Catatan kecil dari Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa

Pada bulan September ini, Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM) Jakarta kembali menyelenggarakan pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD). Wilayah kerja dari balai yang berada di bawah Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) ini meliputi provinsi-provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan beberapa provinsi di Sumatera. Kali ini yang diundang mengikuti pelatihan merupakan perwakilan KPMD dari sejumlah desa di Kabupaten Tasikmalaya dan Bandung Barat.

Mereka dibekali wawasan mengenai peran dalam peningkatan kerjasama antar lembaga, komunikasi, fasilitasi dan manajemen pemberdayaan masyarakat, penyelenggaraan musyawarah desa, penyusunan peraturan desa, partisipasi dalam tahapan pembangunan serta pembentukan tim kerja desa agar dapat secara efektif menjalankan tugas sebagai KPMD di desanya masing-masing.

Berdasarkan Permendesa Nomor 3/2015, KPMD memiliki tugas untuk menumbuhkan dan mengembangkan, serta menggerakkan prakarsa, partisipasi, dan swadaya gotong royong. Pelaksanaannya dapat melibatkan unsur masyarakat, yang meliputi kelompok tani, nelayan, pengrajin, perempuan, pemerhati dan perlindungan anak, dan masyarakat miskin serta kelompok-kelompok masyarakat lainnya sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa.

Dari identifikasi yang dilakukan melalui brainstorming, setidak-tidaknya ada 10 lembaga kemasyarakatan yang terdapat di desa. Ada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Desa Siaga, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pertahanan Sipil (Hansip), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Karang Taruna, Unit Pengelola Kegiatan (UPK) eks Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Salah satu kader perempuan mengungkapkan PKK melaksanakan pertemuan dan pengajian secara rutin. Selain, PKK juga terlibat dalam pengelolaan Posyandu. Ketika ditanyakan apa perbedaan PKK dan Posyandu dengan Desa Siaga, kader perempuan lain bernama Wiwik mengungkapkan Desa Siaga fokus pada penanganan anggota masyarakat yang perlu mendapat pelayanan darurat, misalnya harus segera dibawah ke rumah sakit. Sedangkan Posyandu lebih pada preventif, agar ibu dan anak tetap sehat.

Tokoh perempuan ini juga mengungkapkan pengalaman sebagai anggota BPD. Menurut Wiwik, BPD yang menyelenggarakan Musyawarah Desa (Musdes). Usulan-usulan kegiatan yang ditampung secara berjenjang dari RT, RW dan dusun, kemudian dibahas dan perlu diperjuangkan agar ada alokasi anggarannya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Tentu tidak semuanya bisa masuk karena ada prioritas. Atau dalam bahasa Ridwan yang menjadi ketua Karang Taruna, perlu lobi-lobi dan loco-loco dengan kepala desa hingga Karang Taruna di desanya hingga memperoleh anggaran operasional Rp 400 ribu/bulan.

Menurut Wawan, pola PNPM Mandiri Perdesaan (MPd) yang dilaksanakan pada periode yang lalu sebenarnya masih relevan diterapkan pada masa sekarang. Peserta dari salah satu desa di Tasikmalaya ini menggambarkan lebih lanjut, PNPM terdiri dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), Unit Pengelola Lingkungan (UPL), Unit Pengelola Sosial (UPS) dan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) yang antara lain mengelola usaha simpan-pinjam. Lembaga-lembaga tersebut berkoordinasi dengan Desa dalam penyelenggaraan kegiatan di tingkat desa.

Ada banyak kisah lain mengenai desa yang terungkap dari para peserta. Misalnya peserta bernama Asep yang popular dengan panggilan Franky, menuturkan pengalamannya dalam mengelola event ketangkasan domba yang berlangsung setiap minggu di desanya. Sangat disayangkan menurut pegiat Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) yang mengingatkan pada musisi country Franky Sahilatua ini, sekitar lima tahun yang lalu ada fatwa MUI yang melarang event tersebut karena dianggap mengandung unsur judi. Padahal menurut Franky, adu ketangkasan hanyalah salah satu materi lomba, ada juga penilaian terhadap bobot dan keindahan domba sehingga memotivasi peternak memelihara ternaknya dengan baik. 

Ada lagi Iwan dan Harli, meskipun berbeda desa, tergabung dalam save kars, sebuah komunitas yang lahir dari keprihatinan atas kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan kapur. Komunitas ini berupaya mengubah pola pikir masyarakat melalui study garden di Desa Gunung Masigit dan beberapa desa lain yang menjadi lokasi penambangan. Aktivitas wisata yang dikembangkan sejak 2009, mampu mengungkit ekonomi kawasan perdesaan dan memperbaiki kondisi lingkungan secara perlahan.

Sedangkan Hidayatullah dari Desa Saguling mengisahkan perjuangan MUI sehingga memperoleh alokasi anggaran dalam APBDes untuk mendukung kegiatan Perayaan Hari Besar Islam (PHBI). PHBI dan kegiatan-kegiatan keagamaan bertujuan memperbaiki akhlak dan memberi wawasan keagamaan bagi masyarakat. Hidayatullah juga mengungkapkan potensi jagung, kapol dan domba sebagai produk unggulan desa.

Atau yang dituturkan pak Tatang, orang Aceh-Melayu yang beristrikan orang Tasikmalaya. Menurutnya, filosofi team work ada saya mengerjakan apa yang anda tidak bisa dan anda mengerjakan apa yang saya tidak bisa. Filosofi itu diterapkan dalam pengelolaan LMDH melalui kerjasama dengan Desa dan Perhutani. LMDH dipercaya mengelola hutan tanaman pinus seluas 42 ha sehingga produktif dalam menghasilkan getah pinus. Selain itu juga mengelola lahan kosong milik Perhutani seluas 20 ha untuk perkebunan dan hortikultura.

Ada lagi pengalaman Suryana, direktur pada sebuah BUMDes. Menurut Suryana, mereka sudah menjalin kerjasama dengan BRI Cabang Tasiklamaya dan dinas setempat. Saat ini BUMDes telah memiliki unit-unit usaha Warung Desa, photocopy-an dan simpan-pinjam yang masih dikelola sendiri oleh para pengurus. Selain dirinya sebagai direktur, ada sekretaris dan bendahara. Ada eencana sinergi dengan Gapoktan dalam distribusi pupuk.

Begitulah sedikit catatan dari sela-sela pelatihan yang rencana akan ditutup pada hari Sabtu, 23 September 2017. Suasana BBPLM yang penuh dengan vegetasi, ada kebun buah naga, kebun singkong, aneka pohon dan tanaman hortikultura serta kandang kambing dan kolam ikan. Sedikit mengurangi penat dari kebisingan dan kemacetan di Jakarta.

Tulis tanggapan anda: