Ini Cara Telusuri Murid-murid Guru Mughni Betawi

Banten, jagatngopi.com–Dalam diskusi bertema “Jejak Guru Mughni di Tanah Betawi” ini, Gus Milal menjelaskan cara menelusuri murid-murid Guru Mughni di Jakarta dan sekitarnya. “Untuk menelusuri murid-muridnya guru Mughni Gampang, anda tinggal datangi Pesantren yang ada di Jakarta. Khususnya Jakarta Timur”, katanya di Islam Nusantara Center, Sabtu, (26/08).

“Salah satu menantu dari Guru Mughni itu putra Guru Marzuki. Kiai Naim (haji Naim). Kemudian KH. Nur Ali at-Taqwa Bekasi, menantu juga muridnya”, terangnya.

Kiai Muchtar Tabrani, Pesantren An Nur Bekasi. Termasuk beberapa pejuang kemerdekaan, Kiai Hasbiallah, Tokoh Hizbullah H. Darip pejuang Klender. Semua berhubungan. Jadi, muridnya Guru Mansur, juga muridnya Guru Marzuku, muridnya guru Mansur.

“Jadi kalau Ulama Betawi tidak memiliki sanad kepada Guru-guru tersebut, diragukan keulamaannya”, tegas penulis buku Masterpiece Islam Nusantara ini.

Sementara itu, cicitnya, Amirah A. Nahrawi menuturkan tentang bagaimana perjalanan kehidupan dan sikap keulamaan Guru Mughni. 

Ia juga menjelaskan bahwa Guru Mughni mempunyai cara pembelajaran yang intens dalam mengajar murid-muridnya di Mekkah.

Amirah mengatakan “Sistem pengajaran Guru Mughni sangat intensif, membatasi murid yang belajar hanya 6 orang”.

“Dengan cara pembelajaran seperti itu, beliau memastikan ilmu yang disampaikan bisa dipahami.

Sehingga membentuk karakter murid-murid yang berakhlak dan alim”, tambah dosen alumni Al Azhar ini.

Guru mughni bernama lengkap Abdul Mughni bin Sanusi adalah ulama bin Ayub bin Qoys. Lahir di Kuningan Batavia, sekitar tahun 1860 dari pasangan H. Sanusi bin Ayyub dan Hj. Da’iyah binti Jeran.  

Ia merupakan ulama ternama di Tanah Betawi pada zamannya, tepatnya di abad ke-19. Hampir separuh dari ulama kenamaan di Betawi pada masa sebelum kemerdekaan adalah murid-murid beliau.

Menurut penuturan Amirah, Banyak keturunan beliau yang jadi ulama besar. Diantaranya adalah KH. Abdul Razaq Makmun, KH. Ali Sibrah Malisi, KH. Sahrawardi, Kh. Hasan Basri dan KH. Zarkasi. (Damar Pam)

Tulis tanggapan anda: