Dawuh Kiai Sutara

Penggagas dan pendiri negara Indonesia, kata kiai saya, adalah orang-orang Islam di samping juga penganut agama-agama lain. Orang-orang Islam yang mendalami ajaran Islam dalam tradisi keilmuan berabad-abad itulah yang menggagas dan mendirikan NKRI. Mereka di antaranya adalah KH. Wahid Hasyim, putra pendiri Nahdlatul Ulama. Sehingga jelaslah, NKRI aman. Dan final.

Negara kesatuan ini, lanjut kiai saya, didasari ayat Allah “wa laa tafarraqu” (dan janganlah terpecah-belah). Tak ada konsep dan bentuk negara dalam ajaran Islam. Yang ada hanyalah prinsip bernegara, yakni kemanusiaan, keadilan, pengentasan yang lemah, penegakan hukum, kejujuran, musyawarah.
Ancaman terhadap NKRI bukan agama, suku, atau golongan. Tapi, ancaman terhadap NKRI adalah ambisi berkuasa dari sisa “kekuatan lama” bersenjata, tapi jadi agak bernyali lantaran bersinergi dengan para pemodal raksasa hari ini. Penguasa yang menjadi pengusaha, dan pengusaha bakhil yang kesepian kemudian “kumat” ingin jadi penguasa, dipuja-puja. Mereka memanfaatkan kebodohan beragama dan kemiskinan atau kesenjangan sosial dengan isu agama dan SARA untuk memecah-belah agar dapat berkuasa dan berbisnis dengan mudah, dan seenak udelnya. Kemiskinan dan kebodohan, kesenjangan sosial dan kesewangan kapital serta lemahnya hukum lantaran digoda duit pemodal yang kumat, itulah ancaman. Istilah “Islam radikal” yang tidak toleran itu cuma boneka dari pemodal-pemodal kumat yang memanfaatkan ambisi dari sisa kekuatan lama tersebut, yang sudah cukup sulit mendapat simpati rakyat lantaran “cacat sejarah”. Agama dan SARA dijadikan alat, cuma satu-satunya alat bagi mereka untuk berkuasa, selain itu, tak lain adalah penyakit lama, yakni kudeta bin makar. Itu sudah asam-garamnya politik, dan rakyat negeri ini punya pengalaman sejarah yang panjang, ia cukup tahu bagaimana menghindari jurang yang sama dalam sejarah dengan cara yang unik.
Demikian Kiai Sutara mengatakan kepada saya sambil menyandar di kursi rumahnya yang kuno. Sebagai santri, saya sami’na wa atha’na (patuh dan memegang teguh nasehat).
“Lalu, bagaimana cara menghadapi semua itu, Kiai?” tanya saya.
“Mudah saja. Jangan goblok, jangan mau digoblokin!” jawab beliau.
“Berarti harus belajar dan selalu berpikir kritis, Kiai?” ujar saya sambil menundukkan kepala. Sebagai santri, su’ul adab (tidak sopan) menatap wajah kiai. Tapi, Kiai Sutara tak merespon perkataan saya barusan. Saya beranikan diri mengangkat kepala saya, ternyata Kiai Sutara sudah tertidur pulas di kursinya, sebentar kemudian mendengkur dengan tenangnya.
2017

Diambil dari wall Facebook: Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..