Jilbab dan Rok Mini

(1)
Nama lengkapnya Abdurrahman. Tapi, ia lebih akrab dipanggil Kang Maman. Ia asli kelahiran Tasikmalaya 28 tahun yang silam. Pindah ke Jakarta tahun 1990, saat ia harus melanjutkan kuliah di IKIP, di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ayahnya seorang kiai. Pesantren ayahnya tidak besar, tetapi merupakan salah satu pesantren tertua di Tasikmalaya. Ayahnya diangkat menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia Tasikmalaya. Tentu saja ayahnya tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Konon, menurut cerita Kang Maman, setiap akan mengeluarkan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, semua bupati-bupati Tasikmalaya akan berkonsultasi terlebih dahulu dengan ayahnya.
Sebagai trah kiai, tentu saja Kang Maman sangat taat beribadah. Bahkan, ketaatannya di atas rata-rata mereka yang biasa dipanggil ustadz di tempat kami. Bayangkan saja, Kang Maman berpuasa sunat daud, yang sehari puasa sehari berbuka; lalu setiap hari sekitar jam setengah empat pagi, Kang Maman pun qiyamul lail untuk bertahajud dan bertadarus Alquran; dan Kang Maman selalu menunaikan sholat wajib dengan berjamaah di masjid. Bahkan, setiap bulan Kang Maman khatam membaca Alquran.
Di kontrakan kami yang penghuninya lima orang itu, tak ada yang memiliki kesantunan sebaik Kang Maman. Tutur katanya halus dan ditata sedemikian rupa agar orang tidak tersinggung. Ia pun mudah meminta maaf jika ia merasa melakukan kesalahan dan sangat mudah pula memaafkan. Rasanya, selama lima tahun bersama Kang Maman, tidak pernah kami mendengar Kang Maman berteriak, lebih-lebih membentak. Pernah suatu malam, aku terbangun ingin kencing. Saat itu sekitar pukul 3.30 dini hari. Aku membuka pintu kamarku dan aku melihat Kang Maman sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air deras keluar dari keran air.
“Ada orang, Kang?” tanyaku.
“Kayaknya ada. Pintunya tertutup dan lampu menyala,” jawabnya. Suaranya pelan, mungkin juga lembut.
“Oh,” kataku. Aku langsung balik lagi ke tempat tidurku. Sebab rasa ingin kencingku belum terlalu, aku pun berbaring lagi, sekejap aku tertidur. Tiga perempat jam kemudian, aku terbangun. Rasa ingin kencingku sudah meningkat, meskipun tidak terlalu. Aku membuka pintu kamarku, lalu melongok ke kamar mandi yang tidak jauh dari kamarku. Aku melihat Kang Maman berjongkok di depan kamar mandi. Suara air keluar dari keran terdengar jelas di pagi-pagi buta seperti ini.
“Menunggu, Kang?” tanyaku. Aku pikir ini kedua kali Kang Maman ke kamar mandi malam ini. Aku mengusap pojok mataku sebab terasa ada belek di situ.
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum.
“Sudah diketuk pintunya, Kang?”
“Sudah.”
“Oh.” Aku balik lagi ke tempat tidur. Aku tidur-tiduran, iseng aku membaca-baca koran kemarin. Lima belas kemudian aku sudah tak tahan ingin kencing. Aku keluar kamar menghampiri Kang Maman yang sedang jongkok di depan kamar mandi dengan sabar menunggu pintu kamar mandi itu terbuka.
“Benar, Kang, sudah diketuk?”
“Sudah. Malah, sudah dua kali dengan yang waktu kamu pertama kali bangun.”
“Hah!? Jadi, Kang Maman sudah menunggu selama satu jam?” kataku kaget. Tapi, segera saja aku maklum, begitulah Kang Maman yang sangat sabar.
“Coba, Kang, ketuk lagi” pintaku.
Kang Maman berdiri. Lalu, ia mengetuk pintu itu. Ketukannya sangat perlahan. Bahkan, ketukan itu  tidak lebih keras dari bunyi air keran dari dalam kamar mandi itu.
“Pantas saja orangnya tidak keluar, Kang. Ketukan Akang perlahan banget,” kataku, “biar aku yang mengetuk, Kang!”
Pintu itu pun aku ketuk. Dua-tiga-empat kali. Keras-keras lagi. Tok-tok-tok-tok!!!! Tapi, tak ada jawaban sama sekali. Aku mulai kesal, lalu berteriak, “Hei, ada orang tidak di dalam!!!?”
Tidak ada jawaban.
Aku jadi makin kesal sebab didorong rasa ingin kencingku yang sudah hampir tidak tertahan. Pintu tertutup itu aku dorong kuat-kuat. Braaak! Pintu terbuka dan di dalamnya tidak ada siapa-siapa.  Air sudah meluap keluar dari bak penampungan sebab keran air terbuka. Mungkin, sebelum Kang Maman terbangun sudah ada penghuni kontrakan lain yang masuk kamar mandi terlebih dahulu dan setelah selesai ia lupa menutup keran dan mematikan lampu.
“Kang, kosong!” teriakku. “Ternyata Akang menunggu selama satu jam padahal di dalam tidak ada orang, Kang. Sepertinya penantian yang sia-sia, Kang.”
Kang Maman hanya tersenyum, lalu katanya dengan lembut dan ikhlas, “Silakan kamu duluan.”

