Berbanggalah Menjadi Orang Gila

Mengacu terhadap ciptaan Allah, manusia adalah satu-satunya makhluk yang diberikan kesempurnaan. Mengapa demikian? Sebab hanyalah manusia yang di berikan kelebihan berupa akal, hati dan juga hawa nafsu.

Bicara mengenai akal, akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar, serta menganalisis sesuatu dengan kemampuannya yang sangat bergantung luas, dan hanyalah manusia pemiliknya.

Namun, apakah hal yang demikian manusia di katakan sebagai makhluk paling sempurna dari kesempurnaan? Tidak. Sebab, akan ada tingkat paling tingginya kesempurnaan ketika seseorang berhasil mengupayakan akal menuju kebermanfaatan dan menghasilkan buah pikiran.

Sepengetahuan saya, banyak di sekeliling kita orang-orang yang lebih di hargai bukan semata-mata atas dasar kedudukan atau jabatan, tapi ini mengenai penilaian seseorang terhadap suatu obyek yang menyudutkan bahwa ada tingkat penghargaan paling tinggi ketika seseorang berhasil memaksimalkan akal pikirannya, bukan saja terletak pada keilmuan yang di milikinya, tapi terletak pada kebijaksanaannya. Mengapa demikian? Sebab, saya masih berkeyakinan bahwa proses seseorang menjadi bijak, ia sudah lebih dahulu melalui tahap keilmuan dan pengalaman, bukan kedudukan apalagi jabatan.

Contoh kasus, sebagaimana saya yang mendiami dunia aktivis, sering tak jumpai berbagai tokoh besar, meskipun ia belum cukup layak disebut sebagai publik figur, karena kiprahnya yang tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Sebut saja dengan nama Dwi Winarno, yang juga sudah mulai menjalar dewasa ini mengenai paham Dwi-Isme. Begitu demikian.

Ia adalah sosok yang terlanjur terkenal di kancah dunia pergerakan, bukan lantaran statusnya sebagai pengusaha susu progresif, melainkan namanya sering menjadi pergantian di berbagai wilayah di Indonesia, karena kerakusannya dalam mendalami keilmuan. Maka orang bukan lagi melihat ia apa kedudukannya, melainkan penghargaan atas pengetahuan keilmuan yang dengan detail dapat di transformasikannya kepada khalayak.

Lalu apa korelasinya dengan “Berbanggalah menjadi orang gila?”. Begini, saya katakan, daripada kita tidak bisa memaksimalkan akal menjadi yang semestinya di pergunakan, lebih baik kita menjadi orang gila daripada menjadi orang bodoh.

Sebab begini, lebih baik dianggap menjadi orang gila lantaran memang tidak mempunyai akal, daripada menjadi orang bodoh, sudah mempunyai akal tetapi tidak mau menggunakan akalnya. Bagaimana?. Sama halnya ketika seorang laki-laki berani menikahi seorang perempuan, tetapi ia tidak mempunyai keberanian menjima’ (menyetubuhi) perempuan tersebut yang sudah menjadi istrinya. Kemungkinannya hanya dua, dia yang memang benar-benar bodoh, atau jangan-jangan ia sedang mengalami impoten.

Maka berbanggalah yang sekarang menjabat sebagai ketua dari perwakilan rakyat, sebab akalnya nyaris tidak di pergunakan dan layak disebut sebagai orang gila.

Penulis : Robiatul Adawiyah (Wiwi), Mahasiswi Manajemen Pendidikan semester akhir di Jakarta, sebagai pecandu kopi yang doyan jalan dan juga doyan tidur, serta gemar melihat para perjaka pulang dari masjid.

Tulis tanggapan anda: