Jawaban Djoko Edhi Atas Pernyataan Yusri Usman Terkait Cina di Indonesia

 

Terbalik, Yusri Usman menyebut “minoritas takut”. Di Indonesia, Cina menguasai 80% lebih ekonomi nasional. Sebentar lagi Cina menguasai politik nasional.

 

Yang ketakutan justru pribumi, yang Islam. Cina mah sangat berani, bahkan panggil Gubernur NTB si Tiko (tikus got kotor). Nine Swords menguasai preman, polisi, tentara dan birokrat.

 

Bahkan taypan yg menentukan Jokowi jadi presiden atau tidak. Ahok malah boleh ngamuk-ngamuk sambil teriak maling dan taik di televisi. Pribumi mana berani begitu. Takutlah. Cina berani. Jadi keliru berat kalau minoritas dimaksud takut.

 

Tak ada asumsi itu. Kalau pribumi bikin ulah, tak bisa kabur ke mana-mana. Kalau Cina, bisa kabur ke Tiongkok kapan saja berikut dengan hukum Ius Sanguinisnya. Bahkan pemerintahan Xi Jinping telah membuat UU Proteksi China Overseas tahun lalu untuk melindungi hoaqiau.

 

Tak ada data ketakutan yang dimaksud Yusri Usman. Setidaknya, tak saya temukan.

 

Pribumi Islam memang menang jumlah. Tapi kere, pecah belah, saling mengkhianati demi fasilitas dari Cina.

 

Tokoh-tokohnya dikasi makan Cina. Anak mudanya, tak ideologis. Orientasinya duit, perut, hedon, borju, dan short cut. Dikasih makan Cina lagi.

 

Di mananya data yg menyebut minoritas takut? Tak ada. Rang Ngarang kata orang Madura.

 

Saat ini, statistik Kompas menunjukkan jumlah hoaqiau di Indonesia 7.900.000 tahun 2009.

 

Hasil survei nasional BPS tahun 2014, jumlahnya meningkat menjadi 12 juta lebih. Sebanyak 2 juta lebih di Jakarta. Makanya jika ditambah hunian 1.860.000 Pulau Reklamasi Pulau G doang, sekurangnya bertambah 2 juta orang, menjadi 4 juta hoaqoau di Jakarta.

 

Konsekwensi logisnya tiap pilkada DKI Jakarta, niscaya dimenangkan Cina sampai akhir zaman, seperti Singapore. Apalagi Xi Jinping sudah pasang planning OBOR (one belt one road one china – satu sabuk satu jalan satu Cina). Neocortex warfare dan proxynya sudah siap.

 

Paradoks menurut saya memasang peran NU untuk mendukung Cina mengambil alih Jakarta, lebih jauh Indonesia, tapi dengan jargon NKRI.

 

Apanya yang NKRI, wong negaranya diserahkan kepada Cina. Paradoksal. Di mana hubbul wathon minal iman-nya? Hoax!

 

Pribumi yang mayoritas itu kini ketakutan dari kooptasi Cina. Tanah pertanian 78% manurut MS Ka’ban dikuasai Cina. 74% tanah produktif Jakarta dikuasai Cina dalam bentuk hak milik.

 

Sebanyak 80% lebih sektor keuangan menurut Salamudin Daeng, dikuasai Cina. Asset 4 orang Taipan sama dengan asset 100 juta penduduk Indonesia, kata Prabowo Subianto dalam “Paradoxs Indonesia”, 2017.

 

Mengerikan neo imperialisme itu. Lebih hebat daripada VOC. Kalau takut mati, itu tak ada masalah. Semua orang pasti mati takut atau tidak, dan maut adalah hak tiap orang. Melainkan takut dijajah. Itu subtansi.

 

Teror terhadap pribumi islam dari Cina sangat luar biasa. Dituduh radikal, ditembaki sniper, dikriminalisasi, dinyatakan anti Pancasila, intoleran, tidak bhinneka tunggal ika, et cetera yang terbit dua tahun belakangan.

 

Sori Bro, saya tak melihat data yang disebut “minoritas ketakutan”. Tapi sebaliknya.  

 

By Djoko Edhi Abdurrahman (Mantan Anggota Komisi Hukum DPR dan Wakil Sekretaris Pemimpin Pusat Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU).