Kebahagian Orang Berpuasa

Dari Abu Hurairoh Rodhiya Allahu `anhu, Allah `Azza Wa Jalla berfirman : ….”bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang dia rasakan,(pertama) jika dia berbuka puasa maka dia merasakan kebahagiaan dengan berbukanya, (kedua) jika dia bertemu dengan Robbnya dia berbahagia dengan puasanya. (HR. Ahmad dan An Nasai)

Lewat Hadis Qudsi di atas Allah SWT menyatakan secara gamblang bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh kebahagiaan.

Pertama, kebahagiaan ketika berbuka puasa.

Bagi orang yang berpuasa, berbuka puasa, merupakan  kebahagiaan tersendiri. Setelah menahan diri dari makan, minum, dan lainnya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari, yang tentunya merasakan lapar dan dahaga, masuknya waktu berbuka menjadi hal yang membahagiakan. Ada kenikmatan tersendiri ketika berbuka. Sebelum masuk bulan Romadhon, kebanyakan jadwal makan seseorang itu tiga kali, sarapan, makan siang dan makan malam. Tapi ketika akan makan dan minum, tidak ditemukan kebahagiaan yang ada pada saat berbuka puasa. Mengapa demikian, karena rutinitas makan dan minum di selain bulan Romadhon, sebelumnya tidak merasakan perjuangan menahan lapar dan dahaga. Sehingga rasanya ya biasa-biasa saja.

Memang betul pepatah yang menyatakan bahwa nikmat itu dapat dirasakan berarti ketika hilangnya atau berkurangnya nikmat tersebut.

Orang yang berpuasa sedang merasakan berkurangnya nikmat makan dan minum di siang hari, maka dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika diperbolehkan makan dan minum di malam hari. Maka sangat cocoklah doa berbuka puasa yang menyatakan “Wahai Allah aku berpuasa karenaMu, kepadaMu lah aku beriman, dengan rizkiMu aku berbuka, hilanglah rasa dahaga, dan tetaplah pahala, Insya Allah.”

Kebahagian orang yang berpuasa ketika berbuka puasa, selaras dengan ridhonya Allah SWT yang memerintahkan berpuasa. Bahkan Rosulullah sendiri menganjurkan untuk segera berbuka puasa jika sudah masuk waktunya. Sudah pasti berbuka yang diridhoi adalah yang tetap menjaga etika, misal dengan makanan yang halal secara dzati dan cara perolehannya serta tidak berlebih-lebihan.

Kedua, kebahagian ketika bertemu dengan Robbnya dengan sebab puasanya.

Orang yang berpuasa sesungguhnya sedang melatih diri untuk taat kepada Allah SWT. Berpuasa itu ibadah yang meninggalkan aktifitas yang asalnya diperbolehkan oleh syari`at. Dan bentuk ibadah puasa hanya diketahui oleh orang yang berpuasa. Orang lain tidak bisa menyaksikan bahwa dia benar-benar sedang berpuasa. Beda dengan ibadah sholat,dan lainnya, pengakuannya bahwa dia telah melaksanakan sholat bisa disaksikan orang lain. Tapi ketika orang yang berpuasa membuat pengakuan bahwa dia sedang berpuasa, orang lain tidak bisa menyaksikannya. Inilah uniknya puasa, sehingga disebut ibadah sirriyyah, ibadah yang tersembunyi, yang hanya dia dan Allah SWT yang tahu.

Kebahagian bagi orang yang berpuasa yang akan dia dapatkan ketika bertemu dengan Robbnya, ketika sudah wafat, maka makna yang paling mudah adalah dia akan mendapat pahala yang besar di sisi Allah SWT. Atau dia akan mendapatkan kemuliaan khusus dari Allah SWT. Tentunya kemulian tersebut diperoleh sebanding dengan kualitas berpuasa dari masing-masing orang. Semakin tinggi kualitasnya, maka semakin besar pula kemulian yang didapat dari Allah SWT.

Maka bersyukurlah Anda yang mampu berpuasa dan menjaga kualitas puasanya, karena kebahagiaan yang Allah janjikan kelak ketika bertemu denganNya, akan menjadi kejutan bagi orang-orang yang berpuasa.

Tulis tanggapan anda: