Beratnya Menggendong Bayi, Bukan Aral Mahsunah Ikut PKPNU

Kediri, Jagatngopi.com- Selama digelarnya system kaderisasi PKPNU, banyak hal –sebutlah momen tertentu- yang mengiringi di tengah pelaksanaan Pelatihan. Umumnya, peristiwa yang secara langsung maupun tidak, memantik semangat dan militansi terhadap Nahdlatul Ulama. Saya sendiri, dalam satu kesempatan berdiskusi dengan peserta PKPNU – waktu diskusi dia sudah jadi instruktur di NU Jawa Tengah – yang menceritakan betapa banyak sela peristiwa non rundown acara yang menyembulkan mistikasi tapi berbuah militansi atas NU.

Kalau menangis terharu ketika mencium bendera merah putih dan pataka NU itu biasa, katanya, tapi banyak pula peserta yang terharu karena melihat Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari datang di tengah acara baiat secara ghaib. Itu salah satunya, lanjut dia, dan masih banyak hal-hal yang tidak masuk akal tapi justru meningkatkan ghirah untuk ber-NU kapan dan di manapun berada.

Nur Mahsunah dan kegigihannya PKPNU

Lain apa yang diceritakan Instruktur dari Jawa Tengah tersebut, lain pula apa yang terjadi di Pelatihan Kader Kepemimpinan (PKPNU) di Plemahan, Kapurejo, Jawa Timur, seperti yang diceritaka H. Amir Ma’ruf, instruktur nasional PKPNU.

Ketika acara pembukaan PKPNU angkatan XXIV PCNU Kabapaten Kediri di MWC Plemahan di laksanakan, ada salah satu peserta perempuan yang sedang menggendong anak. Terlihat singsingan gendongan yang begitu ketat dan tertutup, bisa jadi si anak sedang sakit. Ternyata memang benar, setelah didekatin dan diajak bicara instruktur si anak sedang sakit.

“Setelah kami ajak ngobrol memang benar si anak dalam gendongan sedang sakit, saya berfikir kenapa anak yang sedang sakit diajak ke acara pelatihan yang dilaksanakan begitu ketat,” terang Amir penuh Tanya.

Belakangan diketahui peserta tersebut bernama Nur Mahsunahu, alumni pondok pesantren Kapurejo, aktivis Pengurus Fatayat Anak Cabang Plemahan, suaminya adalah seorang Kasatkoryon Banser Kecamatan Plemahan yang juga bertugas sebagai tim keamanan acara tersebut. Mahsunah begitu rajin dan tertib mengikuti tiapsesi materi sekalipun harus sesekali menenangan anaknya yang nangis dan kurang sehat.

“Mahsunah relatif rajin mengikuti sesi materi, walaupun harus bersusah payah menggendong anak dan sesekali ijin mengikuti materi dari luar ruangan karena harus mengkondisikan anaknya yang sedang menangis karena sakit. Komitmen tersebut ia tunjukkan terus sampai PKPNU menjelang usai.” Lanjut Amir.

Amir melanjutkan bahwa, menjelang akhir PKPNU, ketika instruktur memeriksa daftar hadir sekaligus menilai tingkat keaktifan mengikuti pelatihan dan sebagai sarat peserta mengikuti prosesi baiat, didapati Mahsunah absen di materi Ghazwul Fikr, karena harus memeriksa anaknya ke dokter. Namun demikian, 2 jam kemudian yang bersangkat sudah masuk lagi dengan membawa anaknya untuk mengikuti sesi materi berikutnya.

Kepada Nur Mahsunah awalnya seluruh instruktur bersepakat bahwa yang barsangkutan tidak bisa mengikuti baiat karena diketahui tidak mengikuti satu materi. Akan tetapi setelah melalui beberapa pertimbangan akhirnya Nur Mahsunah dinyatakan bisa mengikuti Baiat dan diluluskan dengan catatan bersyarat bahwa yang bersangkutan harus mengikuti her (susulan) materi Ghazwul Fikr di MWC NU lain. Kesepakatan ini selanjutnya disetujui Nur Mahsunah dan yang bersangkutan siap mengikuti materi susulan yang lain.

Kegigihan Nur Mahsunah berhenti sampai di situ? Ternyata tidak, di awal pelaksanaan baiat yang penuh dengan pengkhidmatan acara, boleh jadi si anak tertidur pulas dari mulai prosesi pembacaan butir-butir baiat dan penciuman Bendera Merah Putih serta Pataka NU. Pasca itu, Nur Mahsunah kembali disibukkan dengan buah hatinya yang terbangun dan menangis.

Sampai akhirnya, acara berlangsung sampai proses penanda tanganan kader serta penyematan kopyah dan kerudung oleh KH. Nasir Badrus, Rais Syuriyah PCNU Kab. Kediri kepada peserta. Akhirnya, Nur Mahsunah pun bisa tersenyum lega sembari mencium kening anaknya yang telah turut serta ber-NU dan menjadi saksi betapa militansi terhadap NU harus dibangun dengan gigih tanpa pamrih. Semoga

Tulis tanggapan anda: