Belajar ke Ulama dengan Merawat Tradisi Pesantren

Sudah lazim dan mentradisi di kalangan Pesantren, pengayaan pengetahuan di eksplorasi melalui kajian kitab kuning. Di manapun pesantrennya, utamanya di Pesantren-pesantren yang berhaluan di garis Nahdatul Ulama. dan juga tradisi Pasaran Kitab-kitab Kuning yang dibacakan langsung oleh para Kyai, Pengasuh Pesantren, Ajengan dan Guru-ngaji dan inilah tradisi yang harus dijaga dan dirawat secara bersama-sama dengan baik oleh para Santri dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, dan biasanya hal itu dilakukan bersamaan dengan Bulan Ramadhan atau bulan-bulan tertentu diluar rutinitas Pesantren atau mengambil hari libur Pesantren, dan di Ponpes Al Hikamussalafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta yang di Asuh oleh KH. Adang Baddrudin atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Cipulus, pelaksanaan nya memang agak berbeda Pasaran diadakan dibulan Syawal tepatnya setiap tanggal 5-15 Syawal rutin diadakan Pasaran Kitabain, yaitu Kitab Fatkhul Qorib dan Tijanuddarorry, yang menjelaskan dan mengkaji soal Fiqih dan ilmu Tauhid, dan ini sudah berlangsung 25 tahun lebih secara Istiqomah oleh Abah Cipulus yang juga sebagai Ketua Umum Forum Silaturrahmi Guru Ngaji (FSGN) Indonesia.

Peserta Pengajian Pasaran selain Santri mukimin di Cipulus yang sudah senior juga diikuti oleh Keluarga Besar NU dari Kader-kader Ansor, Fatayat NU, PMII, IPNU/IPPNU dan Santri-santri dari luar Ponpes Cipulus yang datang dari berbagai daerah sekitar Jawa Barat bahkan dari luar Jabar dan Luar Jawa juga ada yang datang yang sudah tau jadwal rutin nya, ribuan Santri yang sudah terbiasa ikut Pasaran Syawal di Ponpes Cipulus, ibarat Pedang harus diasah biar tetap tajam dan bisa digunakan dengan baik, kebanyakan juga sudah menjadi Ajengan, Kyai,  Ustadz atau pengasuh-pengasuh majelis dimasing-masing Daerah nya, mereka ingin belajar kepada Ulama, Ajengan Pesantren yang nasab keilmuanya juga jelas tidak seperti banyak kalangan yang mengaku Ustadz tapi belajarnya di medsos, hal ini untuk menghindari salah paham dan Faham yang salah.

Pesantren adalah lembaga Pendidikan non formal tertua di Negeri inu yang jelas punya kontribusi dan terus terlibat aktif dalam membangun Indonesia sebagai sebuah Bangsa, hal ini bisa dibuktikan banyak Alumni Pesantren yang terjun dalam banyak Profesi baik itu di Pemerintahan ataupun di swasta, dan Alumni Pesantren dijamin sangat Indonesia, kenapa demikian..?? karena di Pesantren disamping diajarkan tentang ilmu Agama juga diberikan pemahaman soal kebangsaan, Pandangan ber Negara, kebhibekasn dan keberagaman, bagaimana seorang Santri harus mencintai Tanah Air nya, (Hubul wathan mibal iman) Religius yang Nasionalis, Nasionalis yang Religius, demikian disampaikan H. Hadi M Musa Said, selaku Humas Pondok Pesantren Cipulus, menjadi Santri itu harus siap diterjunkan di Masyarakat dalam kondisi apapun untuk membantu Program-program Pemerintah dan sebaliknya juga memberi masukan/kritik pada Pemerintah kalau ada kebijakan yang tidak sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan Masyarakat, lanjutnya, 

Ponoes Cipulus sendiri berdiri sejak tahun 1840 M artinya jauh hari sebelum Indonesia Merdeka lembaga pendidikan model Pesantren ini sudah banyak di NUsantara dan ini menjadi cikal bakal model Pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini, jadi kalau Menteri Pendidikan mau memberlakukan Full day school (FDS) ini sama sekali tidak peka terhadap perkembangan Pendidikan Pesantren dan itu sama saja dengan mengorbankan dan membunuh Pendidikan Diniyyah yang banyak berdiri dilingkungan Pesantren, Menteri Pendidikan mungkin perlu belajar sejarah kembali bagaimana perjalanan sistem Pendidikan di Indonesia dengan segala keberagamannya.

