Itu Macannya Pondok

Para santri memanggilnya Kyai Dowi. Satu-satunya pengasuh yang disegani para santri, baik putra maupun putri. Bu Nyai sepuh sendiri pernah mengatakan kepada anak-anaknya, kalau dia hanya memanggil kyai kepada Kyai Dowi. Yang lain hanya dipanggil namanya saja.

Kyai Dowi dikenal dengan Kyai yang disiplin dan mutafannin ( menguasai beberapa fan ilmu). Santri merasa senang kalau diajar Kyai Dowi, karena penjelasannya mudah difahami. Selain itu, hampir jadwal ngaji dan pelajarannya tidak pernah libur. Kyai Dowi sangat bertanggung jawab kepada para santrinya. Beliau selalu mengontrol keikutsertaan santridalam kegiatan pondok. Termasuk juga menta`zir santri yang diketahui melanggar aturan pondok.

Kyai Dowi termasuk Kyai yang ketat dalam hukum. Beliau tidak mengijinkan santri putrinya pakai celana, apalagi mbonceng motor seperti laki-laki, sangat tidak suka. Kedisiplinan Kyai Dowi tidak pandang bulu, termasuk anaknya. Suatu hari anak perempuannya diketahui nonton pasar murah. Kyai Dowi sangat marah, sang anak dihukum untuk mengisi kolam wudhu dengan timba dari sumur sampai penuh.

Tradisi ta`zir atau hukuman bagi santri dalam pesantren salaf bermacam-macam. Dari hukuman ringan, seperti digundul, disuruh nguras WC, nyapu halaman pondok, berendam dikolam ta`zir sampai hukuman yang besar yaitu dikeluarkan dari pondok.

Tapi Kyai Dowi sebenarnya sayang terhadap santrinya. Buktinya kalau ada santri yang habis dita`zir biasanya disuruh makan di ndalem, serta dinasehati agar jangan diulang lagi. Bagi santri yang walaupun dita`zir oleh Kyai Dowi tapi tetap mondok dan mau memperbaiki diri maka ilmunya benar-benar manfaat. Hal ini dirasakan oleh para alumni santri. Tapi kalau setelah dita`zir boyong, tak mau memperbaiki diri maka kebanyakan ilmunya tidak manfaat, bahkan susah hidupnya.

Ada salah satu santri yang melanggar peraturan pondok, kemudian oleh Kyai Dowi dihukum. Karena orang kaya, si santri melapor kepada orang tuanya, dan jadilah permasalahannya ramai. Saat itu masih zaman orde baru, aparat masih semena-mena. Si Bapak santri minta tolong kerabatnya yang ABRI untuk membalas perlakuan Kyai Dowi. Saat itu suasana menjadi tegang. Untuk menghindari kekerasan terpaksa Kyai Dowi disembunyikan. Para santri disuruh berdoa untuk keselamatan Kyai Dowi dan keamanan pondok. Akhirnya tak berapa lama pondok menjadi kondusif si santri durhaka dikeluarkan dari pondok.

Mungkin karena kualat dengan Kyai Dowi, orang tua si santri duhaka usahanya bangrut total. Rumahnya bahkan dijual. Si Santri durhaka menjadi orang jalanan, hidupnya tak jelas dan mengenaskan. Ya.. memang pantas jika Kyai Dowi disebut macan pondok.