Historis Dalam Balutan Kolosal Warnai HUT TNI

Usai upacara peringatan HUT TNI ke 72, drama kolosal yang digarap sutradara sekaligus penulis skenario  yang akrab disapa Agus Gondrong ini, memberikan tampilan terbaiknya dihadapan publik. Sosok Mayor Jenderal Moestopo yang lahir di Kediri pada 1913 dan meninggal dunia pada 1986 silam, diangkat historisnya dalam bentuk drama kolosal yang dilangsungkan di lapangan Makodim 0809/Kediri hari ini, kamis (05/10/2017)

 

Para pemeran drama kolosal berasal dari latarbelakang yang berbeda-beda, dari ruang lingkup TNI hingga Polri, Satpol PP, Mahasiswa, Pelajar hingga mereka yang tergabung dalam sanggar. Seluruh pemeran juga harus menempuh latihan selama 2 pekan dan secara berturut-turut juga, sang sutradara mengawasi langsung kekeliruan atau kesalahan dalam konteks penyesuaian teks naskah drama kolosal ini.

 

Tiap-tiap chapter selalu mengusung visual cerita sebagaimana tertulis dalam teks naskah drama kolosal ini. Setiap visual cerita memunculkan pemeran yang membawa imajinasi penonton, untuk tahu kondisi seperti apa saat itu dan apa yang dilakukannya, dengan gerakan atau perilaku hingga conversation text dari sang penulis skenario.

 

Setiap conversation text, juga menjelaskan apa yang ada dalam pikiran pemeran dalam memainkan sosok yang diperankannya, sesuai arahan dari sang sutradara. Dalam setiap chapter ada salah satu figure atau lebih yang ditonjolkan, sebagaimana drama kolosal pada umumnya, sosok figure ini berperan menggiring imajinasi penonton untuk mengetahui secara jelas, maksud dari tampilan para pemeran.

 

Alur cerita sendiri diawali dari era masa kolonial Belanda dan berlanjut masa kolonial Jepang. Segala kesusahan atau kesengsaraan akibat dibawah pemerintahan kolonial tergambar jelas dalam beberapa chapter. Pesan moral juga diusung dalam drama kolosal ini, sekaligus memberi makna tersendiri dari historis yang sebenarnya.

 

Visual cerita yang menggambarkan detik-detik Proklamasi juga ada dalam teks naskah drama kolosal ini, dan lagi-lagi para pemeran menggiring imajinasi penonton terfokus pada komunikasi radio yang identik sebagai informasi faktual di masa itu. Jelang chapter terakhir, diceritakan peperangan antara pejuang dengan penjajah yang datang kembali usai Proklamasi dikumandangkan. Cerita klasik mengakhiri drama kolosal ini, yaitu kebahagiaan seluruh bangsa Indonesia dalam bentuk tari massal.

 

Kodim Kediri bersama Pemerintah Daerah setempat ,sebelumnya juga menggelar drama kolosal serupa dengan genre yang berbeda, saat puncak HUT RI ke 72 berlangsung. Drama kolosal ini digelar terkait dengan momentum HUT TNI ke 72 yang jatuh pada hari ini.

Tulis tanggapan anda: