Budaya Korupsi

Sepekan ini rupanya akan menjadi hal yang sangat menarik oleh suguhan hidangan dan adegan intimidasi maupun manuver politik yang terkesan seperti melindungi teman sejawat, begitu demikian.

Nganu, pertunjukan kali ini rupanya ada kekeliruan, sebab pasalnya yang di katakan bahwa; kelak di suatu zaman akan ada penobatan mengenai kebenaran tidak lagi baik, dan kemunafikan tidak lagi buruk.

Begini, mengapa saya katakan demikian. Sebab, akan ada perubahan peran dan kedudukan, yang semula menjadi penggugat kini akrab di sebut sebagai tergugat, begitupun sebaliknya.

Keberadaan tergugat (KPK) saya deskripsikan persis seperti sesosok perawan atau yang lebih elok dapat di katakan sebagai kembang desa. Mengapa demikian? Jelas saja, tergugat banyak di lirik oleh yang hidung belang maupun yang tak punya hidung. Banyak sekumpulan hasrat yang ingin mengintimidasi dengan menelanjanginya, pun tak jarang yang ingin mencederainya, meski dengan luka sekalipun. Layaknya kotak harta karun yang terbuka, tak sedikit berbagai pihak yang tak lunas mengunjunginya untuk mematenkan kepemilikannya.

Katanya; amandemen yang di keluarkan merupakan alat untuk menguatkan (tergugat) bukan melemahkan, saya katakan ini hanyalah sebuah kemasan. Semacam orang tua (anggap yang mempunyai wewenang) kepada anaknya yang selalu mempunyai ambisi untuk membredel pikirannya dan menetapkannya pada jalur dan pikiran anaknya.

Pada nilai yang substantif, hal demikian di katakan sebagai penguatan, benarkah demikian? Namun pada nilai esensial tak lebih hanyalah bentuk kemasan. Sebab akan muncul bentuk-bentuk kekhawatiran atau kegelisahan yang menjelmakan perbedaan berdampak kegaduhan. Dan terlebih demokrasi tidak lagi berbicara mengenai bentuk kontroversi atau keberagaman, tetapi demokrasi berubah menjadi penyerataan. Maksudnya penyerataan yaitu, sesuai dengan suara terbanyak, maka dialah yang menang, dan harus di ratakan. Padahal yang banyak belum tentu benar, dan yang sedikit belum tentu keliru.

Nabi Nuh sekalipun dalam perjalanan dakwahnya selama sepuluh abad, ia hanya mendapatkan dan mempertahankan umatnya sebanyak sepuluh orang, bahkan yang terkasih istri dan anaknya sekalipun ikut meninggalkan. Apakah hal yang demikian di katakan gagal akibat Nabi Nuh hanya mempunyai followers yang sedikit? Tidak. Sebab di hadapan Allah, Nabi Nuh adalah pemenang. Pemenang yang tak akan pernah purba oleh sebab keteguhannya dalam berdakwah dan intensitas kesabarannya yang melampaui segala.

Sebagaimana di katakan dalam Al-Quran; bahwa balasan bagi kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Tetapi Allah akan memberikan apresiasi kepada siapa pun yang membalas kejahatan dengan kebaikan.

Barangkali begitulah makna yang tersirat dari ungkapan Pak Kiai yang menganalogikan kebaikan (Tidak seperti mencuci pakaian dengan menggunakan air kencing), bahwa untuk memuliakan kemuliaan, jangan sampai seperti mencuci dengan air kencing. Agar noda bisa hilang, tidak mungkin kita menghilangkannya dengan noda serupa.

Begini, korupsi merupakan lagu lama yang tetap berdendang hingga akhir masa. Tak ayal, ribuan tahun sebelum masehi, Kautilya telah memprediksi, saat ditanya oleh muridnya tentang berapa banyak Pamong Praja yang menjarah uang rakyat. Filsuf india itu menjawab: “Sulit untuk menghitungnya, mereka ibarat ikan yang menyelam di lautan, tidak ketahuan apakah ia sedang minum air atau tidak.”

Apa yang dikatakan Kautilya kala itu terus berlangsung hingga hari ini.

Berbicara soal kekuasaan dan segala kultur yang melingkupinya, adalah adegan mesum yang dipertontonkan penguasa negri ini dengan polesan perilaku bejat korupsi yang kian mengakar pada lingkaran kekuasaan, sehingga sulit untuk mengurai dan memutus benang kusutnya.

Memang, tampak lucu dan menjijikkan ketika penguasa negeri ini menjadi lintah darat penghisap darah rakyat yang semakin hari semakin brutal dan pongah menampilkan kebejatan korupsi yang dilakukannya.

Rasanya, mata ini semakin muak melihat isu-isu dan berita- berita yang berbau korupsi di media-media massa setiap hari. Seolah telah menjelma sarapan pagi dan menjadi makanan khas bagi kita. Tak ketinggalan juga sajian kritiknya, mulai dari kritik yang paling pedas sampai kritik yang paling santun.

Tapi kritik tinggallah kritik, karena pada kenyataannya keadaan tidak berubah, para koruptor tidak tahu malu, atau mungkin Tuhan sudah memutuskan urat malunya.

Lalu, apa yang bisa diperbuat oleh kita sebagai kaula muda? Berhentilah mengkritik jika kritik itu tak satu pun ditimbang, dan berhentilah memberi solusi jika hal itu tak diindahkan. Yang perlu ditelisik lebih jauh adalah kondisi kejiwaan manusia-manusia korup itu.

Ketika kita melihat korupsi, bukan hanya persoalan apakah korupsi itu merugikan keuangan negara dan ancaman bagi kesejahteraan bangsa, akan tetapi lebih daripada itu, korupsi merupakan perilaku binatang buas yang tidak kenal hukum dan moral. Sehingga, ini merupakan satu penyimpangan yang dikutuk oleh tuhan dan manusia.

Kita tidak perlu lagi perhatian dan menghargai apa yang dipertontonkan penguasa negeri ini dari perilaku bejatnya, mereka bukanlah manusia dalam arti hakiki. Mereka sudah terbuai dalam pusaran pragmatisme kekuasaan, yang pada akhirnya membutakan mata hatinya.

Mereka tidak mampu lagi membedakan yang benar dari yang bathil. Allah berfirman: “Dan kami adakan dihadapan mereka dinding dan dibelakang mereka dinding pula dan kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS: Yasin: 09).

Rasa kemanusiaan dan rasa kebangsaannya telah sirna, apalagi rasa cinta dan rasa militansinya terhadap negara, sudah pasti tidak ada. Nasionalisme, patriotisme dan lagu kebangsaan dalam upacara sakral kenegaraan yang sering mereka dendangkan di gedung-gedung mewah, seperti parlemen dan istana negara, hanyalah bualan busuk lagi kecut dari mulut mereka yang nangkring di atas kursi empuk kekuasaan.

Sepertinya memang, menjadi hal penting bagi kita untuk memeriksa kejiwaan mereka yang sedang menikmati hedonisme kekuasaan. Begitu pun bagi para calon penguasa berikutnya. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, hanyalah untuk memastikan apakah mereka benar-benar waras, bersih, ikhlas dan tulus untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Terakhir; kini kewenangan di diktator secara absolut, konflik hanya akan di mainkan oleh tipu-tipuan belaka. Tatkala mereka menjadi gugup, lalu gagap, kemudian gagu dan berakhir untuk di gugat.

 

 

Penulis : Robiatul Adawiyah