Islam dan Kebhinekaan (Islam Melindungi bukan Mencaci Penganut Agama Lain)

Bagian Kedua

Oleh: agus salim thoyib 

Seperti telah saya terangkan sebelumnya bahwa Islam memberikan ruang penghormatan yang tinggi atas eksistensi agama lain. Pada bagian ini penulis coba mengekslorasi bagaimana Islam –dalam konteks kebhinekaan yang sesungguhnya sudah sunatullah- dengan kerahmatannya melindungi penganut agama lian–non muslim. Pengayaan pengetahuan seperti dimaksudkan penulis menjadi sangat penting ketika kita menyaksikan secara kasat mata betapa masyarakat sekarang cepat mengalami disorientasi keberagamaannya dan cepat tersulut emosinya hanya karena beragam perbedaan dan atau pilihan, wabilkhusus manakala bersinggungan dengan aspek politik. Kerawanan sosial yang bersumbu pada mengemukanya issu-issu politik sara, menurut hemat penulis, di beberapa tahun ke depan akan terus mengemuka, setidaknya karena 2 hal sebagai berikut. Pertama, keliaran dunia medsos akan semakin mendulang benturan emosi masyarakat. Alih-alih teleh diterbitkannya regulasi tentang Hate Speech nyatanya  belum mampu menjawab dan meredam “kebisingan” pengguna (baca: masyarakat). Kondisi ini dikarenakan para nitizen bukan lagi mengatasnamakan pribadi (individual user) tapi entitas atau kelompok tertentu (group user). Kedua, satu dua tahun ke depan agenda politik akan dilaksanakan baik pilkada maupun pilpres. Betapapun tahun-tahun politik tersebut akan menyeret kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia pada situasi yang rawan secara sosial, utamanya ketika dihadapkan pada persoalan politik sara, yang agaknya akan menjadi “menu menarik” yang disajikan oleh para politisi dalam berakrobat mencari simpatik masyarakat. Pada dataran ini, mengetahui bagaimana Agama (baca: Islam) melindungi dan melarang mencaci agama lain patut untuk diketahui, dimengerti dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Saling menghormati dan melindungi antar sesama adalah sikap mulia yang harus dimiliki umat Islam. Sebagaimana yang telah Rasulullah SAW praktekkan ketika menerima komunitas Kristen dari Najran yang tidak hanya menghormati dengan menerima bertamunya mereka. Tetapi lebih dari Itu, Muhammad membentangkan surbannya untuk melindungi mereka dari debu, selanjutnya duduk bersama dan menggayengkan perbincangan. Perlindungan Islam atas non muslim juga bisa dilihat bagaimana Rasulullah SAW marah besar ketika mendengar ada pembunuhan atas diri non muslim. Jalaluddin Assuyuthi dalam jamius saghirnya mengutip beberapa hadits yang diantaranya diriwayatkan Ibn Umar menyatakan bahwa, siapapun yang telah membunuh non muslim tanpa alasan yang benar, maka Allah benar-benar melarang baginya masuk Surga (Jamius Saghir, hal 177, lihat juga hal. 97, 158).

Perlindungan Islam atas umat lain apakah sebatas perlindungan pada pribadi? ternyata tidak. Islam juga  begitu lugas dalam menyoal pentingnya tempat-tempat yang menjadi peribadatan mereka. Tempat ibadah sebagai penyangga konsistensi keberagamaan mereka, pun Islam secara tidak langsung ikut merawatnya.

“……dan sekiranya Allah tiada monolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (al-Hajj: 40)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Islam tidak memperkenankan merusak, membakar apalagi mengebom  temat peribadatan umat lain seperti gereja, wihara, sinagog dan lainnya. Upaya perusakan tempat Ibadah mereka bisa dikatakan sebagai pengingkaran atas kesucian Islam yang sesungguhnya merawat keragaman yang semenjak awal Allah persembahkan sebagai khasanah alam raya.

Islam memandang keragaman (kebhinekaan) sebagi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Kebhinekaan sebagai sesuatu yang given dan niscaya. Oleh karenanya treatment Islam atas perbedaan sebagi sesuatu yang harus diterima bahkan dikenali (saling mengenal).

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsadan bersusku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertakwa di antara kamu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujarat:13)

Secara hierarkhis, setelah mengenal perbedaan yang digelar Allah SWT, sikap selanjutnya bagaimana merawat perbedaan tersebut. Sikap-sikap sensitif yang bisa menimbulkan ketegangan atas rekatan perbedaan, oleh Islam tidak diperbolehkan, seperti cacian, makian, apalagi dengan menghina agama lain.

Diakui atau tidak bahwa setiap manusia menginginkan apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka kerjakan itu dihargai oleh orang lain, apalagi berkenaan dengan keyakinan seseorang. Siapapun akan tersinggung dan marah ketika keyakinannya diganggu dengan ujaran kebencian dan cacian. Karena apa yang mereka yakini adalah kebenaran yang selama ini mereka cari dan harus dipertahankan walaupun harus bertaruh harta dan nyawa. Oleh karenanya, islam memandang setelah saling kenal mengenal kita diharuskan merawatnya dengan baik tidak memperlakukan sesama dengan cacian. Hal ini seperti dijelaskan al-Qur’an yang artinya :

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah, kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am; 108)

Islam, melalui Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita semua untuk saling mengasihi dan menyayangi antar sesama meskipun berbeda suku, agama, ras dan budaya. Islam mengajarkan hidup saling menyayangi dan mengasihi sebagimana yang diterangkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mujamma’ al-Zawaid: “…lan tu’minu hatta tarahamu. Qalu Ya Rasulullah kulluna rahimun qala: innahu laisa birahmatin ahadukum shohibuhu wlakinnaha rahmatunnasi rahmatul ummah : Tidaklah dikatakan orang yang beriman diantara kamu sekalian sehingga kalian saling mengasihi atau menyayangi. Sahabat berkata: Wahai Rasulullah kita semuanya (komunitas sahabat) sudah saling mengasihi. Rasulullah bersabda: Sesungghnya kasih sayang itu bukan hanya diantara kamu saja tetapi kasih sayang kepada seluruh umat manusia dan alam semesta’ (Mujamma’ al-Zawaid, juz 8, hal, 340)

Sampai di sini, penting untuk dipedomani siapapun, khususnya umat Islam bahwa sebagai makhluk sosial manusia dalam kehidupannya pasti akan membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Untuk itu kita harus berbaik hati antar sesama, menanamkan sikap saling menyayangi antar sesama tanpa harus melihat perbedaan ras, agama, suku dan golongan. Kesemuanya itu bukan tanpa tujuan, kerukunan dengan hidup saling berdampingan antar sesama adalah salah satu tujuan berkehidupan secara Islami (lihat QS. Al-Mumtahanah:8-9). Wallahu’alam bishshawab

 

 

 

 

 

 

 

   

Tulis tanggapan anda: