Indonesia, Simbol Kekuatan Islam ?

Oleh : Endang Tirtana

Beberapa waktu yang lalu penulis bersama beberapa tokoh agama, intelektual, pers dan unsur Pemerintah diundang pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk menunaikan ibadah Umroh sekaligus melihat perkembangan pembangunan dua masjid haram (haramain), yakni masjid makkah al-Mukarramah dan Masjid Nabawi Munawwarah. Dua masjid ini merupakan simbol pemersatu dan perekat umat Islam. Yang d undang dan berkesempatan berangkat dalam rombongan ini, untuk menyebut beberapa nama, adalah Yudi Latif (Intelektual Muda Islam), Bambang Setiadji (Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta), Yogi Sugito (Rektor Universitas Brawijaya Malang), Ali Salim (pemimpin Umum Harian Birawa, Surabaya), Atang Heradi (Kapolresta Malang), dan Tubuh Musyareh (Kapolres Malang).

Selama perjalanan, kami melakukan kunjungan serta ziarah ke tempat-tempat bersejarah, khususnya bagi umat Islam. Disamping itu, kami juga bersilaturrahim dan diskusi seputar perkembangan dunia Islam kontemporer. Salah satu tema menarik yang mengemuka adalah permasalahan dunia Islam dalam menghadapi kapitalisme global sebagaimana terungkap dalam pembicaraan dengan Syeikh Soleh Al-Husain (Imam B esar Masjid Haram Mekah), dan Imam Besar Masjid Nabawi.

 

“Selamat datang saudara-saudaraku di tanah kelahiran Rasulullah SAW, tempat memancarnya sinar peradaban Islam dan tanah air bagi seluruh umat Islam. Semoga saudara-saudaraku Muslim di Indonesia selalu mendapat keberkahan dan lindungan dari Allah SWT”, ucap Syeikh Soleh Al-Husein (70). Pria yang menjadi sahabat almarhum Muhammad Natsir ini bercerita antusias mengenai peran strategis Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan Islam. Kami pun hanyut dalam diskusi yang mengalir, penuh keakraban dan persaudaraan.

Harapan dan Dilema

Yang menarik dicermati dalam kesempatan ini ialah penilaian Ulama Kerajaan Arab Saudi terhadap peran strategis Indonesia di kancah dunia Islam. Menurut Syeikh Soleh Al-Husain, Indonesia adalah simpul kekuatan dunia Islam saat ini. Kemampuan masyarakat Muslim Indonesia menampilkan wajah Islam moderat dan toleran merupakan modal sosial utama umat Silam dalam memperjuangkan Islam sebagai rahmat semesta (rahmatan lil ‘alamin). Untuk itu, Indonesia harus memainkan peran strategisnya dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan dunia Islam di tengah hegemoni kqapitalisme global dan ketidakadilan global.

Apa yang dilontarkan Direktur Urusan Haramain dikuatkan oleh pandangan Imam Besar Masjid Haram, Syeikh Husein Al-Thalib. “Keragaman Indonesia menjadi modal sosial paling berharga dalam membangun Islam yang lebih moderat. Sikap tegas dan kritik tajam saudara-saudara di Indonesia terhadap kebijakan dan opini negatif yang dibangun dunia barat terhadap Islam memberikan kontribusi signifikan dalam merubah pandangan Barat terhadap Islam”, Ujar Syeikh Husein.

Bila kita tilik sejarah peran umat Islam Indonesia cukup besar dalam memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil dan beradab. Keikutsertaan Indonesia dalam forum-forum internasional memperjuangkan keadilan dan kepentingan masyarakat Islam yang hidup dalam bayang-bayang tirani imprealisme global meruapak fakta yang tidak bisa dibantah.

Tentu sinyalemen seperti ini bukan hal baru didengar. Sudah cukup banyak analisis yang mendahului komentar kedua orang yang kami temui tersebut. Namun menjadi terasa beda karena hal tersebut dikemukakan oleh orang yang paling bertanggungjawab terhadap urusan haramain yang selama ini dikenal sebagai pusat konservatisme Islam, Wahabisme. Ya, karakter mainstream Islam Indonesia yang toleran dan moderat dalam kondisi kultural yang majemuk menjanjikan harapan akan kemunculan kekuatan alternatif Islam di pentas dunia. Sebuah nomenklatur Islam yang berbeda dengan arus bcorak keberagamaan Muslim di Timur Tengah.

Namun anehnya belakangan kita menyaksikan gerakan-gerakan yang bertujuan mereorientasi Islam Indonesia menuju Islam murni a la Timur Tengah, “Arabisasi”. Seakan-akan menjadi muslim tidak otentik bila tidak mengikuti corak Muslim Timur Tengah. Bukankah ini menyiratkan kita sedang mengalami krisis kepercayaan diri sekaligus disorientasi identitas sebagai Muslim Indonesia? Bagaimana mungkin kita mampu menjadi simpul kekuatan baru Islam di konteks global jika kita tercerabut dari akar kulturalnya sendiri? Mungkin kita mengalami dilema yang pada akhirnya bila dibiarkan akan mengikis jangkar kebudayaan dan peradaban yang sedang ditanamkan. Kalau ini terjadi, harapan kedua Syeikh di atas mungkin tinggal harapan belaka yang cuma menggembirakan sesaat, melintas cepat, ibarat air di daun talas. Wallahu’alam

 

————————–

Sumber : maarif vol 2, No.06, Des.2007

 

Tulis tanggapan anda: