Berkat Doa Pak Kyai

Sobirin merupakan salah satu santri pondok pesantren salaf. Selain mondok dia juga kuliah.

Tak terasa dia sudah berada pada masa akhir kuliah. Mulailah dia menyiapkan judul skripsi untuk diajukan. Setelah di acc ketua dan sekretaris jurusan, dan ditunjuk pembimbing, maka Sobirin menyibukan diri menggarap skripsinya demi gelar sarjananya. Sobirin walaupun telah berusaha keras mempersiapkan skripsi agar sesuai dengan kriteria karya tulis ilmiah sehingga bisa lolos dalam sidang munaqosah, tapi dia tetap ketar-ketir barangkali ketemu penguji yang killer dan menghambat kelulusan sarjananya.

Dasar Sobirin, dia itu santri pondok salaf yang penuh dengan dunia ijazah doa dan wirid dari Kyai ahli ilmu hikmah. Tak harus berfikir lama, maka Sobirin dengan diantar oleh temannya sowan kepada Pak Kyai tersebut. Di hadapan Pak Kyai, Sobirin mengutarakan hajatnya. Kemudian oleh Pak Kyai Sobirin dikasih doa untuk mempersiapkan ujian serta disuruh kembali untuk membawa tulisan skripsinya. Malam selanjutnya Sobirin sowan kembali membawa tulisan skripsinya. Oleh Pak Kyai tulisan skripsi didoakan dan disembur. Setelah selesai Pak Kyai bertanya kepada Sobirin, apa cita-citanya kalau sudah lulus kuliah. Sobirin menjawab bahwa dia ingin berwiraswasta. Oleh Pak Kyai dibilangin bahwa kelak dia akan menjadi karyawan perusahaan milik negara. Sobirin tak begitu menanggapi, dia hanya mengiyakan dan mengamini.

Tanggal ujian munaqosah telah diumumkan, Sobirin mempersiapakan segala bahan buku bacaan, sekiranya penguji menanyakannya.

Hari ujian munaqosah telah tiba, penuh dengan ketegangan dan harap-harap cemas. Satu persatu teman Sobirin masuk ruangan sidang munaqosah. Dengar cerita temannya yang dibantai penguji dengan banyak coretan tangan penguji pada lembar skripsi temannya, menambah ketegangan Sobirin. Hari semakin siang, menjelang dhuhur, kini giliran Sobiin berhadapan dengan penguji. Diluar dugaan, penguji hanya menyampaikan dua pertanyaan, dan Sobirin disuruh membaca teks kitab kuningnya dari fotocopy kitab yang dibawanya. Sobirin adalah santri, sudah terbiasa ngaji bandungan kitab kuning. Dia baca teks kitab gundulnya dengan lancar karena memang telah dipelajari.

Hal ajaib terjadi, tidak ada setengah jam Sobirin mengikuti sidang ujian munaqosah dan berakhir dengan membingungkan dan membahagiakan. Membingungkan karena tidak ada revisi sama sekali dari tulisan skripsinya yang sebenarnya biasa-biasa saja alias karya tulis yang umum batir. Jelas Sobirin bingung dan khawatir karena tidak ada ucapan dari penguji apakah dia harus mengulangi ujian atau memperbaiki skripsinya. Sampai akhirnya pengumuman hasil skripsi disampaikan, ternyata Sobirin lulus ujian munqosah skripsi dengan nilai tiga koma. Sobirin pun gembira sekali karena hajatnya tercapai dan dia bergumam dalam hatinya, ini berkat doa Pak Kyai.

Tulis tanggapan anda: