Bercocok Tanam di Surga 

Qur’an banyak memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap profesi. Setidaknya, profesi pertanian, bisnis, perdagangan, kelautan, peternakan, kehutanan. Ada “al-An’am” yang berarti “binatang ternak”, atau penghargaan terhadap profesi juru masak dan pelayanan dengan “al-Maidah” (hidangan).
Penghargaan terhadap profesi pertanian misalnya, menunjukkan Qur’an sangat menjaga kelestarian hutan sebagai ekosistem penting terhadap kehidupan manusia. Sebab, air diperoleh dari hutan untuk mengairi sawah dan kebun yang dikelola manusia.
Berkali-kali Qur’an menyebut kata “tuflihun”. Kata ini diterjemahkan “beruntung”, “berbahagia”, “berhasil”, atau “menang”. Makna kebahagiaan atau keberuntungan tersebut diibaratkan bertani atau bercocok tanam. Dalam kamus klasik, kata “tuflihun” berasal dari “falaha” atau “aflaha” yang berarti “bertani” atau “bercocok tanam”, derivasi kata berikutnya adalah “aflaha-yuflihu-yuflihani-yuflihuna-tuflihu-tuflihani-yuflihna-tuflihuna”: berhasilnya bertani. Qur’an berkali menyebut “qad aflahal mu’minun” yang berarti “berbahagialah (berhasil panen) orang-orang yang beriman”. Atau “la’allakum tuflihun” yang berarti “supaya kamu (mengerti dan merasakan dengan ilmu atau hikmah) kebahagiaan (hasil bercocok tanam)”.
Kebahagiaan didapatkan manusia bagaikan aktivitas bertani atau bercocok tanam. Menggemburkan tanah, melobangi tanah, mengisi lobang tanah itu dengan benih, kemudian menutup lobang tanah yang sudah diisi benih yang disebut “kafir” atau “kuffar”. Kemudian merawatnya, membersihkan tanah dari rumputan atau hama pengganggu. Menanti hujan dengan penuh harap. Setelah hujan menumbuhkan benih-benih itu, bahagialah hati petani (QS:6:99). Sedemikian rupa dijaga dan dipupuk hingga tiba masa penantian yang diharapkan: panen. Itulah kebahagian atau keberuntungan.
Begitu halus dan menakjubkan Qur’an mengajari manusia tentang kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh seseorang dengan proses panjang yang tak egoistik dengan kesabaran dan kerja keras yang nyata. Proses kehidupan yang wajar dan manusiawi.
Dengan demikian, Tuhan seolah berkata: bercocok tanamlah kebaikan dengan benih-benih kemanusiaan; “la’allakum tuflihun” (agar kalian mengerti bahagianya memetik panen di dunia dan akhirat). Rasul bersabda, bercocok tanam di dunia sejatinya bercocok tanam di surga. Sehingga segala kerja “bercocok tanam” itu membutuhkan benar, sabar, tulus, dan pancaran kemanusiaan yang luhur. Betapa berkilau dan memancar dengan kekayaan warna yang menakjubkan ayat-ayat Qur’an itu. Lalu, kenapa kita harus menyempitkan dan mengurungnya dengan keangkuhan? Menarik untuk dihikmati sembari minum kopi, bukan?
Muncar, 2016

(Artikel ditulis oleh Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: