Bunda Sovia dan Dampak “Full Day School”

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh

(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

 

“Bunda Sovia,” begitu anak-anak memanggil seorang ibu janda berumur uzur sekitar tujuh puluhan. Tiap pagi di rumah mungilnya berjejal anak-anak usia SD dan SMP yang masuk di siang hari. Demikian juga pada sore hari setelah Ashar, anak-anak yang sekolah pagi belajar baca al-Qur’an, tata cara wudlu dan sholat.

Bunda Sovia sudah lama ditinggal wafat suaminya. Beliau menggantungkan nafkahnya pada warung sayur dan bumbu-bumbuan di teras rumah mungilnya. Tak sepersenpun beliau menarik upah dari anak-anak bimbingannya. Hanya setiap kamis santri-santri kampungnya itu mengumpulkan uang limaratus rupiah untuk bancaan (makan bersama, red) manakala ada yang khatam juz amma.

Bunda Sovia sendiri sudah rabun penglihatannya. Namun dia sudah tahu persis letak huruf-huruf di “turutan qai’dah baghdadiyyah”. Tegas dan keras ketika mengajar namun lembut dalam pergaulan. Ditakuti tapi juga dihormati dan disayangi oleh anak-anak. Beliau adalah ibu spiritual bagi anak-anak. Ketika ada anak yang absen mengaji maka ditanyakan pada teman-temannya. Ketika anak tersebut sakit maka beliau menjenguknya. Mereka malu berbuat nakal khawatir ketahuan Bunda Sovia, guru ngaji kampung itu.

Kini rumah mungil Bunda Sovia tak lagi ada suara gumbrenggeng ndarus turutan juz amma. Anak-anak sudah tidak dapat bertandang ngaji karena sekolahnya pulang jam 3 sore. Mereka sudah lelah. Malam pun mereka sibuk mengerjakan PR.

Mungkin anak-anak sebawahnya yang belum pernah mengaji pada Bunda Sovia tidak akan memiliki ibu spiritual lagi, tidak memililiki pengasuh yang hangat dan membimbing di kampungnya. Mungkin mereka tak akan malu lagi berbuat kenakalan karena tak ada lagi guru kampung yang penuh perhatian, sementara guru SD dan SMP-nya tidak tinggal di kampungnya, atau bahkan pindah ke luar kota. Entah saya tidak mengerti.

Ketika guru-guru SD mendapat keluhan wali murid kalau anak-anaknya tidak memiliki waktu mengaji setelah diberlakukan full day school (FDS), mereka menjawab dengan singkat: “Guru ngajinya suruh ke sini “.

Mungkinkah Bunda Sovia mendatangi SD, dia tidak secuilpun memiliki kertas formalitas sertifikasi. Mandatnya langsung dari pengakuan masyarakat dan keikhlasan meluangkan waktu. Motivasinya hanya “mâ urîdu illâ al-ishlâh“, aku tidak mengharapkan kecuali kebaikan akhlaq anak-anak asuhanku, kebaikan akhlaqnya.

Tentu Bunda Sovia tidak biasa memakai sepatu, tidak cakap teori-teori mengajar. Tentu berat baginya menerima upah karena akan mengganggu ketulusannya.

Dimanakah kini gotong royong, dimanakah kini pendidikan oleh masyarakat, dimanakah kini bapak ibu ruhiyyah anak-anak.

Demikian yang terjadi di salah satu sudut perkampungan kota Semarang setelah diberlakukannya FDS.

 

Sumber: nujateng.com

Tulis tanggapan anda: