Harlah PMII Bangkit Dari Sepi Kembali Pada Jati diri PMII

Jakarta – Dalam rangka hari lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-57 ini. Ada dua poin penting yang seharusnya tidak terlupakan oleh seluruh kader PMII se-Indonesia di mana pun mereka berada. 

Kedua poin tersebut merupakan cita-cita yang tersinergi dalam kemajuan bangsa Indonesia untuk terus mengawal NKRI dan Pancasila (keindonesiaan) dan keinginan luhur untuk senantiasa menganggungkan nama Allah dalam ideologi para kader (keislaman).

Sejarah telah membentuk organisasi pergerakan yang lahir dari rahim organisasi masyarakat terbesar yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Para founder PMII mengingikan kebebasan dalam artian dapat mengawal bangsa ini utuh tanpa terikat oleh partai maupun interfensi negara maupun pengusaha.

Prinsip ini merupakan poin pertama yang menjadi cita-cita para founder PMII untuk menyatakan diri, bahwa organisasi PMII merupakan organisasi mahasiswa yang murni bergerak atas kepentingan rakyat ploletar, bukan para penguasa maupun pengusaha.

Namun, realita yang nampak hanyalah wajah pecundang yang melacur dengan para penguasanya. Sehingga, PMII tidak berani untuk mengkritisi dan menjadi solusi atas bobroknya pemerintahan hari ini. Perpecahan antar agama, berita korupsi yang setiap hari muncul di media, narkoba, pembunuhan, bahkan Pilkada DKI Jakarta telah mematikan demokrasi negri ini.

Wacana di atas adalah salah satu urgensi kebangsaan yang harus dikawal dan diawasi oleh PMII, bukannya malah menjilat pantat penguasa yang jelas memiliki kebobrokan dalam menjalankan roda pemerintah.

PMII hadir untuk menjadi solusi bangsa ini, PMII hadir untuk mengawasi bobroknya pemerintah, dan PMII hadir bukan dalam ajang pembuatan prasasti semata. Tapi, PMII hadir untuk kepentingan kalangan masyarakat bawah.

Poin yang kedua adalah, bahwa PMII merupakan organisasi Islam yang percaya bahwa di dalamnya mengindahkan kaidah dan nilai-nilai luhur serta adab dalam Islam itu sendiri. PMII memberikan keluwesan dalam berideologi bagi kadernya serta menjadi penengah dalam persoalan keagamaan yang bermasalah dalam negri ini.

PMII adalah wadah toleransi dalam balutan Islam, menjaga tradisi Islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik (fiqih), dan hakikat (Tasawwuf dan Akhlaq).

Namun, apa jadinya jika ASWAJA tidak diindahkan lagi oleh PMII, yang terjadi adalah munculnya dan mengemukanya kelompok-kelompok Islam radikal seperti ini. Harus kita akui, pasca isu agama yang digoreng habis-habisan pada Pilkada DKI Jakarta menjadi kesempatan para kelompok Islam radikal tersebut.

Sehingga, ibu kita sendiri, NU, menjadi bahan olok-olok para Islam radikal. Sedangkan PMII malah berdiaspora menjadi kepentingan para pemangku politik. Naas memang, kesadaran dalam menjaga marwah Islam Aswaja berubah menjadi wajah buram dalam keislaman, menghianati cita-cita PMII dan menjadikan PMII hanya sebuah legitimasi atas kerja organisasi belaka.

PMII yang menjadi partisian dalam politik, menjadi kolaborasi atau sinergi yang sangat ampuh untuk merusak dan membunuh pergerakan dan Islam ASWAJA.

Maka dari itu, PMII harus sadar dari mabuk panjangnya, saatnya sadar begitu angkernya negeri ini bagi masyarakat bawah. Karena jabatan kepengurusan PMII bukanlah kontes pencarian bakat, melainkan memperkuat basis dalam mengawal NKRI, Pancasila, dan Islam ASWAJA.

Kedua poin di atas merupakan kajian panjang yang terolah dalam kesadaran akan bobroknya negri ini dalam sketsa para pejuang (PMII) yang menggonggong pada majikannya. Malulah PMII, saatnya menjadi pencerah, bukan menjadi budak-budak politik.

Segera susun strategi, mulai kembali pada cita-cita luhur yang selama ini tergambar jelas oleh founding founder PMII terdahulu. Dari kata-kata ini, setidaknya menjadi bahan kritis dan diskusi para kader PMII se-Indonesia. Wallahu A’lam Bishawab…

Salam Pergerakan