup malu dan aib diri. Dengan demikian, ia menampakkan perilaku baik sebagai konsekuensi dari “kutukan” mengenakan baju. Sebentuk pentingnya sikap kemanusiaan yang tak cuma merayakan kebebasan, tetapi juga membebaskan. Membebaskan penderitaan diri dan sesamanya dari dosa. Betapa kejamnya manusia yang merayakan kebebasan, namun tak tergerak untuk membebaskan.
Di hari-hari menjelang lebaran ini, orang-orang membeli baju baru. Kenapa lebaran harus membeli dan mengenakan baju baru? Bukankah tak ada perintah dan anjurannya di dalam agama?
Tetapi sudahlah. Orang-orang yang hanya dapat membeli baju baru buat berlebaran tanpa kesadaran kemanusiaan, ia merayakan kebebasan simbol dan status. Omong kosong dan kecongkakan. Namun, betapa mulianya jika dengan kesadaran ia dapat membebaskan penderitaan sesama yang tak dapat membeli sekadar baju baru. Kawan saya menangis karena hanya dapat membelikan sepotong baju baru yang sangat murah bagi putrinya yang masih kecil.
Saya teringat doa dalam karya Hamka.
“Tuhanku, orang bertanya; di hari raya, mana baju baru yang telah kau persiapkan? Aku menjawab: bajuku indah pemberian Kekasihku. Dua helai baju, yakni kefakiran dan kesederhanaan. Adakah yang lebih indah dari dua helai bajuku itu, yang kukenakan di hadapan Kekasihku dengan rasa syukur dan tersipu-sipu malu? Tuhan, Kekasihku, tak ada keriangan hari raya jika tak ada wajah-Mu di sana.”
Di malam-malam menjelang lebaran ini, hanya anak-anak dan yang menderita menjadi beban pikiran dan kegelisahan Rasul siang-malam. Dengan bergetar, beliau berpesan: “Tak ada hari raya dan tak ada puasa yang diterima dalam hati-Nya, jika anak-anak dan orang-orang yang menderita itu tidak berbahagia.”
Kampung Ujung, 2016

(Artikel ditulis oleh Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..