(2)
Sejak setahun yang lalu Kang Maman bekerja, menjadi guru di sebuah madrasah aliyah swasta. Dan, Kang Maman sangat senang sekali menjadi guru. Bahkan, saking senangnya menjadi guru, Kang Maman sampai-sampai menulis surat kepada orang tuanya, mengabarkan bahwa ia sekarang menjadi guru di madrasah aliyah.
“Coba bayangkan, pasti ayahku sangat bangga padaku, sebab anaknya bisa diterima jadi guru di madrasah aliyah di Jakarta, di Jakarta.” Begitu katanya, saat aku tanya kenapa harus menulis surat segala. Kata Jakartanya betul-betul ditekankan oleh Kang Maman.
“Memang berapa honornya, Kang?” tanyaku.
“Rp 5.000,- per jam.”
“Akang dapat berapa jam seminggunya?”
“20 jam, di tambah dua hari piket, honor piket sebulan Rp 50.000.”
“Jadi berapa honor Akang totalnya sebulan?”
“Rp 150.000 aja,” jawabnya tenang.
“Lah, kok, segitu sih Kang?” tanyaku heran, “Bukankah kalau seminggu 20 jam berarti sebulan dikali empat menjadi 80 jam, terus dikali Rp 5.000, ya honor ngajarnya sebanyak Rp400.000, ditambah lagi honor piket, berarti total semuanya Rp 450.000, Kang!”
“Hitungan honor guru tidak begitu. Kalau seminggu 20 jam, ya sebulan meskipun kita datang selama empat minggu ke sekolah, tetap dianggap 20 jam. Tidak lagi dikali-kali begitu,” jelas Kang Maman tersenyum.
Sejak mengajar dan punya gaji, sering Kang Maman mentraktir kami makan. Sebulan bisa empat kali traktiran. Janganlah dibayangkan mentraktir itu seperti mentraktir ke rumah makan. Bukan begitu. Maksudnya mentraktir adalah Kang Maman membelikan beras dan lauk pauk yang harus dimasak oleh teman-teman di kontrakan itu. Kami berlima bisa makan kenyang dengan biaya yang cukup murah. Ya memang, lauk-pauknya yang dimasak tidak jauh dari kangkung, ikan teri, dan sambal. Tetapi, itu sudah cukup mendekatkan kekeluargaan kami di kosan.
Satu hari Kang Maman belanja pakaian. Ya, itu awal bulan. Tampaknya Kang Maman baru saja menerima gaji. Pulangnya agak malam, rupanya ia pergi dulu ke supermarket. Ia pun membawa gorengan. Kami berlima dengan girangnya menyambut kedatangan Kang Maman. Ditunjukkannya apa yang dibelinya kepada kami.
Tetapi, sebab kami lebih tertarik dengan gorengan yang dibawanya, teman-temanku kurang memperhatikan pakaian apa yang dibeli Kang Maman. Hanya aku, yang sepintas melihat apa yang dibeli Kang Maman dari supermarket itu. Namun, aku pun tidak bertanya banyak saat melihat benda yang dibeli Kang Maman itu.  Dan, tidak punya pikiran apa-apa, mungkin juga sebab aku tidak terlalu memperhatikan kedua benda yang dibeli Kang Maman.
Beberapa bulan kemudian, Kang Maman pun membeli benda yang sama. Kali ini yang melihat benda yang dibeli Kang Maman bukan Cuma aku, tetapi juga semua temanku, semua penghuni kostan. Saat itu, benda yang dibelinya dikeluarkan dari plastik kresek.
“Beli apa, Kang?” tanya Oji.
Kang Maman tersenyum.
“Kayak jilbab ya, Kang?” tanyaku.
“Iya, saya membeli jilbab.”
“Satu lagi, itu apa, Kang?” tanya Ali.
“Lihat saja sendiri,” kata Kang Maman sambil menyerahkan pakaian yang ditunjuk Ali.
Aku yang mengambil pakaian itu. Waktu aku buka lipatannya, ternyata benda itu membuat kami terkejut! Benda itu adalah rok mini!
“Kang! Rok mini!?” teriak Oji.
“Iya, betul.”
“Buat siapa, Kang?” tanya Nana.
“Buat seseorang,” jawab Kang Maman tersenyum.
“Tapi, kok aneh, mana ada jilbab dipadukan dengan rok mini?” suara Asep terdengar, biasanya dia lebih banyak diam.
“Ngak pantaslah, Kang. Perempuan berjibab tapi pakai rok mini…”protes Ali.
“Insya Allah, pantas…” kata Kang Maman.
Jawaban itu cukup membuat kami terhentak! Kang Maman, anak seorang kyai berpengaruh di kampungnya, menganggap perempuan berjilbab pantas memakai rok mini! Wah, paham apa yang dianut Kang Maman sekarang ya…? Tapi, kami terkejut sangat. Cuma kami segan padanya, kami tidak melanjutkan perdebatan lagi.
Besoknya kami terkejut sebuah bungkusan, tepatnya paket, yang mau dikirim Kang Maman rupanya lupa dibawanya. Pada depan paket itu tertulis nama: Eulis Musyarofah; alamatnya di sebuah jurusan di Institut Agama Islam Negeri, Ciputat!
“Tampaknya jilbab dan rok mini yang dibeli Kang Maman, buat pacarnya ini ya,” kata Asep, kami tanpa bicara mengangguk-angguk mendengar ucapan Asep itu.
“Perempuan hebat…Bisa mengubah keimanan Kang Maman….” Entah siapa yang bicara, mungkin di hati kami masing-masing.

(3)
Kang Maman mengajak kami bermain ke kampung halamannya. Tasikmalaya! Kepala sekolah tempatnya mengajar meminjamkan mobilnya kepada Kang Maman. Kepala sekolah itu sangat senang dengan Kang Maman sebab Kang Maman rajin, santun, penuh tanggung jawab, dan dicintai murid-muridnya. Jadi, saat Kang Maman bilang akan pulang kampung, kepala sekolah itu menawarkan Kang Maman untuk memakai mobilnya, dan bahkan menyuruh sopirnya untuk ikut bersama Kang Maman. Maklum, Kang Maman dan kami semua tidak ada yang bisa menyopir.
Sampailah kami di Tasikmalaya!
Keluarga besar Kang Maman menyambut kami ramah.
Saat kami berkumpul di ruang tamu, berbincang-bincang dengan ayah Kang Maman, tiba-tiba dari dalam rumah, sebuah sosok datang menghampiri kami. Tinggi sosok itu kurang lebih satu meter. Sosok perempuan!
“Kang!” teriak sosok itu.
“Eh, Eulis…!” sebuah nama diucapkan Kang Maman.
Eulis…?! Sebuah nama yang pernah kami baca di sebuah paketnya Kang Maman!
“Teman-temanku, perkenalkan ini adikku, Eulis Musyarofah, mahasiswi IAIN Ciputat,” kata Kang Maman begitu sosok tersebut tiba di depan kami. Kami berempat berpandangan, lalu menganggukan kepala sambil tersenyum kepada Eulis Musyarofah.
Eulis Musyarofah tersenyum, senyum khas gadis Sunda yang nyantri. Ia berjilbab, tetapi ia mengenakan rok mini! Sebab, tidak ada kaki pada tubuhnya. Ia cacat sejak dilahirkan. Seperti, boneka yang dicopot kaki-kakinya!

Kutukupret

Kutukupret

Suka bikin kepala orang gatel², paling seneng liat orang garuk² kepala...