Festival Gunung Slamet 2017 Purbalingga

Festival Gunung Slamet adalah sebuah perayaan atau pesta rakyat yang diselenggarakan oleh Desa Wisata Serang, Purbalingga. Dalam rangka pelestarian kesenian dan budaya yang ada di Purbalingga, khususnya Desa Serang. Festival Gunung Slamet 2017 ini adalah Festival Gunung Slamet yang ketiga kalinya, setelah festival pertama yang diadakan pada tahun 2015.

 

Ada beberapa rangkaian acara yang diselenggarakan di Festival Gunung Slamet 2017. Ritual air sikopyah adalah salah satu rangkaian acara penting yang ada di Festival Gunung Slamet 2017. Selain acara pelestarian budaya tersebut. Masih banyak lagi rangkaian acara di Festival Gunung Slamet 2017 ini. Seperti Pertunjukan Ebeg, Perang Tomat, Dopokan Bareng, Pentas Musik, Ruwat Budaya, Wayang, dan lain sebagainya. 

Festival Gunung Slamet 2017 kali ini diselenggarakan pada tanggal 21 sampai 23 September 2017 yang bertempat hampir keseluruhan di D’las (Deswita Lembah Asri Serang).

 

Acara kali ini menjadi sebuah acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena mempunyai beberapa inovasi acara dari tahun-tahun sebelumnya, seperti kampung dodolan, sunrise gunung malang, akustik gunung, dan dopokan bareng.

 

Diawali dengan salah satu rangkaian penting yang ada pada setiap Festival Gunung Slamet, yaitu Ritual pengambilan air sikopyah sampai dengan persemayaman.

Ritual ini adalah salah satu bentuk pelestarian budaya yang ada di Desa Serang Purbalingg Jawa Tengah sejak zaman dahulu.

Ritual ini ialah mengambil air suci dari mata air Sikopyah menggunakan lodong, atau bambu yang sudah di bentuk sedemikian rupa. Yang diikuti sekitar 777 orang yang membawa lodong secara berbaris, beriringan.

Yang nantinya setelah pengambilan air suci tersebut, akan disemayamkan selama 2 hari di Balai Desa Serang, yang selanjutnya akan dibagikan kepada masyarakat pada tanggal 23 September 2017 pada acara Ruwat Bumi.

 

Lomba masak pada acara FGS tahun ini diikuti oleh ibu-ibu PKK yang ada di Desa Serang

 

Selanjutnya ada pertunjukan tek-tek, atau orang Banyumas menyebutnya ‘kenthongan’ sebuah pertunjukan musik bambu yang tentunya asik untuk kita lihat dan dengarkan. Dengan gaya lincah penari dan selendangnya, atau dengan pemukul kenthong yang atraktif dengan berbagai macam lagu yang kompak dinyanyikan

Lalu pada malam harinya akan diadakan juguran, dan dopokan bareng. Yang di dalamnya akan membahas beberapa tema dengan narasumber yang ahli dalam bidangnya.

 

Diawali dengan pertunjukan tek-tek lokal yang akan menghibur wisatawan dan masyarakat sambil menunggu registrasi yang akan melakukan perang tomat.

Lalu selanjutnya adalah perang tomat. Perang tomat sendiri adalah sebuah bentuk visualisasi tentang perjuangan para sesepuh Desa Serang dalam memertahankan wilayahnya, dari orang-orang yang ingin merebut dan menguasai tanah Serang yang subur, makmur, serta dengan sumber air yang tidak pernah surut walaupun pada musim kemarau panjang yaitu sumber mata air sikopyah.

Untuk mengenang perjuangan dan jasa para sesepuh serang tersebut maka diadakanlah prosesi atau acara perang tomat ini.

Dan perlu diketahui, bahwa perang tomat ini menggunakan tomat yang apkir atau sudah tidak layak dan tidak dapat dipakai lagi.

 

Selanjutnya ada penanaman pohon yang bertujuan untuk menyuburkan tanah Desa Serang dan bentuk nyata dari pemerintah sebagai kecintaan pada tanah Desa Serang ini.

Lalu pada waktu yang sama, diselenggarakan pentas seni kuda kepang, atau biasa dikenal sebagai pentas seni ebeg. Kesenian ini menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan kuda kepang ini dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul, dan cepet.

 

Pada malam harinya diadakan Akustik Gunung, sebuah acara musik dengan iringan akustik. Ini adalah salah satu puncak acara dari Festival Gunung Slamet 2017 ini. Akustik Gunung kali ini bakalan dimeriahkan oleh Pongki Barata, seorang musisi yang sudah bergelut di dunia musik dari tahun 90an sampai saat ini.

 

Mau tahu bagaimana kemeriahan dan keseruan Festival Gunung Slamet tahun ini? Ayok datang dan ramaikan dengan teman, sahabat, keluarga, atau siapapun, dengan tujuan untuk mengenal dan melestarikan budaya

 

Diawali dengan beberapa acara yang dijadikan satu rangkaian acara yaitu pawai budaya, ruwat bumi, dan pembagian air sikopyah. Pawai budaya ini akan diisi oleh masyarakat Desa Serang, dengan menampilkan beberapa budaya yang ada di Desa Serang. Lalu ada ruwat bumi, yang membawa iring-iringan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah atas kemakmuran Desa Serang.

Setelah itu ada pembagian air suci sikopyah, yang dimana nanti, air-air yang sudah disemayamkan dalam lodong di tempat persemayaman (balai Desa Serang) akan dibawa ke D’LAS atau biasa yang kita ketahui sebelumnya dengan Rest Area secara beriringan. Di D’LAS nanti, air-air suci sikopyah tersebut akan dikumpulkan menjadi 1 wadah lalu dibagikan kepada penonton dan masyarakat

 

Selanjutnya pada siang hari ada pentas seni dan budaya. Ada berbagai macam budaya yang akan ditampilkan, pada acara ini juga akan diadakan lomba tari yang diikuti oleh beberapa sanggar tari yang ada di Purbalingga.

 

Lalu pada malam harinya, ada salah satu puncak acara yang ada di Festival Gunung Slamet 2017 yaitu wayang kulit.

Selanjutnya pada jam yang sama, akan diadakan open trip sunrise di Wadas Gantung, atau pos 1 pendakian gunung slamet via gunung malang.

Tulis tanggapan anda: