Budaya Komentar Di Era Krisis Membaca

A : membagikan sebuah artikel yang memiliki judul bombastis, seperti “Terjadinya Hari Kiamat Di 2012” adalah sebuah bukti bahwa yang membuat sebuah artikel merupakan (orang dalam/orang dekat) dari Tuhan, atau ia sempat mengintervensi Tuhan.

B : berkata, “Bro, yakin itu berita benar?”

A : membalas, “Nggak tau, bro, gw nggak baca, cuma share doang,”

B : lalu mengambil novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan nge-gebukin A sampai otak A keluar, lalu B mengambil otak A buat dijual di Tokopedia.

Banyak orang seperti ini di media sosial. Orang-orang yang tidak pantas hidup, yang suka membagikan artikel-artikel bernada bombastis tanpa membaca sepatah kata pun yang ditulis. Atau yang lebih bodoh lagi, suka asal berkomentar padahal belum membaca keseluruhan isi berita/artikel.

Peristiwa diatas menandakan bahwa masih banyak keberadaan masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah. Banyak terdapat gejala-gejala tak masuk akal sejak budaya sosial media mulai berkembang.

Orang menjadi semakin mudah mengedarkan segala macam perkataan, mulai dari kabar serius, desas-desus politik, kabar burung, takhayul, cerita gaib, perang ideologi, rasisme dan lain hal sebagainya.

Peristiwa tersebut disebabkan karena memeriksa suatu kabar membutuhkan jerih payah yang lebih dari pada harus menyebarluaskan berita lewat sosial media. Teknologi dengan cepat melahirkan budaya komentar, dan siapapun boleh komentar. Tak peduli komentar itu melukai seseorang atau tidak, yang dapat membuat seseorang saling membenci, mengancam bahkan saling membunuh.

Melihat kenyataan tersebut, haruskah kita melarang seseorang untuk menggunakan teknologi? Atau apakah semua orang harus menjadi seorang ilmuwan yang dapat menggunakan banyak metode  dengan keahlian detailnya. Jawabannya adalah “Tidak”. Setiap orang hanya perlu berpikir dan bertindak dengan masuk akal.

Ilmu pengetahuan adalah salah satu cara untuk mengetahui. Mengapa disebut salah satu, agar hal tersebut tidak dimaknakan untuk mengalahkan segalanya. Sebab ada realitas yang tidak bisa dijangkau hanya sebatas dengan ilmu.

Melihat keadaan tersebut, dapat dipengaruhi oleh tingkat minat baca seseorang. Minat baca Indonesia itu rendah. Studi menunjukkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University. Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Botswana, tapi jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya. 

Kenapa bisa begini? Ini pasti salah Jokowi. Memang mudah menyalahkan pihak eksternal. Namun, kurangnya budaya membaca ini sebuah permasalahan yang kompleks yang tidak bisa ditinjau dari satu sisi saja.

Di satu sisi, kebiasaan membaca tidak ditanamkan secara mendalam saat pendidikan dasar. Budaya membaca hanya berhenti sebatas jargon yang ditempel atau dipasang di banner atau baliho atau papan besi di sekolah. “Budayakan membaca”, begitu slogan yang sering ditemui dulu waktu kecil. Namun dalam praktiknya, hampir tidak ada insentif sama sekali untuk membaca buku di luar buku teks pelajaran. Siswa Indonesia baca buku hanya untuk mengetahui materi yang akan diujikan nanti, lalu membuat rumus-rumus cepat supaya nggak perlu liat buku. Guru juga hanya sebatas menguji daya ingat dengan menggunakan soal pilihan ganda, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. Lalu, buat apa repot-repot baca buku banyak-banyak, toh materinya nggak keluar di ujian? Kebiasaan ini membuat siswa menjadi robot yang hanya berpikir dari satu sisi saja.

Keadaan tersebut sayangnya dijumpai pada materi pelajaran Bahasa Indonesia yang didominasi soal pilihan ganda, padahal seharusnya pertanyaan ilmu bahasa itu seharusnya interpretatif. Siswa hanya diberikan sebuah cuplikan atau kutipan teks dan memilih makna teks tersebut dari empat pilihan yang ada. Siswa tidak diberikan kesempatan, atau insentif, untuk

 membahas teks tersebut sesuai pandangan subjektifnya. Akhirnya, siswa tidak berminat untuk menggali lebih lanjut cuplikan tersebut.

Keadaan tersebut juga sering dijumpai di lingkungan kampus. Mahasiswa juga terkadang malas mencari sumber-sumber referensi yang ‘lebih’, dan terlalu bergantung dengan materi slide-slide PowerPoint dosen. Seakan materi di PowerPoint adalah mutlak dan tidak perlu mengembangkan wawasan lagi.

Terkadang, perpustakaan di sekolah dan kampus hanya sebuah formalitas. Di kampus, sebagian besar area perpustakaan dialihfungsikan menjadi meja buat laptop. Hanya sedikit buku-buku yang tertampung. Itupun mungkin jarang disentuh orang-orang kecuali saat ujian tengah/akhir semester. Di luar itu, buku-buku tersebut menganggur.

Lalu ada juga faktor ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, lebih dari 50% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro beli buku, beli makan buat besok aja pusing.  Perlu diakui bahwa membaca buku adalah sebuah privilege untuk orang-orang kelas menengah, jadi perlu dikesampingkan dulu orang-orang miskin. Buat kelas menengah, buku belum menjadi prioritas utama. Mungkin nomor sekian setelah gadget, paket data Internet, jatah nongkrong di kafe, dan bensin kendaraan. Buku-buku yang beredar di toko buku Indonesia masih relatif mahal, terutama buku-buku impor yang masih berbahasa Inggris. Di Gramedia, buku-buku terjemahan memang relatif lebih murah, namun tetap dirasakan ‘mahal’ bagi sebagian orang. Yang laku justru buku komik, self-help bernuansa Islami, dan buku-buku teori konspirasi Illuminati penuh bullshit.

Ada juga faktor sosial. Kehidupan sosial Indonesia cenderung condong pada budaya lisan dibanding budaya tulis. Dalam hal ini adalah kehidupan sosial, orang-orang lebih senang ngerumpi dibanding membaca. Orang yang membaca cenderung diolok-olok atau setidaknya disindir. Tekanan sosial membuat mereka terpaksa meletakkan bukunya dan ikut nimbrung. Dengan berkembangnya budaya lisan atau biasa disebut diskusi, akan lebih mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan hanya sekedar “katanya dan katanya” tanpa peduli untuk meneliti terlebih dahulu mengenai kebenarannya.

Dalam budaya komentar di era krisis membaca ini, seseorang dapat mengakibatkan konservatif dalam berpikir namun radikal dalam tindakan. Persis seperti situasi nasional saat ini sejak beredarnya video di kepulauan seribu hingga datang putaran kedua.

Penulis :

Robiatul Adawiyah/Wiwi. Mahasiswi MPI STAI Az-Ziyadah Jakarta. Manusia yang baru menginjak kepala dua asal jakarta (Betawi Asli), yang aktif menyandu kopi, berhoby tidur dan jalan-jalan, dan senang bermain dengan perasaan.

One thought on “Budaya Komentar Di Era Krisis Membaca

  • October 22, 2017 at 3:33 pm
    Permalink

    Mengutip kata-kata Karlina Supelli dalam ceramahnya ya?

    Reply

Tulis tanggapan anda:

%d bloggers like this: