Cerita Padi IR 64 dan Inpari

Artikel ditulis: Arum Kusumaningtyas 

Mumpung lagi pada seneng ngomongin beras, supaya tambah kekinian nih, jadi peduli pertanian plus tahu apa yang kita makan. You are what you eat ! 😉
Jadi konsumen cerdas, tahu apa yang dibeli dan mulai ingin tahu dimana belinya. Syukur-syukur pengen tahu dimana dan bagaimana produksinya.  Gak usah sok ribut fair trade dan janji-janji utopis lainnya deh…kalau apa yang kita makan untuk hidup aja kagak tahu. Piss man! Gak usah sewot bro…setel kendo dab 😛
Fiuu, eike harus keluarin unek2 ini sebelum bisa aman damai sentosa mberesin yang lain. Jiaaaah..diajengnya malah curcol! Eike gitu loh😎
Dah ah mulai….sekarang yang baru sering kita dengan IR 64 kan? Apa sih itu IR64? Itu yaaaa, bibit padi yang dikenalkan untuk mengatasi hama wereng coklat di tahun 1980. IR64 ini adalah kunci keberhasilan revolusi hijau yang dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru. Pemerintah Orde Baru saat itu dihadapkan persoalan peningkatan produktivitas untuk ketersediaan pangan nasional. Nah, bibit-bibit yang ada saat itu dikenal adalah Serayu, Asahan, Brantas, Citarum, Semeru, dan Cisadane. Familier? Ya iyalah..itu nama-nama sungai besar. Karena itu adalah padi lokal yang awalnya tumbuh di muara sungai-sungai tersebut. 
Nah, terjadi wabah hama wereng coklat di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Bibit lokal kita tidak ada yang berkutik. Padahal tuh ya…Pemerintah Orba sedang menghadapi tantangan untuk peningkatan produktivitas. Jadilah Pemerintah Indonesia menggunakan bibit IR64 yang tahan hama wereng coklat ini. Oya, IR64 itu merupakan hasil riset dari IRRI dan ditanam merata di Asia Tenggara saat itu untuk mengatasi kerawanan pangan regional ( saat itu masa perang dingin AS-US Soviet ya cyiin). 
Selanjutnya kita lihat deh sepak terjang keberhasilan revolusi hijau dan swasembada pangan oleh Pemerintah Orde baru yah. Pak Harto pun menjadi duta FAO dan berulang kali mendapat penghargaan internasional karena berhasil meoloskan Indonesia dari bahaya rawan pangan ditengah-tengah berkecamuknya perang dingin AS-Soviet yang berimbas pada mahalnya harga pangan global.
Nah, tahun 2000 itu..ntah kenapa IR64 ini menjadi tidak stabil. IR64 tidak tahan lagi pada wereng coklat dan wereng hijau. Padahal sebaran IR64 saat itu sudah di 12 propinsi sentra produksi padi dengan proporsi (luas tanam) mencapai 45.4% dari total lahan 9.2 juta ha. Bayangpun…apa gak runyam banget tuh masalah yang dihadapi pemerintah saat itu. Habis gonjang gonjing politik, masalah pangan akan jadi sangat sensitif.  Gus Dur saat itu Presidennya, in case you forget! Intinya, Indonesia kembali ke masalah yang sama PRODUKSI BERAS. Nah di tahun itu, dikenalkan varietas Ciliwung, Barumum, Memberamo, Way Apo Buru, Widas dan Ciherang yang merupakan bibit hasil pemuliaan F1 dari bibit lokal sebelumnya. Pemuliaan bibit itu tidak mudah dan murah lho…membutuhkan riset berkepanjangan dan uji coba sebelum bisa dilepaskan. IR 64 perlahan mulai DITINGGALKAN oleh petani. Tetapi produksi padi nasional kita belum membaik, sehingga impor beras pun harus dilakukan sebagai salah satu kebijakan yang dipilih oleh pemerintah. Jalan pintas! 
Nah, periode 2004-2008. Pemerintah kita c.q Departemen Pertanian mengenalkan 19 varian padi: 16 varietas padi sawah irigasi dan 3 varietas padi rawa. 19 varian ini merupakan hasil pemuliaan bibit padi lokal (F1) yang merupakan penelitian Balai Besar Penelitian Padi Deptan. Disini ya, bisa kita lihat,  kebijakan pangan pemerintah bergeser bukan hanya sekedar mengejar produksinya, tapi juga kualitas beras dan ragam bibit yang disesuaikai kondisi lahan. Karena sawah di Jawa, tentunya beda dengan sawah di Sumatera, Kalimantan, Bali maupun Sulawesi. Juga jenis padi lokal yang beragam mulai diakui, padi tidak hanya di sawah irigasi lho…ada padi ladang (gogo) dan padi rawa.
FYI, padi ladang dan padi rawa itu yaaa…kualitasnya gak kalah lho sama basmati nya Punjab, India dan Jasmine Rice nya Myanmar. Atau bahasa kerennya padi rawa dan padi ladang itu adalah kualitas premium. Jelas bukan GMO. Dan ragamnya di Indonesia sungguh amat banyak, contohnya ya: Genjah Arum dari Banyuwangi, Bawor dari Pemalang, Melati dari Demak, Beras Merah, dan Beras Hitam. Di tahun 2005 pula, Departemen Pertanian mulai mengembangkan standar pertanian lestari (organik) dengan fokus di wilayah pantura Jawa Barat sebagai lumbung padi nasional dan wilayah Kalimantan. Piloting project dilakukan di kawasan Purwakarta, Jawa Barat. 
Nah, proses pemuliaan bibit lokal ini mengalami kemajuan signifikan. Sehingga pertanian mulai beralih pada bibit-bibit ini. Dan mulai tahun 2008, nama-nama varietas tidak lagi menggunakan nama sungai. Tetapi diganti dengan istilah Inpari (Inbrida Padi Sawah irigasi), Inpago (Inbrida Padi Sawah Gogo), Inpara (Inbrida Padi Sawah Rawa). Varietas-varietas lokal non GMO mendapat tempat yang sama dan diakui oleh Pemerintah dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pertanian (Pednis) Tanaman Pangan Komoditas Padi. Bersanding dengan bibit-bibit pabrikan swasta yang masuk dalam kategori hibrida. 
Nah, selama 2005 hingga 2009 inilah varian inpari, inpago, inpara berkembang pesat hingga kini untuk Inpari sudah sampai jenis Inpari 44. Sedangkan untuk Inpago sudah ada 12 macam varian dan Inpara sebanyak 9 varian. Varian-varian ini menjadi ragam dalam bentuk bulir (short, medium, long), rasa, aroma, ketinggian lahan dan karater pulen/ pera.  Terus IR 64? Hmmm…lama gak kedengaran tuh…😑
Duuuuh, kurang piknik deh gw !
#myjourney #workingmom #creativehead #indexpolitica #padi #inpara #inpago #inpara #ir64 #revolusihijau #GMO #pertanianlestari

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..