Banyak Anak Banyak Rezeki

“Jancuk! Biar begini juga aku masih percaya Tuhan Juk! Aku ga mau kaya dengan cara pesugihan macam begitu.”
“Sebagai kawan aku kan hanya memberi saran Him, belakangan ini kan kau selalu mengeluh gaji guru honorer tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.”
“Tapi aku ga mau seperti itu Juk. Lagi pula aku punya cara sendiri untuk kaya, tentunya cara ini yang lebih pasti dan lebih modern. Empat bulan lagi setelah SK PNS kita turun aku akan jadi orang kaya.”
***
Ibrahim bekerja sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar pinggiran kota. Di tengah melonjaknya harga sembako dan kebutuhan hidup lainnya tentulah gaji sebagai guru honorer sangat sulit untuk mencukupi semua kebutuhan istri dan dua anak angkatnya. Akan tetapi bagaimanapun cukup tidak cukup semua itu harus cukup. Segala cara ditempuh untuk menjaga agar dapurnya tetap ngebul. Juminah, istri Ibrahim pun ikut membantu mencari tambahan pemasukan dengan berjualan nasi uduk.
Hari ini Ibrahim tampak lebih semangat dari biasanya. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan membantu Juminah membuka warung nasi uduknya. Setelah itu ia langsung berlari-lari kecil dan melakukan gerakan senam. Jam masih menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh. Juminah keheranan melihat tingkah suaminya yang lain dari biasanya.
“Ada apa, Bang, kelihatannya Abang lebih bersemangat hari ini?”
“Ah, kau ini kayak ngga tau aja, Jum. Hari ini kan hari Senin yang kita tunggu-tunggu itu. Hari ini SK PNS-ku turun!”
“Oh, syukurlah bang. aku seneng dengernya. Oh iya, Bang kalo SK PNS-mu turun selain gajimu naik ada apa lagi sih, kok abang selalu menjanjikan kita akan segera kaya kalo SK PNS-mu itu turun.”
“Ah sudah kau tak perlu tahu rencanaku, pokoknya kita akan kaya, Jum.”
Pukul delapan pagi setelah upacara selesai, Ibrahim, Marjuki, dan beberapa guru honorer lainnya dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di sana, kepala sekolah memberi sepatah kata pembuka dan ucapan terimakasih atas pengabdian para guru honorer serta memberikan selamat atas diangkatnya mereka semua menjadi guru PNS. Setelah itu satu persatu guru diberikan sebuah map berisi surat ketetapan pengangkatan menjadi PNS.
Bukan kepalang, alangkah bahagianya Ibrahim melihat surat itu. Hampir saja ia meloncat-loncat kegirangan kalau dia tidak sadar sedang berada di ruangan kepala sekolah. Marjuki yang memang kawan Ibrahim sejak masa SMA tentu sedikit aneh melihat wajah Ibrahim yang tampak lebih semringah dari biasanya. Rasanya baru sekali ini ia melihat Ibrahim segembira itu.
Sepulang sekolah di parkiran Marjuki menyakan hal apa yang membuat Ibrahim tampak bahagia sekali. Namun Ibrahim hanya menjawab, aku akan segera kaya Juk, kemudian segera pergi memacu motornya secepat mungkin menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, ia langsung mencari Ismail, anak sulungnya.
“ Ayo ikut bapak, Mail!”
“Mau kemana, Pak?”
“Pokoknya kamu ikut aja. Kita beli rumah, mobil dan lainnya.”
Ibrahim langsung memacu motornya menuju kantor Bank Tabungan Negara. Di sana Ibrahim langsung menggadaikan SK PNS itu. Setelah selesai urusan di Bank Tabungan Negara, ia bersama Ismail langsung menuju perusahaan asuransi dan mendaftar asuransi untuk Ismail. Segala urusan di Bank Tabungan Negara dan asuransi telah selesai tetapi ternyata hari sudah sore. Ibrahim menunda niatnya ke dealer mobil dan kantor pemasaran perumahan dan apartemen sampai esok hari.
Keesokan harinya, Ibrahim meminta izin untuk tidak mengajar. Pagi-pagi sekali Ibrahim sudah berada di dealer mobil mewah bersama Ismail. Di sana ia membeli mobil dengan sistem kredit atas nama anaknya. Setelah selesai urusan di dealer mobil ia kembali memacu motornya agar segera sampai di kantor pemasaran perumahan dan apartemen. Di kantor itu juga Ibrahim langsung membeli dua apartemen dan satu perumahan atas nama Ismail. Setelah membayar semua DP dan biaya asuransi, uang hasil menggadaikan SK PNS-nya tersisa beberapa belas juta lagi digunakan untuk membeli pakaian untuk Ismail, Juminah dan Ratna anak bungsunya.
Hari sore lagi, Ibrahim dan Ismail kembali pulang ke rumah. Di sana sudah nampak sebuah mobil mewah terparkir rapih di depan rumah. Wajah lelah Ibrahim dan Ismail berganti ceria melihat mobil itu ada di depan rumahnya.
“Bukan main cepat sekali mobil ini sampai.”
“Iya, Bang, kata orang dealer ini mobil kita, Abang yang membelinya. Abang dapat uang darimana?”
“Ah, nggak, ini cuma kredit. DP-nya dari uang hasil menggadaikan SK PNS-ku. Bukan hanya itu, aku juga mengkredit rumah dan apartemen. Aku bosan tinggal di rumah sempit ini.”
“Astaga, Bang! Abang kerasukan setan apa sih sampai kayak gini. Emang Abang ga mikirin nanti bayar cicilannya gimana?”
“Sudah tenang saja. Aku sudah memikirkannya dengan matang kok. Kan aku sering bilang, kita akan kaya. Ini rencanaku, Jum.”
“Ngga, Bang. Ini bukan kaya namanya tapi semakin miskin, karna kita sekarang banyak hutang.”
“Ah, kau ini sok tahu. Sekali waktu membahagiakan anak kan perlu, lagi pula seminggu lagi kan ismail ulangtahun anggap aja ini kado untuknya. Lihat mereka, senang sekali kan naik di mobil itu.”
Hari-hari berlalu, kini Ibrahim telah pindah ke perumahan mewah di kota. Sekarang ia pun kemana-kemana tidak lagi menggunakan motor. Ke sekolah, pasar, atau sekadar ke warung saja ia naik mobil mewahnya itu.
“Mail!” Seru Ibrahim. “Bapak, Ibu, dan Ratna berangkat duluan, ya. Mau dekorasi ruangannya dulu supaya pesta ulang tahunmu lebih meriah. Kamu nanti naik motor aja. Jangan lupa pakai pakaian yang bagus.”
Setelah berdandan Ismail bergegas pergi. Ia terlihat rapih sekali kali ini dengan balutan jas putih, sepatu hitam dan kacamata merk import. Segera dipacu motornya menuju lokasi acara. Rasanya sungguh ia tidak sabar ingin segera sampai ke acara ulang tahunnya yang baru kali ini dirayakan.
Dalam perjalanan ketika melewati jalan protokol kota terlihat jalan sedikit lengang. Ismail semakin bersemangat menambah kecepatan motornya. Ketika sampai di perempatan lampu jalan terlihat merah. Ketika hendak berhenti Ismail tiba-tiba kaget sebab semua rem motornya tidak berfungsi. Sementara di depan melintas sebuah mobil truk barang lewat, kecelakaan tidak bisa dihindari. Tubuh Ismail yang masuk ke kolong mobil sempat terseret sebelum akhirnya terlindas dua ban belakang kiri truk. Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian tersebut segera menolong. Namun sayang nyawa Ismail tidak bisa diselamatkan, ia tewas di tempat.
Seminggu setelah kematian Ismail, pihak asuransi memberikan dana asuransi sebesar satu setengah milyar rupiah. Sementara dua hari sebelumnya pihak dealer dan kantor pemasaran perumahan dan apartemen telah menghapus semua biaya kredit karena meninggalnya Ismail.
“Benar kata papatah, banyak anak banyak rejeki. kalo ga punya anak, ya tinggal adopsi.” Gumam Ibrahim sambil mengubur tang yang dulu dipakai untuk memotong tali rem motornya.

Baboh Lazurra

Baboh Lazurra

Penikmat Sastra, Penjual Buku, serta mahasisa fakultas dodol universitas swasta yang tidak mau disebutkan namanya.