Fadli Zon dapat Karangan Bunga

Ribuan karangan bunga sebagai ungkapan rasa simpati dari warga masyarakat yang dikirimkan kepada Basuki-Djarot sebagai paslon Gubernur DKI Jakarta yang kalah pada Pilkada yang lau, menggelitik banyak orang untuk berkomentar.

Salah satunya adalah dari Fadli Zon. Ia mengatakan bahwa karangan bunga yang dikirimkan ke balaikota itu merupakan pencitraan murahan.

Tak pelak komentarnya itu pun mendapat berbagai respon balik. Salah satu respon yang unik adalah dengan terpajangnya sebuah karangan bunga di dalam gedung DPR RI yang ditujukan untuk Fadli Zon.

Hanya saja tulisannya akan membuat kita tertawa.

“Dear Bapak Fadli Zon,

Titip bunga di sini ya!!

Karena balaikota sudah penuh.

Tim Pencitraan”

Tentu saja hal ini merupakan guyonan dari warga masyarakat untuk menyindir Fadli Zon atas komentar miringnya terhadap spontanitas para pendukung Basuki-Dajrot dalam mengekspresikan perasaan kecewa mereka.

Pencitraan (image creating) itu bagian dari teknik propaganda dalam advertising/periklanan.

Pencitraan diperlukan untuk mendapatkan hasil meningkatnya awareness publik akan suatu hal, untuk kampanye.

Tujuan akhirnya, ya untuk membuat laris sebuah produk.

Dalam politik, image creating ini digunakan untuk meningkatkan elektabilitas kontestan politik.

Lha, ini kompetisi politiknya sudah selesai. Pemenangnya sudah ada. Maka yang kalah sudah tidak ada target lagi untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Meski sudah tidak lagi berpengaruh terhadap jabatan gubernur, Ahok yang akan purna tugas pada Oktober 2017 dan digantikan oleh Anies Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta terpilih, toh karangan bunga masih saja berdatangan ke balaikota.

Sampai pagi tadi (28/04/2017) jumlah karangan bunga telah mencapai 4.007 buah. Padahal Basuki dan Djarot telah mengimbau untuk tidak perlu lagi mengirimkan karangan bunga, namun spontanitas kecintaan para pendukungnya tidak bisa dibendung.

Selain karangan bunga, ada saja persembahan kreatif dari para pecinta Ahok-Djarot, mereka membawa banyak boneka Nemo untuk Ahok.

Sebagaimana sebelumnya pada Hari Selasa, (25/4/2017) Ahok membacakan pledoinya dalam sidang kasus dugaan penistaan agama, sempat menukil kisah dari film anak-anak, Nemo. Dalam film Nemo ada adegan dimana Nemo mengajak ikan-ikan lainnya untuk berenang melawan arus agar tidak tertangkap jaring nelayan.

Selain membawa banyak boneka Nemo dan karangan bunga, mereka juga membawakan nasi tumpeng dan cake untuk Basuki dan Djarot.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Profesor Thamrin Tomagola yang hadir di Balaikota pada Rabu 26/4/2017 mengungkapkan bahwa, dalam sejarah Jakarta, gubernur yang berkarakter, yang benar-benar membentuk Jakarta itu cuma 2, Ali Sadikin dan Ahok.

“Waktu Ali Sadikin berhenti, tidak ada karangan bunga seperti ini. Nah karangan bunga begini banyak seperti lautan ini karena rakyat kecewa cara-cara menangnya. Menangnya kan dengan cara menyebarkan kebencian, menakut-nakuti, segala macam itu. Jadi sebenarnya yang sekarang terjadi ini, yang menang itu memang mendapatkan kursi kekuasaan, tapi yang kalah merebut hati rakyat,” pungkasnya.

(ES)

Erri Subakti

Erri Subakti

Analis sosial budaya, pegiat sosial media, penulis, saat ini sedang mempelajari digital marketing. Follow me @errisubakti ( https://twitter.com/errisubakti )