Bermuhasabah: Siapa Kita?

Oleh: H. Matin Syarkowi

(Ketua PCNU Kota Serang)

 

Ramadlan 1438 Hijriyah ini bagi Umat Islam Indonesia sangat strategis dan potensial untuk bukan sekedar dilihat dari aspek Ibadah Mahdlah dengan nilai-nilai pahala bagi setiap individu empunya puasa. Tapi lebih dari itu puasa dijadikan momentum untuk bermuhasabah baik bagi individu maupun kelompok sosial. Pergunjingan yang bertebaran di medsos yang masih berbau akibat dari kegaduhan politik pilkada DKI yang terus bergulir sampai sampai sekarang dengan jargon bela agama, bela ulama sampai issue Mubahallah sudah cukup menyita waktu dan fikiran yang tidak produktif. Oleh karena itu mari kita manfaatkan Romadlan tahun ini juga digunakan untuk bermuhasabah dengan tema “Siapa Kita?”. 

Bulan Romadlan sebagai bulan suci, dibukanya seluruh pintu rahmat dan maghfirah. Maka alangkah indahnya jika kita jadikan untuk memperbanyak ibadah, sodakoh, dan amal kebaikan lainnya. Termasuk akan indah jika kita jadikan arena muhasabah untuk mengetahui “siapa kita?”. Harapan dari bermuhasabah dengan “tema” siapa kita? kita masuk dalam golongan “من عرف نفسه عرف ربه . 

Mengangkat Tema: siapa kita? sangat penting agar kita tidak larut dalam ketidaksadaran diri yang bisa jadi terjebak pada pengambilalihan “status, kedudukan dan kewenangan” tugas kita sebagai manusia yang hidupnya di akhir abad XX

Sebagai langkah yang mungkin bisa dijadikan metodeologi untuk mengurai tema “siapa kita?”, antara lain dengan menengok ungkapan    محمد بشر # ليس كالبشر dan termasuk di dalamnya mengenali kembali arti mu’jizat, ma’unat dan karomat. Dari situ kita tanya pada diri kita, siapa sesungguhnya kita?

Kita juga menengok kembali bahwa sebaik-baiknya kehidupan adalah pada masa Rosulullah dan kemudian pada masa sahabat dan seterusnya sampai disebut

وكان من بعدي شر  

Lalu kita tengok keyakinan kita soal hari ahir (kiamat) di dalamnya ada tanda-tanda. Artinya memang tidaklah mungkin keadaan alam ini semakin baik. Akhlak manusia pasti akan semakin terpuruk. Keterbukaan sosial adalah salah satu sebab akhlak/moralitas semakin rendah, maksiat semakin besar dan sulit dibendung. Kenapa? Ya…karena alam semakin tua dan itu bukti dari kebenaran firman Allah dan Rosul-Nya soal hari Kiamat. Lalu, apakah ini artinya kita harus berpasrah diri? Oooh…tentu tidak dan bukan begitu. Kewajiban kita berdakwah harus terus dijalankan dan itu konteksnya berbeda dengan soal kiamat. Hanya saja kita mungkin bisa mengambil pelajaran dari sebuah sya’ir :

دع الاعتراض فماالامر لك

ولاالحكم في حركات الفلك ولا تسال الله عن فعله

فمن خاض لجة بحر هلك

Sya’ir di atas merupakan kisah (hikayat) yang memberikan penjelasan atas qadar Allah. 

Lalu kita juga menengok QS al-Nahl 25 terkait kewajiban dakwah ada kata Hikmah, mau’idoh hasanah dan berdebat pun dengan hasanah. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah kalimat ahir dari ayat itu, bahwa Allah Dzat Yang Maha siapa yang disesatkan dan siapa saja yang diberi petunjuk. Setidaknya menjadi bahan renungan diri pada diri kita, bahwa sesama makhluk tidak punya hak untuk menjust dalam soal yang berkaitan dengan “hati”/Jiwa”. Sesama makhluk kita tidak punya hak untuk saling benci, sesama makhluk kita tidak patut merasa benar sendiri dan menjaminkan diri sebagai “ahli” surga. Dengan kita membaca sifat Rosulullah, harapanya kita sadar siapa kita. Dengan mempelajari sifat-sifat dan sejarah para sahabat Rosul sampai kehidupan para ulama periode 500 Hijriyah harapanya kita sadar siapa kita?

Sementara itu kesadaran bahwa pesan agama itu bukan untuk orang lain, tapi untuk setiap individu, untuk diri kita sendiri. Kewajiban meneruskan, menyampaikan pesan agama itu adalah hal yang berbeda. Artinya pada saat kita berdakwah materi dakwah apapun berlaku juga pada diri orang yang berdakwah. Inilah keadilan Islam, sehingga Nabi pernah bersabda, “seandainya Fatimah, putriku mencuri, maka aku yang akan potong tanganya…”. 

Siapa kita? Kita mungkin sudah dibekali pengetahuan tentang apa itu kalam khobari, tapi terkadang kita lupa mensikapi kalam khobari itu. Kita lupa bahwa medsos adalah alatun khobariyun yang sudah pasti mengandung unsur benar dan salah. Dan kita terkadang lupa bahwa

اذاحتمل الصدق والكذب فهو الشك 

الشك لا يعتبر في كل امر عبادة كان او معاملة

Ahirnya semoga kita dimasukan oleh Allah sebagai hamba seperti عباد الرحمن (‘Ibad al-Rohman). Siapakah Ibad al-Rohman? Monggo simak Quran dan Tafsirnya QS Al-Furqon ayat 63. 

Yang jelas Ibadurrohman, adalah prilaku welas asih dan sifat tawadlu sebagai ciri-ciri ahli agama sehingga dengan sikap lemah lembutnya justru semua orang merasa senang dan merasa nyaman.

Pepatah bijak mengungkapkan “sesuaikan saja pakaianmu dengan ukuran tubuhmu”, berjalanlah sebagai mana engkau bisa melangkah”, janganlah berlebihan karena semuanya akan tidak pantas dan akan menjadi beban berat badanmu.

 

Wallahu ‘alamu bishowab.