Islam dan Kebhinekaan (Penghormatan Islam atas Agama Lain)

Bagian Pertama

Oleh: agus salim thoyib

Kebhinekaan, atau kalau dalam term-term akademik sering disebut dengan pluralitas, secara umum adalah kenyataan yang dihadirkan Tuhan semenjak adanya kehidupan dalam konteks apapun. Keragamaan alam raya dengan berbagai jenis sub-ordinasinya baik yang kita liat dan rasakan adalah fakta yang tidak terbantahkan. Maka, ketika manusia adalah bagian dari kesemestaan alam, sesungguhnya kebhinekaan sudah memantik di setiap alur kehidupannya baik ketika menyoal tempat,  waktu, ideologi (baca: agama) bahkan sifat-sifat dasar yang menyertai manusia itu sendiri. Persoalannya kemudian, bagaimana Islam menyoal tentang kebhinekaan ?

Dalam perspektif Islam, kebhineakaan mendapat tempat yang begitu mendasar, khususnya di wilayah ide-ide normatifnya. Dalam konteks keragamaan agama misalnya, Islam memberikan tempat yang luar biasa dengan pengakuan bahwa ada eksistensi agama lain yang keberadaannya saling mendukung dalam relasi sosial. Hampir semua sepakat bahwa pijakan awal tentang bagaimana Islam memandang kebhinekaan adalah firman Allah SWT yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertakwa di antara kamu, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujarat:13)

Umat Islam, semenjak Jaman Rasulullah SAW hingga sekarang telah terbiasa hidup di tengah keragaman agama sekaligus menerimanya sebagai realitas sosial. Piagam Madinah adalah fakta yang menyajikan betapa kebhinekaan agama diakomodasi sedemikian rupa yang selanjutnya terejawantahkan dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu. Harmonisasi kerukunan antar umat beragama dalam rangka membangun kepentingan dan kemaslahatan bersama (umum) sangat dianjurkan sekali dalam Islam. Sebagaimana yang diterangkan dibeberapa kitab yang salah satunya Tafsir al-Munir, …almu’asyaratul jamilatu fi dunya bikhsabi dzahiri wadzalika ghairu mamnu’…: Menjalin hubungan baik dengan non muslim di dunia dengan sebatas dzahir itu tidak ada larangan…(tafsir al Munir, juz 1;93)

Membangun harmoni antar umat beragama merupakan sesuatu yang maha penting. Karena dengan tercipatnya hubungan baik antar umat umat beragama akan menghadirkan kehidupan yang damai dan menyejukkan. Sebaliknya jika terjadi kerenggangan antar umat beragama apalagi permusuhan, saling caci dan saling mencurigai hanya akan menimbulkan kehidupan yang jauh dari aman dan kedamaian. Contoh hubungan baik dengan umat lain pernah Rasulullah teladankan ketika bertransaksi (jual-beli) dengan seseorang yang beragama Yahudi. Di mana Nabi memberikan baju besinya kepada seorang Yahudi sebagai gadai dari 30 sha’ (lihat al-Maghazi hadits 4467). Dalam sejarahnya Muhammad juga pernah menerima hadiah dari Mukaukis, penguasa Mesir yang nota benenya non muslim, Riwayat inilah yang selanjutnya mendasari para faqih menghukumi boleh secara syar’i menerima hadiah dari seseorang dan atau kelompok non muslim.

Hubungan simbiosis-mutualisme antar umat beragama guna membangun kerukunan antar umat juga Muhammad contohkan pada perilaku yang mendasar dalam kehidupan antar manusia, yaitu saling maaf-memaafkan dan mempererat silaturahmi. Praktek saling memaafkan dicontohkan Muhammad ketika Pasca kemenangan fath al-Makkah. Muhammad begitu bijaksana memaafkan kaum Quraisy dan membebaskannya dengan mengatakan “pergilah kalian semua dan kalian hari ini adalah orang-orang yang dibebaskan”. Sedangkan pentingnya silaturahmi antar umat beragama sebagaimana Rasulullah menyuruh Asma’ binti Abu Bakar untuk menyambung tali silaturahmi dengan Ibunya yang kebetulan agamanya berbeda dengannya. (lihat Tafsir al-Qurtubi, juz 8:94)

Tidak hanya itu, Islam juga memperbolehkan mendo’akan non Muslim sebagaimana Muhammad mendo’akan seorang yang bernama Daus dan Ibunya Abu Hurairah di mana keduanya non muslim. Contoh lain adalah ketika Muhammad mendo’akan orang Yahudi yang kebetulan sedang bersin. Oleh karenanya berdo’a bersama antar umat beragama atau mendo’akan non muslim merupakan sikap yang mulia, dan ini sesuai dengan ketentuan syara’, karena hal ini juga mengacu pada apa yang telah Rasulullah SAW teladankan. 

Sampai di sini, betapa Islam menghormati eksistensi agama lain sebagai bagian dari kebhinekaan begitu tinggi. Kenyataan ini menegaskan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Pada bagian lain akan penulis coba eksplorasi bagaimana Islam melarang mencaci-maki agama lain dalam kerangka menerima dan merawat kebhinekaan. Wallahu’alam bishshawab.