FDS, Upaya Cetak Anak Bangsa Linglung

Oleh: Matin Syarkowi (Ketua PCNU Kota Serang, Pengasuh Pesantren al-Wathoniyah)

Kebikajan Lima Hari Sekolah menurut saya akan terus mengemuka di kancah polemik public sekaligus menuai gelombang protes yang “menggulung” di kehidupan bermasyarakat utamanya menyoal dunia pendidikan Indonesia. Bagi pelaku pendidikan (baca: anak, guru dan oraang tua murid) sesungguhnya “ontran-ontran” Full Day School menjadi sesuatu yang kebetulan untuk mengungkapkan ke khalayak dengan titik pijaknya ke Pemerintah, betapa kebijakan Lima Hari Sekolah dalam prakteknya tidak berbanding lurus dengan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Buat saya alasan yang paling sederhana, bahwa senyatanya lima hari sekolah menekan anak didik dan tidak serta merta menjadikan anak lebih pintar dari kebijakan pendidikan sebelumnya yang memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak murid untuk sekolah di Madrasah Diniyah. Dalam konteks ini –untuk membuktikan- silahkan para pembaca bertanya dan investigasi kepada para orang tua.

Kebijakan menteri soal FDS dengan berbagai dalilnya tidak sesuai dengan fakta lapangan. Fakta bahwa selama ini dengan sistem yang ada termasuk di dalamnya UN hanya menjadikan lembaga pendidikan justru seperti menjadi lembaga pengadilan yang memvonis anak didik “bodoh” dan “pintar”. Pertanyaanya apakah lembaga pendidikan tugas dan fungsinya hanya seperti itu? Artinya penambahan waktu belajar berarti memperpanjang waktu untuk bisa “linglung”. Dengan demikian nantinya akan lahir kader-kader yang terlatih melamun. Tentunya bukan hanya siswanya tetapi juga termasuk para pengajarnya.

Selain itu seharusnya pemerintah melihat fakta lain, bahwa pendidikan bukan hanya aspek matrial tetapi juga aspek spiritual dan moral. Dan lembaga pendidikan umum selama ini dengan jam yang ada sudah gagal membangun karakter. Seandainya saja tidak dibantu oleh pendidikan diniyah maka kegagalan itu akan semakin besar dan meluas. Kebijakan FDS akan mematikan lembaga pendidikan diniyah yang justru selama ini menjadi bengkel moral dan spiritual anak didik.

 

Maka pemerintah tidak perlu ragu untuk membatalkan Permendikbud tentang Lima Hari Sekolah itu untuk menyalamatkan anak bangsa dari kelinglungan.

Tulis tanggapan anda: