Kearifan

Sebuah buku setebal bantal, mengurai perihal Tuhan. Karen Amstrong menulis buku dengan tekun dan dalam waktu tak singkat. Ia menamai bukunya itu “The History of God”. Tampaknya ada yang harus ditegaskan dalam kehidupan yang berlangsung berabad-abad ini; bukan hanya sejarah Tuhan, tapi, juga Tuhan-sejarah.

Dan Tuhan-sejarah telah menurunkan firman di antara dosa dan penderitaan umat manusia. Tuhan-sejarah itu, dalam buku Amstrong menjelma Tuhan-bahasa. Tuhan-sejarah yang diurai dari sudut pandang, pikiran, dan fakta-fakta diungkap dengan huruf dan kaidah-kaidah. Tuhan-sejarah pun dikenali sebagai Tuhan-bahasa. Yang terjebak dalam sejarah, dalam kaidah-kaidah bahasa manusia yang, tatkala digumuli oleh pikiran-pikiran dan realitas yang bergerak, rumit dan absurd.
Apakah bahasa sebagai alat komunikasi selamanya dapat menegakkan sesuatu yang mutlak dari kehendak dan keinginan manusia dalam perikatan sosialnya? Ketika hidup belaka dimaknai keberkuasaan terhadap yang lain, ikatan sosial menjadi rawan. Orang gemar memperkarakan sesuatu yang tak penting dan menyeretnya pada wilayah yang genting, beriman pada hoax dan mempersetankan pentingnya klarifikasi. Di tengah mudahnya komunikasi dan informasi, manusia justru terasing dari pertautan kasih-sayang dengan sesamanya.
Klarifikasi sepenuhnya berisi percakapan dan pembeberan. Ia hanya mungkin ditempuh dengan rendah hati. Tanpa rendah hati dan kebersihan niat, percakapan hanya bunyi dan ungkapan-ungkapan. Tak tercapai kemufakatan yang dapat diteguhi sebagai sebentuk konsensus.
Di tahun 90-an, Swami menciptakan sebuah lagu “Cinta” yang dinyanyikan Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lagu itu bersyair perihal Tuhan. Cinta atasnama Tuhan, yang kemudian menjadi ganjil dan muram.
Orang bicara cinta

Atasnama Tuhannya

Sambil membunuh, menyiksa

Berdasarkan keyakinan mereka
Dan orang-orang tiada henti mengulang-ulang kekejian terhadap kemanusiaan atasnama Tuhan dan agama. Tapi, Tuhan yang dipuja-puja dalam sejarah selalu luput dari rengkuhan manusia dalam perang, bahagia, bahkan derita yang tiada tara. Toh benturan dan chaos tetap terjadi. Bahasa perihal Tuhan, seringkali terjebak “perseteruan” tiada akhir, sejak “transendensi”-nya Habermas hingga “imanensi”-nya Marx dan sang konstruktivis Gilles Deleuze.
Lalu, manusia menanti, pun mencari apa yang tak mungkin selesai. Di tengah setiap penantian dan pencarian sejarah itu, manusia pun bercakap-cakap perihal yang dinantinya. Tetapi, ketika komunikasi yang dihantarkan oleh bahasa mengalami keruntuhan, barangkali di situlah tercipta chaos. Setidaknya, Samuell Beckett menulis itu dalam sebuah dramanya yang masyhur, “Waiting for Godot”. Mungkin ia hendak bertanya; kenapa Tuhan tak datang dalam penantian-penantian manusia yang panjang, absurd, dan membosankan?
Keruntuhan komunikasi mengakibatkan kesesatan pemahaman dan benturan yang tak terhindarkan. Di sisi itu, bahasa tak menjadi mutlak dalam menegakkan kesepakatan atau kehendak-kehendak manusia. Sedangkan Tuhan yang dijelaskan melalui bahasa dan sejarah menampilkan keanekaragaman dengan ribuan perbedaan yang sangat mengherankan, di mana bahasa memancar bias makna yang sangat gampang dibawa dan dipakai untuk ke mana saja dan apa saja. Itu menjadi bukti, betapa rapuh bahasa di hadapan-Nya. Hal ini meniscayakan, bahwa wahyu sejatinya membutuhkan tafsir yang tidak tunggal. Agar manusia menyiasati perjalanan hidup dalam setiap khazanah ruang dan waktu yang selalu berubah, yang kontekstual.
Tuhan-sejarah dan, kemudian terdefinisikan dalam, Tuhan-bahasa mengharuskan pengarifan. Sehingga pelbagai ketentuan perihal Tuhan tak menciptakan benturan dan perseteruan. Setidaknya dapat dipahami, Tuhan-sejarah memiliki bentuk yang berbeda-beda pengertian dalam bahasa tiap-tiap bangsa. Konsepsi-konsepsi tak selalu bersifat mutlak, sehingga antarorang dapat mencapai kebersamaan betapa pun sukarnya.
Sejarah, pun bahasa yang menjadi penanda puncak kebudayaan umat manusia, tak mungkin meraih-Nya. Tapi, sifat kasih-sayang, cinta, dan kedamaian adalah “bahasa universal” untuk mengenal-Nya, mengarifi-Nya dalam kebersamaan yang hangat dan mesra. Tanpa itu, Tuhan dan agama cuma menjadi alasan perpecahan, kebencian, kecurigaan-kecurigaan, segudang tuduhan dan ketegangan sosial yang tak penting.
Dalam khazanah Islam, mengarifi-Nya berpulang pada diri. Kesadaran terhadap diri yang tiada daya dan upaya, yang daif dan penuh kekurangan, akan membawa pada puncak kearifan seorang manusia beserta segala perangkat sosial-sejarah yang melekat padanya. Ia melampaui segala perbedaan dan pertentangan untuk meraih kebersamaan dalam kasih-sayang dan kedamaian. Mengarifi-Nya dengan segala ilmu dan pengertian memulangkan seseorang pada ketaksanggupannya meraih-Nya, sebab Dia “la-harfin wa la-shautin” (tak berhuruf tak bersuara). Ini, dalam khazanah Islam, disebut “arif billah” (mengarifi Tuhan) yang menyimpan keharusan mengarifi kemanusiaan dengan cinta dan kasih-sayang.
Muncar, 2017

Penulis artikel: Fiq

Mang Insan

Mang Insan

Belajar teruss..

Tulis tanggapan anda: