KHILAFAH DALAM PANDANGAN ISLAM

KHILAFAH DALAM PANDANGAN ISLAM

Oleh : M. Hubab Nafi’ Nu’man (Pon-Pes Abuya Muhtadi Banten)

 

A. Ta’rif / Definisi Khilafah dan Kholifah

An-Nawawy didalam Kitab Roudlotuth-tholibin Bab Al-Imamah menjelaskan bahwa :

وأميرالمؤمنين والإمام للإمام الخليفة يقال أن يجوز 

Artinya : Boleh diucapkan untuk seorang Imam gelar Kholifah, Imam dan Amirul Mu’minin.

Dan Asy-Syarbiny didalam Kitab Mughnil Muhtaj Bab Bughot menjelaskan bahwa :

ويجوز تسمية الإمام خليفة وخليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم وأميرالمؤمنين 

Artinya : Boleh memberi nama seorang Imam dg gelar Kholifah, Kholifah Rosulillah SAW dan Amirul Mu’minin.

Dengan demikian maka kata Imam, Kholifah, Kholifah Rosulillah SAW dan Amirul Mu’minin itu Mutarodif / sinonim / satu makna. Jadi otomatis Imamah, Khilafah dan Imarotul Mu’minin itu juga satu makna karena Ta’rif / Definisi Imam, Kholifah dan Amirul Mu’minin diambil dari beberapa Kitab Fiqih Asy-Syafi’iyyah itu adalah :

من عقدت له الإمامة والخلافة وإمارة المؤمنين 

Artinya : Orang yg dilantik untuk memegang Imamah, Khilafah dan Imarotul Mu’minin.

Sedangkan Ta’rif / Definisi Imamah, Kholifah dan Imarotul Mu’minin sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Haramain didalam kitab Al-Ghiyatsy :

الإمامة رياسة تامة وزعامة عامة تتعلق بالخاصة والعامة في مهمات الدين والدنيا

Artinya : Imamah itu adalah kekepalaan yang sempurna dan kepemimpinan yang menyeluruh yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan kepentingan Agama dan dunia.

Ar-Romly Al-Kabir juga menjelaskan didalam Kitab Hasyiyah Asnal Matholib bahwa :

هي خلافة الرسول فى إقامة الدين وحفظ حوزة الملة بحيث يجب اتباعه على كل كافة الأمة

Artinya : Imamah / Khilafah adalah sistem kepemimpinan sebagai pengganti kepemimpinannya Rosul SAW didalam menegakkan Agama dan menjaga kepemilikan Agama dengan kewajiban mengikuti seorang Imam / Kholifah bagi seluruh Ummat.

Al-Mawardy juga menjelaskan didalam Kitab Al-Ahkam As-Sulthoniyyah bahwa :

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة فى حراسة الدين وسياسة الدنيا

Artinya : Imamah / Khilafah didirikan itu untuk menjadi pengganti Nubuwwah / Kepemimpinan Nabi SAW didalam menjaga Agama dan mengatur dunia.

 

B. Kewajiban mendirikan Imamah / Khilafah dengan melantik seorang Imam / Kholifah.

Zakariyya Al-Anshory didalam Kitab Asnal Matholib dan Ar-Romly Al-Kabir didalam Hasyiyahnya menjelaskan bahwa :

وهي فرض كفاية للإجماع

Artinya : Mendirikan Imamah / Khilafah dengan melantik seorang Imam / Kholifah itu para Ulama sudah Ijma’ bahwa hukumnya Fardlu Kifayah.

 

C. Masa Imamah / Khilafah An-Nubuwwah.

Jalaluddin As-Sayuthy menerangkan didalam Kitab Tarikhul Khulafa sbb :

قال الإمام أحمد والترمذي حدثنا بهز حدثنا حماد بن سلمة حدثنا سعيد بن جمهان عن سفينة قال سمعت رسول الله عليه الصلاة والسلام يقول ” الخلافة ثلاثون عاما ثم يكون بعد ذلك الملك ” أخرجه أصحاب السنن وصححه إبن حبان وغيره . قال العلماء لم يكن فى الثلاثين بعده عليه الصلاة والسلام إلا الخلفاء الأربعة وأيام الحسن .

Artinya : dari Safinah berkata, saya mendengar Rosululloh SAW bersabda “ Khilafah itu masanya tiga puluh tahun, selanjutnya setelah Khilafah adalah Kerajaan “ . Berkata para Ulama bahwa masa tiga puluh tahun setelah wafatnya Nabi SAW itu hanya masanya Al-Khulafaur Rosyidin yang empat yaitu Sayyidina Abu Bakr RA, Sayyidina Umar RA, Sayyidina Utsman RA dan Sayyidina ‘Ali KWJ serta masanya Sayyidina Hasan Bin ‘Ali RA.

Berkata Al-‘Asqollany dari Al-Qadli ‘Iyadl didalam Kitab Syarah Shohih Al-Bukhori Hadits No.7222 :

أنه أراد فى حديث سفينة خلافة النبوة .

Artinya : yang dikehendaki oleh Nabi SAW didalam Hadist Riwayat Safinah tsb diatas adalah Khilafah An-Nubuwwah. 

Adapun Khilafah yg disebutkan dalam Hadits Jabir Bin Samuroh Riwayat Bukhori Muslim, Ahmad dll yg disampaikan oleh Jalaluddin As-Sayuthi dalam Kitab Tarikhul Khulafa yg  berbunyi :

لا يزال هذا الأمر عزيزا منيعا ينصرون على من ناوأهم عليه إلى اثنى عشر خليفة كلهم من قريش .

Artinya : Kepemerintahan Islam ini akan tetap kuat dan kokoh, Umat Islam pasti ditolong oleh Alloh SWT dari orang2 yg memusuhi mereka dg meruntuhkan Kepemerintahan Islam ini sampai kepemimpinan 12 Kholifah yg kesemuanya itu dari bangsa Quroisy.

Itu yg dimaksud dg Kholifah setelah Khulafaur Rosyidin dan Sayyidina Hasan Bin Ali RA sampai Kholifah yg ke 12 bukan kholifah yg memegang Khilafah Nubuwwah tapi Kholifah yg memegang Muthlaqul Khilafah. Jadi mulai Mu’awiyah Bin Abu Sufyan itu namanya Muthlaqul Kholifah, bukan Kholifah Nabi SAW dan Kerajaannya itu namanya Muthlaqul Khilafah bukan Khilafah Nubuwwah.

 

D. Al-Qur’an dan Hadits yg dijadikan dasar pergerakan Hizbut Tahrir.

Al-Qur’an yg dijadikan dasar Hizbut Tahrir adalah Surat An-Nur Ayat 55 :

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم فى الأرض كما استخلف الذين من قبلهم .

Terjemahnya : Alloh SWT telah menjanjikan kepada orang-orang yg beriman dan beramal shalih dari kalian, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.

Syaikh Muhammad Nawawy Al-Bantany dalam Tafsir Beliau juz 2 hal. 86 menjelaskan bahwa Mukhothob dalam lafadz Minkum itu adalah Ashhab Nabi SAW, dan janji Alloh SWT tsb sudah ditepati. Begitu juga dijelaskan oleh Ibnu Aby Hatim dalam mentafsirkan Ayat tsb. Jadi Alloh SWT itu menjanjikan Khilafah kpd orang2 yg beriman dan beramal sholih dari Ashhab Nabi SAW, tidak dari selain Ashhab Nabi SAW.

Hadits yg dijadikan dasar Hizbut Tahrir adalah H.R. Ahmad no.18319 :

قال رسول الله ﷺ : تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة. ثم سكت .

“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aadhdhon), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) ( Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah ). Kemudian beliau (Nabi) diam.”

(Dikeluarkan oleh: Imam Ahmad; Musnad Imam Ahmad no.18319)

Hadits ini sudah banyak di korexi oleh para Kyai dan Ustadz, terutama tentang salah satu perowinya yaitu Habib Bin Salim yg Dlo’if, jadi tidak boleh untuk itsbatul hukmi.

 

E. Hukum mendirikan Khilafah lebih dari satu dalam satu masa.

Imam Al-Haromayn dalam Kitab Al-Ghiyatsi menjelaskan :

 والذى تباينت فيه المذاهب أن الحالة إذا كانت بحيث لا ينبسط رأي إمام واحد على الممالك فإذا اتفق ما ذكرناه فقد صار صائرون عند ذلك إلى تجويزنصب إمام فى القطر الذى لا يبلغه أثر نظر الإمام .

Artinya : Ketika kebijakan2 seorang Imam/Kholifah itu tidak sampai menaungi pada kerajaan2 disekitarnya, maka diperbolehkan mendirikan Imamah/Khilafah lagi di daerah yg tidak tersentuh oleh Imam/Kholifah yg ada.

Dan ini sudah dijalankan oleh Wali Songo dg mendirikan Kerajaan Demak yg mandiri dan berdaulat serta melantik R.Abdul Fattah sebagai Rajanya pada Tahun 1475 M / 880 H, sedangkan pada waktu itu masih berdiri Khilafah bany ‘Abbasiyyah yg berpusat di Mesir dg Rajanya Kholifah Al-Mustanjid Billah. Juga sebelumnya telah berdiri Kesultanan Cirebon yg mandiri dan berdaulat pd th. 1430 M/ 833 H dibawah kepemimpinan Pangeran Cakra Buwana dan diteruskan oleh Sunan Gunung Jati. Baru pd th. 1527 M / 933 H Kesultanan Banten berdiri secara mandiri dan berdaulat dibawah kekuasaan Sultan Maulana Hasanuddin bertepatan dg masa berkuasanya Kholifah Utsmaniyyah Raja Sulaiman Al-Qonuny yg berpusat di Turki.

 

F. NKRI dan Presiden RI.

Setelah melalui sejarah yg sangat panjang maka pada tgl 17 Agustus 1945 berdirilah NKRI yg berdaulat dg dikepalai oleh seorang Presiden.

Presiden RI adalah Waliyyul Amri Adldlorury Bisy-Syaukah / Pemegang pemerintahan yg bersifat darurat sebab kekuasaannya. Keputussan tsb diambil dalam Konferensi Alim Ulama sebanyak tiga kali Konferensi, yg pertama pd tgl 12-13 Mei 1952 di Tugu Jawa Barat, yg kedua pd tgl 4-5 Mei 1953 di Bogor dan yg ketiga pd tgl 3-6 Maret 1954 di Cipanas, juga diperkuat dg keputusan Muktamar NU ke 20 di Surabaya pd th. 1954.

Dengan demikian maka Presiden RI adalah Muthlaqul Imam / Muthlaqul Kholifah yg Sah, dan sistem kepemerintahan NKRI adalah sistem Muthlaqul Imamah / Muthlaqul Khilafah yg Sah hingga kewajiban untuk Nashbul Imamah / Mendirikan Imamah itu sudah tertunaikan.

Maka dari itu gerakan keluar dari Presiden RI, tidak  patuh pd Beliau atau tidak taat pd Beliau dg keluar dari koridor sistem kepemerintahan NKRI yg ada dg dalih akan mendirikan Khilafah Nubuwwah atau lainnya, disertai dg teroganisirnya dan punya kekuasaanya gerakan tsb karena punya pimpinan dan punya massa atau kekuatan, itu termasuk tindakan baghyu/makar, sebagaimana  dijelaskan dalam beberapa Kitab fiqih diantara Kitab Minhajut Tholibin sbb : 

هم مخالفو الإمام بخروج عليه وترك الإنقياد أو منع حق توجه عليهم بشرط شوكة لهم وتأويل ومطاع فيهم .

Artinya : Bughot / pemberontak adalah orang2 yg bertentangan dg Imam sebab keluar dari Imam, tidak patuh pd Imam atau tidak mau menunaikan haq yg wajib kpd nya dari Imam, dg syarat mereka itu punya kekuasaan sebab punya massa atau kekuatan, punya alasan dan juga punya pimpinan.

Adapun hukum baghyu/makar itu harom dg Ijma’nya Ulama, sebagaiman dijelaskan dalam Kitab Mughnil Muhtaj  sbb :

إن الخروج على الأئمة وقتالهم حرام بإجماع المسلمين وإن كانوا فسقة ظالمين .

Artinya : Sesungguhnya keluar dari para Imam dan memerangi mereka itu hukumnya harom dg Ijma’nya Muslimin /  Ulama, walaupun para Imam tsb itu fasiq dan dzalim.

 

G. Iqomatul Hudud / Mendirikan Hukum Had.

Mendirikan hukum had itu wajib dan mukhothobnya itu Imam bukan Rakyat, sebagaiman dijelaskan dalam beberapa Kitab Fiqih, adapun kewajibannya Imam mendirikan hukum had itu di Negara Muslimiyyah / Pendirinya dan pemangku kepemerintahannya itu semua Muslim, bukan negara Islamiyyah seperti Indonesia, sebagaimana difatwakan oleh Syaikhuna Abuya Muhtadi Bin Abuya Dimyathi Al-Bantany mengambil dari Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal.254 : 

فعلم أن أرض بتاوي بل وغالب أرض جاوة دار إسلام لاستلاء المسلمين عليها سابقا قبل الكفار

Artinya : maka dapat diketahui bahwa tanah Betawi bahkan kebanyakan tanah Jawa adalah Daerah/Negara Islam karena sebelum tanah tersebut dikuasai oleh orang-orang kafir terlebih dahulu dikuasai oleh Muslimin.

 

 

والله أعلم بالصواب .

 

 

Cidahu, 9 Juni 2017 M.