ISLAM RADIKAL SEBAGAI ANCAMAN ISLAM MAINSTREAM

Oleh: Yahya Ma’shum (Ketua Lakpesdam NU Periode 2010-2015)

Hasil sensus penduduk tahun 2010 menyebutkan bahwa jumah penduduk Indonesia sampai dengan tahun 2010 sebesar 237.56 juta,  atau melampui prediksinya sebesar 5,56 juta (dalam predeksi  jumlah penduduk Indonesia di tahun 2010 mencapai 232 juta). Hasil sensus penduduk  tahun 2010 juga menginformasikan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih besar dari pada jumlah penduduk perempuan. Pendudukan laki-laki sebesar 119.630.913 jiwa  sedang penduduk perempuan mencapai 118.010.413 Jiwa.

Potret kependudukan antara kota dan desa mengalami perubahan .Terjadi pergeseran perbandingan antara penduduk desa dengan penduduk yang tinggal di  kota . Sensus tahun 2010 menunjukkan bahwa proporsi penduduk  yang tinggal  di kota semakin tinggi , yitu sebesar 49.8. Diperkirakan pada tahun 2030 penduduk yang tinggal di desa hanya 20% saja . Ini juga memberikan petunjuk yang kuat bahwa beberapa tahu kedepan merupakan tahun transisi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri dan informasi. Selain itu komposisi demografi penduduk Indonesia juga akan ditandai dengan banyaknya penduduk berusia 15-34 tahun mencapai 34.47 %, Kalau penduduk usia produktif secara optimal bisa berperan aktif sebagai penggerak ekonomi maka telah  terjadi yang disebut dengan Bonus Demografi yang termanfaatkan. Jika itu terjadi maka akan terjadi pula migrasi penduduk desa ke kota maupun pinggiran kota  semakin tinggi. Berbagai perubahan yang akan dialami oleh penduduk desa yang migrasi ke kota diantaranya adalah perubahan pola hidup. Yaitu dari masyarakat agraris ke industry, mayoritas penddk agama ke penddk umum, monokulture  ke multikulture, masyarakat tertutup ke masyarakat terbuka, informasi yang terbatas ke informasi  yang  tidak terbatas.  

Indonesia adalah Negara terbesar berpenduduk Islam.  Sebagian besar Islam di Indoesia adalah Islam Sunni yang memeiliki pandangan moderat, toleran dan inklusi. Sampai dengan tahun 2010 proporsi penduduk muslim kota dengan desa  seimbang yaitu mencapai 100 juta, diperkirakan pada tahun 2020 kondisi tersebut akan bergeser. Muslim kota  jumlahnya akan lebih besar dari pada muslim desa yaitu dengan proporsi sebagai berikut; Muslim kota mencapai hampir  140. Juta dan muslim desa hanya 100.juta.  Ini sejalan dengan kecenderungan terjadinya perpindahan pendududk desa menjadi penduduk kota, yag semakin besar. Ada empat tipelogi Muslim kota, menurut  hasil penelitihan lembaga penelitian   “ Al Vara “ mengkatagorikannya sebagai berikut:

1.      Kultural Konservatif dengan ciri-ciri diantaranya ; setuju munculnya perda syariat dibeberapa daerah, melakukan tradisi local keagamaan

2.      Kultural Moderat dengan ciri-ciri diantarnya; mendukung bila pemimpin pemerintah dari lurah sampai presiden dipilih secara demokratis. berpandangan bahwa islam adalah agama cinta damai, melakukan tradisi local keagamaan.

3.      Puritan Konservatif  dengan ciri-ciri diantaranya; penegakan amarma’rug nahi mungkar dengan tindakan kekersan, kurang mendukung bila di daerah itu didirikan rumah ibadah agama lain, yang mendapatkan  ijin .

4.      Puritan Moderat dengan ciri-ciri diantaranya ; kurang setuju menggunakan kekerasan dalam menghadapi kelompok yang tidak menggunakan syariat dan hukum islam, apalagi pemerintah atau lembaga formal, ritual keagamaannya islam murni.

Idonesia ini adalah negara multi etnik, multi agama dan beragam aliran agama . Satu segi masyarakat Indoensia masih dikenal oleh bangsa lain bahwa  masyarakatnya bisa memelihara perdamamain, kebersamaan saling tolong menolong. Meskipun demikian pada sisi lain  dengan beraneka ragam  agama dan aliran pada perkembangannya ternyata bisa merupakan wilayah berpotensi koflik antar umat beragama maupun antar aliran atau manzhab  dalam masing-masing agama. Kondisi ini telah berkembang sejak Indoesia memasuki orde reformasi.   

Konflik agama khususnya dikalangan Islam  di Indonesia baik dalam bentuk ferbal maupun non ferbal dipicu oleh beraneka pandangan keagamaan yang dipengaruhi oleh gerakan Islam radikal  yang berkembang di Timur Tengah.  Di Indoesia gerakan islam radikal  dapat di bedakan  dalam karakteristiknya sebagai berikut.  Pertama  kelompok Takfiri. Kelompok ini termasuk kelompok paling ekstrim. Kelompok ini paling mudah  menganggap kelompok lain yang tidak sejalan dengan label kafir. Jika sudah kafir maka halal darahnya untuk dibunuh. Ideologi takfiri bersumber dari ajaran Wahabi yang berkembang di Arab Saudi. Kedua  kelompok Jihadi. Ideologi takfiri menjadi pemicu lahirnya kelompok jihadi. Kelompok ini menganggap sistem Negara yang tidak menerapkan syariah Islam dianggap sebagai sistem kafir dan thogut. Kelompok ini melakukan gerakan jihad dengan kekuatan fisik terhadap Negara-negara yang dianggap sebagai musuhnya. Mereka melakukan teror dengan mengebom fasilitas umum dan penyerangan terhadap aparat kepolisian. Kelompok ini memiliki jaringan dengan gerakan radikal di Timur Tengah seperti ISIS dan al-Qaidah. Ketiga kelompok Siyasi. Kelompok ini termasuk kelompok berideologi transnasional  yang bergerak melalui jalur politik. Kelompok ini mendirikan partai politik dengan menggunakan simbol-simbol Islam. Kelompok Siyasi juga mendirikan ormas yang tujuannya mendirikan Khilafah Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Selain itu, kelompok ini juga  melakukan rekrutmen kepada pelajar sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Keempat kelompok Salafi. Kelompok ini paling getol menyebarkan ajaran Wahabi yang  mudah menuduh kelompok lain sebagai pelaku Tahayul/syirik, Bid’ah dan Churafat (TBC). Kelompok ini sering melakukan penguasaan Masjid-masjid perkantoran dalam menyebarkan ideologinya. Mereka menganggap bid’ah terhadap  beberapa kegiatan keagamaan seperti Maulud Nabi dan Isra’ Mi’raj. Mereka menuduh orang yang ziarah kubur sebagai penyembah kuburan. Kelompok ini dalam menyebarkan ajarannya menggunakan berbagai media baik media cetak, sosial media, radio maupun TV.                                            

Kehadiran kelompok-kelompok radikal ini sangat meresahkan masyarakat khususnya masyarakat islam  baik di perkotaan maupun di pedesaan. Dalam prospektif ideologis gerakan islam radikal secara sistimatis telah  menguasai beberapa pusat-pusat kegiatan keagamaan baik dikantor, kampus maupun komunitas khususnya diperkotaan. Tempat-tempat mana sebagaian besar adalah kelompok masyarakat klas menengah. Kehadiran kelompok ini secara berangsur telah mulai menggeser pemahaman keislaman yang selama ini diikuti yaitu islam yang mainstream kearah radikal maupun concervative.   Dari prespektif ideologis gerakan tersebut telah menguat dan secara sistimatis telah menguasai berbagai elemen termasuk pusat-pusat kegamaan disekolah, perguruan tinggi, perkantoran,  komunitas professional,  kelas menengah atas maupun menengah bawah perkotaan. Gerakan itu mampu menggeser cara pandang dan amaliah islam mainstream kearah conservative bahkan radikal. Gerakan tersebut  mempolitisasi agama dengan tema-tema islam kaffah, kepemimpinan/Khilafah, kembali kepada Alquran dan Al Hadist, cenderung mudah menarik simpati khususnya bagi mereka yang mengutamakan arti pentingnya simbol-simbol keagamaan normatif (perda syariah) untuk didorong kerana ruang public. Gerakan kelompok radikal selain menyerang ajaran islam Ahlusunnah wal jamah atau islam mainstream juga  anti Pancasila yang  dapat menjadi ancaman  bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakan islam radikal berorirntasi mewujudkan Negera Syariat Islam. Gerakan Islam radikal menjadi ancaman bagi kemajemukan bangsa Indonesia yang selama ini menjadi pondasi kesetabilan keagamaan sosial dan budaya.bangsa Indonesia.

Karena itu, gerakan kelompok radikal tersebut  menjadi tantangan bagi ormas Islam  mainstream maupun lembaga Swadaya Masyarakat yang juga setia terhadap penegakan pelaksanaan Pacasila maupun penyelenggaraan  NKRI, selain pemerintah, aparat keamanan, serta warga bangsa ini.