Ingin Mondok

Adalah Salikin, seorang anak desa yang tidak begitu ndesa, karena saat itu di desanya sudah ada listrik walupun pakai tenaga diesel. Sudah ada televisi walaupun hitam putih. Tapi masih juga ndesa karena di samping rumah warga masih ada kandang kerbau dan kerbaunya yang diperbantukan untuk membajak sawah. Di pagi hari masih juga ada orang yang buang air di kali dan sekaligus mencuci.

Salikin lahir dari dua keluarga yang berlainan karakternya. Dari jalur bapaknya keluarga Salikin berpegang pada adat kejawen. Apa – apa dihitung dari jimalutu, dari perjodohan, tanggal nikah, sampai pada hari nahas. Tapi beruntung bapaknya Salikin pernah nyantri di pondok pesantren. Berbeda dari jalur ibunya, khas santri. Semua anak-anak dari kakek jalur ibu rata-rata pernah nyantri, temasuk ibunya salikin.

Salikin tumbuh seperti anak-anak desa lainnya. Pagi hari sekolah, siang madrasah, ba`da maghrib ngaji Qur`an. Ba`da isya juga oleh Ustad Slamet, guru ngajinya Salikin seminggu sekali ada ngaji tambahan seprti tajwid dan safinah. Layaknya anak-anak,Salikin juga bermain-main. Bahkan ketika itu banyak macam permainan yang digemari Salikin. Sepak  bola sudah pasti. Ada juga permainan yang lain, seperti bentengan, petak umpet, kayangan, gatikan, boi-boinan, gobag sodor dan permainan lainnya yang menjadi hiburan alami anak-anak desa, yang tentunya gratis tanpa biaya plus sehat.

Kini Salikin sudah kelas 3 SMP, dan sudah waktunya ujian kelulusan sekolah. Entah, dapat bisikan dari siapa, atau mungkin ketika ada pengajian ada hal menarik bagi Salikin, atau juga ini memang hidayah dari Alla SWT sehingga tiba-tiba dia ingin berangkat mondok  setelah lulus SMP. Padahal bapak-ibunya tidak pernah memaksa Salikin untuk mondok. Sampai waktunya tiba, Salikin dinyatakan lulus sekolah. Salikin ngomong kepada bapak-ibunya ingin berangkat mondok. Orang tua Salikin akhirnya mengiayakan untuk memberangkatkan mondok Salikin, dengan catatan Salikin mendaftar dulu di SMA yang dekat dengan pesantren. Setelah diterima di SMA, Salikin ternyata tidak langsung berangkat mondok. Dia untuk sementara waktu berangkat dari rumah dulu naik angkot. Setelah dua bulan bolak-balik sekolah dari rumah, akhirnya Salikin tanya lagi kepada orang tuanya kapan berangkat. Rupanya Salikin sudah ngebet ingin mondok. Sebenarnya orang tua Salikin ingin segera memberangkatkan mondok Salikin, tapi terkendala biaya. Pucuk dicinta waktunya tiba, dengan naik angkot Salikin dan Bapaknya berangkat mondok. Turun dari angkot, mereka berdua langsung naik becak menuju ndalem Romo Kyai. Setelah sowan Romo Kyai, Salikin dan Bapaknya diantar santri senior menuju bilik pondok. Di bilik pondok, Salikin dititipkan Bapaknya kepada santri senior. Untuk sementara baju dan peralatan sekolah Salikin ditaruh di lemari yang ditinggal pemiliknya karena sudah boyong. Setelah semua urusan dianggap selesai, bapaknya Salikin pamit pulang. Walau pun keinginan mondok Salikin bukan dari orang tuanya, tapi karena tekadnya sendiri, dalam hati Salikin tetap menangis karena harus berpisah dengan orang tuanya. Dia harus memulai hidup baru tanpa tergantung dengan orang tuanya. Semua kebutuhan sehari-hari harus diatur sendiri. Pokoknya mandiri. Beberapa saat setelah ditinggal Bapaknya Salikin terdiam dan tertegun menahan sedih. Tapi suasana berubah setelah santri senior memperkenalkan kepada anggota bilik. Satu persatu mulai Salikin mengenal teman santrinya, akhirnya Salikin benar-benar memulai hidup baru di bilik pondoknya.

One thought on “Ingin Mondok

Leave a Reply