Dalam pembukaan Pengajian Kitabain, Abah KH. Adang Badruddin, (Abah Cipulus) menyampaikan : bahwa tradisi Pesantren sekarang banyak yang sudah ditinggalkan, umat banyak yang jauh dari Ulama, karrna faktor duniawi, kesibukan pekerjaaan padahal siapapun Santri dan masyarakat yang Ingin Masuk Surga, ya Ikuti Ulama, Ulama yang betul-betul Ulama, kita di NU itu mengikuti Ulama sebagai guru-guru kita semua, “Ulama anu mawa,  urang anu milu” jadi Ulama yang membawa, kita yang mengikuti, “ibarat kita naik bus, kita ini jadi penumpangnya, yang jad Sopur nya Ulama, Kyai, Ajengan, penumpang mah yang penting sampai tujuanya, duduk dikursi, sementara sopir yang menjalankan bus nya dan sopir tidak boleh tidur fokus bagaimana membawa penumpang agar selamat sampai tujuannya”, dan yang tidak kalah penting semua Santri harus mau ngurusi NU, jadilah pejuang-pejuang NU yang masih muda ya ngurus/masuk GP Ansor, yang Perempuan ngurus Fatayat NU, ada Muslimat NU, IPNU/IPPNU, PMII dan yang lainya, drmikian Abah Cipulus.

Sementara itu H. Acep Muhamad Mahmud, putra Abah Cipulus yang juga menjadi Wakil Ketua GP Ansor Cabang Purwakarta menyampaikan, “Alhamdulillah Abah memang Istiqomah setiap bulan Syawal tgl 5-15 selama 10 hari selalu mengadakan Pengajian Pasaran Kitabain dan ini sudah dilaksanakan kurang lebih sekitar 25 tahun dari saya masih kecil, banyak peserta pengajian yang datang, dari berbagai Daerah mereka datang jauh-jauh untuk bisa mengikuti pengajian Pasaran, ada yang datang dari Tasik, Ciamis, Pangandaran, Sukabumi, Cianjur, Bogor, Bandung, Garut bahkan dari Luar Jawa Barat, selama 10 hari mereka mengikuti pasaran Kitab untuk mengaji dan mengkaji Ilmu Fiqih dan Tauhid, biasanya diahir menjelang penutupan juga diadakan Halal Bi Halal sekaligus ramah tamah,

Saya pribadi sebagai Pengurus GP Ansor Cabang Purwakarta berharap para Peserta yang masih muda-muda ini sepulang dari sini bisa terlibat aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama, lanjut H. Acep Muhammad, dan bagi Pengurus dan Kader Ansor Purwakarta juga bisa mengikuti pengajian pasaran, kedepan mungkin bisa menjadi program yang bisa dikerjasamakan karena program dakwah Ansor juga seringkali dilakukan bersama-sama dengan Pesantren, pungkasnya, senada dengan H. Acep Muhamad, Ketua Fatayat NU Purwakarta Hj. Nyimas D Badriah juga berharap kader Fatayat NU Purwakarta bisa bersama-sama mengikuti pengajian Pasaran setahun sekali di bulan Syawal ini, untuk menambah khazanah ke-Ilmu-an sekaligus sebagai pelatihan menempa untuk menjadi pendakwah Ahlussunah wal-Jamaah dikemudian hari, ini adalah dasar pijakan kita belajar pada Ngaji pada Ulama dan Kyai NU, untuk menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin yang lebih humanis dalam perdamaian dan  persaudaraan di Indonesia.

Abah juga menambahkan dalam pembukaan berpesan sekarang banyak sekali kelompok atau golongan yang mengatasnamakan Islam tapi tidak mau belajar ke Ulama, Ajengan dan Kyai di Pesantren, menganggap dirinya paling benar suka menyalahkan orang lain yang tidak segolongan dengan mereka, menyikapi perbedaan dengan tidak mau ber tabayun, Islam itu Agama yang lembut, mengayomi dan menghormati semua Manusia, Agama yang membawa kemulyaan dan meninggikan derajat Manusia, tutupnya.

Disarikan dari Rutinan Pasaran di Ponpes Cipulus Purwakarta bersama KH. Adang Badruddin (Abah Cipulus)

Tulis tanggapan anda: