Belajar Yuk sama Ma Icih

Dibanding dengan Mak Erot, nama Mak Icih belum lama tenar. Meskipun kedua-duanya menyandang nama mak, keduanya memiliki perbedaan-perbedaan. Mak Erot konon mengacu kepada seseorang yang real ada meskipun duplikatnya banyak. Sebaliknya, Mak Icih hanyalah brand alias merek dagang. Kemudian, kedua emak itu memiliki jenis usaha yang berbeda dengan objek garapan yang berbeda. Tapi, perlu digarisbawahi bahwa keduanya berorientasi pada ukuran dalam memuaskan pelanggannya. Hanya saja, ada perbedaan juga dalam metode penentuan ukuran itu. Mak Erot menggunakan metode perbandingan ukuran benda ketika melayani pasiennya, sederhananya Mak Erot akan bertanya, “Ingin sebesar apa?”  Lalu, sang pasien akan menyebutkan nama sebuah benda sebagai rujukan ukuran yang diinginkannya. Sebaliknya, Mak Icih sudah memiliki ukuran standar yang ditentukannya sendiri. Keripik singkong pedas yang dijualnya diberi level kepedasan dari angka 1 sampai dengan 10, makin besar angka levelnya maka akan semakin pedas rasa keripik itu. Hebatnya, sebab manusia diberi rasa penasaran yang tinggi, banyak yang mencoba level paling tinggi meskipun kemampuannya masih di level bawah. Fenomena kesuksesan Mak Icih dengan level kepedasannya itu diikuti banyak pedagang. Misalnya, saya menemukan pedagang mi ayam yang juga menawarkan level kepedasan bertingkat pada mi ayam yang dijualnya. Ketika pelanggan datang ke kedainya, pedagang mi itu akan bertanya, “Level berapa pedasnya?” Uniknya, ketika yang datang itu satu rombongan, orang-orang itu akan “bersaing” mencoba level yang lebih tinggi daripada temannya. Menarik bukan celotehan mereka ketika temannya tidak mampu pada level yang tinggi? Angka, nomor, level harus kita akui memiliki keajaiban mantera di dalamnya. Mereka bekerja secara aneh dalam pikiran kita. Bukti ya pada kasus Mak Icih itu. Seandainya tukang gado-gado yang mangkal di depan kantor kita itu meniru Mak Icih tentu gado-gadonya akan menarik konsumen yang lebih banyak lagi. Menurut saya, cara berjualannya itu akan lebih impresif lagi jika ia  menawari pelanggannya sebuah level kepedasan pakai angka, bukan sekadar, “Pedes?” atau “Sedang ya pedesnya?”

Kutukupret

Kutukupret

Suka bikin kepala orang gatel², paling seneng liat orang garuk² kepala...

Tulis tanggapan anda: