Ketika Maaf Bukan Lagi Kemulian

 (Kisah Maaf Tuan Guru Bajang Kepada Steven)

Oleh : Ferdinand Hutahaean
RUMAH AMANAH RAKYAT
BELA TANAH AIR

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan yang semoga tidak menyinggung hati siapapun, dan tidak menyakiti perasaan siapapun. Namun pertanyaan ini harus kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sebagai bahan perenungan dan mengoreksi diri sendiri. APA YANG SALAH DENGAN SAYA, MENGAPA MEMAAFKAN TAK LAGI MULIA BAGI SAYA? Sesungguhnya pertanyaan ini khusus bagi para insan atau bagi jiwa-jiwa yang justru menilai perbuatan mulia memaafkan dianggap sebagai kelemahan. 

“Setengah mati kita kita tenangkan masyarakat, malah bikin masalah baru.” Begitulah Tuan Guru Bajang memberikan jawaban ketika saya diskusi lewat percakan WA. “Saat penyidik mendatangi Saya untuk dimintai keterang, mereka memperlihatkan fotokopi KTP, Paspor, Manifes Penerbangan, Catatan Imigrasi, Tulisan tangan Steven dan berkas lain yang diambil di Polres Bandara.” Tuan Guru melanjutkan penjelasannya kepada saya atas semakin tidak terkendalinya opini negatif dan opini sesat yang menyesatkan publik tentang kisah Steven yang menghina Tuan Guru Bajang Gubernur Propinsi NTB yang juga seorang Ulama dan tokoh masyarakat yang sangat dihormati karena sikapnya yang bersahaja, dan penuh kesantunan. 

Ada kesesatan berfikir dari sekelompok orang yang justru adalah elit dan tokoh bangsa. Sangat disayangkan ketika sebuah kekalahan dalam kontestasi politik tidak bisa diterima dengan lapang dada, bahkan harus tega memfitnah seorang Gubernur, seorang Ulama dan seorang tokoh besar sebagai pembohong. Sungguh sangat memprihatinkan justru ketika elit bangsa berusaha membangun opini sesat untuk menyesatkan publik tentang sebuah kebenaran peristiwa. Semestinya siapapun yang merasa kisah penghinaan yang dilakukan oleh Steven terhadap Tuan Guru Bajang bisa mendatangi kepolisian untuk menanyakan fakta sesungguhnya, bukan malah sibuk membangun opini sesat bahkan menjadi fitnah kepada TGB.

Ada yang sangat aneh dan janggal, bahkan penyakit fitnah itupun merebak merasuki gedung DPR hanya karena urusan pilkada yang menggulingkan petahana dari kursi Gubernur Jakarta. Bukankah anggota DPR itu bisa mengangkat telepon dan bertanya kepada kepolisian tentang fakta sesungguhnya? Bukankah lebih baik mencari kebenaran faktual daripada sibuk menggunakan hati dan pikiran memfitnah orang lain? Ada apa dengan bangsa ini? Mengapa kebenaran dan pelaku kebenaran menjadi tertuduh jahat, sementara kejahatan dan pelaku kejahatan di bela-bela?

Sungguh menurut saya ada yang salah dengan bangsa ini. Dimana salahnya? Perlu kita cari tahu bersama-sama. Apakah terletak pada pemimpin atau terletak pada masyarakat? Saya pikir perlu kita renungkan bersama-sama sebelum bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang hidup berlandaskan fitnah dan kebohongan. Sebelum bangsa ini menjadi bangsa yang hidup tanpa aturan dan kehilangan kebenaran.

Apapun alasannya, tidak dapat dibenarkan merubah kebenaran dengan kebohongan, mengganti  kejujuran dengan fitnah. Kisah Tuan Guru Bajang yang di hina oleh Steven adalah kisah yang faktual terjadi, bukan kisah rekayasa untuk memenangkan calon tertentu dalam pilkada Jakarta, karena Tuan Guru Bajang tidak punya kepentingan secara pribadi atas Pilkada Jakarta, dan juga tidak punya kepentingan sebagai Kader Partai Demokrat atas pilkada Jakarta karena Demokrat tidak mendukung salah satu calon dan Demokrat memutuskan pilkada Jakarta putaran kedua bukan lagi pertempuran Demokrat. Lantas alasan apa yang bisa dijadikan membenarkan bahwa tokoh sekelas Tuan Guru Bajang harus terlibat dalam sebuah rekayasa opini? Tuan Guru Bajang tidak akan melakukan hal sehina dan serendah yang dituduhkan itu.

Kepada siapapun yang mencoba membangun opini negatif dan tidak baik terhadap Tuan Guru Bajang sebaiknya berhenti dan tidak memanasi situasi yang sudah susah payah ditenangkan. Jangan karena kegenitan politik dan sok ngerti intelijen, membuat suasana jadi semakin gaduh dan semakin ribut. Kegaduhan akan merugikan kita semua, merugikan kepentingan pemerintahan Joko Widodo karena menjadi tidak punya waktu membangun bangsa. Hentikan segala polemik, terlebih polemik yang timbul karena fitnah. Mari kita berlapang dada menerima realitas kemenangan maupun kekalahan dalam politik. Jangan sampai perbuatan memaafkan dan lapang dada tidak lagi perbuatan mulia hanya karena tidak bisa menerima realitas kehidupan.

Batam, 25 April 2017