Karangan Bunga Itu Pun Berdatangan ke PBNU

Setelah Ahok dan Djarot kalah, muncul fenomena karangan bunga. Karangan-karangan bunga pada awalnya membanjiri halaman Balai Kota Jakarta. Penafsiran banjir karangan bunga itu tak kalah seru, pro dan kontra, silang pendapat terus muncul. Sah-sah saja toh bicara di negeri yang memilih sistem demokrasi. Kisah tentang bunga berlanjut, hingga puncaknya 1 Mei lalu ketika bunga-bunga itu pun dibakar. Jangan berkelid soal fakta: bunga dibakar. Ya, itu fakta. Soal motif atau tafsir atas peristiwa itu bolehlah berbeda-beda. 

Lalu, karangan-karangan bunga itu pun dikirim ke beberapa tempat dan kantor PBNU di Jalan Kramat No. 164 itu pun dapat kiriman bunga. 

Tapi, karangan bunga itu tetap saja kontroversi. Ada saja yang iseng pada bunga. Tak apalah. Ini sebuah keisengan yang dicatatkan di wall Facebook:

Rombongan aksi 55 melintas di depan Kantor PBNU, sambil teriak munafik, kebetulan di depan kantor tersebut sedang banyak kiriman karangan bunga, kok sampai segitunya yah, padahal munafikun itu orang bukan Kantor.

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..