NU, NKRI dan PANCASILA

Oleh: Agus Maryono
 
Mengapa NU sangat gigih dalam membela Dasar Negara PANCASILA dan Keutuhan NKRI ? Tidaklah berlebihan bahkan wajar jika NU selalu menyerukan “NKRI Harga Mati” dan “Pancasila Jaya !”

Selian hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama Bangsa, karna NU memang terlibat sangat penting dan sentral dalam proses perumusan hingga penetapan Pancasila bersama Bung Karno dan Bung Hatta serta tokoh pendiri bangsa lainnya. Bung Karno sendiri yang dalam sejarah dicatat sering terlibat diskusi dengan KH Wahid Hasyim ( Putra Pendiri NU KH Hasyim As’ary) dalam proses perumusan Pancasila sejak lahirnya, tanggal 1 Juni 1945, Pancasila Piagam Jakarta 22 Juni 1945 sampai final ditetapkan pada 18 Agustus 1945.

 
PANCASILA 1 Juni 1945

Tanggal 1 Juni 1945 di depan Panitia 62, Panitia yang bertugas menyusun Undang-Undang Negara untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia , Soekarno mengumumkan rumusan dasar Negara yang kemudian Ia namakan PANCASILA.
1. Kebangsaan
2. Internasionalisme,peri-kemanusiaan
3. Permusyawaratan, Perwakilan,mufakat
4. Kesejahteraan
5. Ke-Tuhanan

 
Tanggal 1 Juni hingga sekarang kita peringati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Pasca itu, sejumlah reaksi muncul,khususnya dari kelompok Islam garis keras karna merasa keinginannya membentuk Negara Islam tidak terwadahi dalam rumusan Pancasila tersebut.
PANCASILA PIAGAM JAKARTA (22 Juni’45)
Menyusul pro kontra rumusan dasar negara itu, sejumlah tokoh penting negara melakukan rangkain pertemuan.

 
Pada akhir Mei 1945 , Lima orang Tokoh Nasional berdiskusi Panjang tentang rancangan Dasar Negara tersebut dg sangat ketat , di rumahnya Moh Yamin.

Lima Tokoh tersebut adalah : KH Wahid Hasyim , KH Masykur ( dua duanya tokoh NU), Abd Kahar Muzakkir ( Partai Islam Indonesia), Bung Karno dan Moh Yamin.

 
Diskusi yg transkrip rekamannya ada di Arsip Nasional itu dikisahkan suatu malam berlangsung selepas maghrib hingga subuh di Rumah M Yamin.
Pertemuan lima tokoh itu bisa dikatakan adalah perpaduan Nasionalis (Bung Karno, M Yamin) dengan Islam ( dua diwakili NU : KH Wahid Hasyim dn KH Masykur, Panglima Pasukan Sabilillah). Abd Kahar Muzakkir,dari PII dikisahkan banyak mngajukan usulan kuat untuk pembentukan dasar dan negara Islam.
 
Dalam kesaksiannya Kyai Masykur menceritakan, KH Wahid Hasyim dan para tokoh Nasional dalam pertemuan tersebut betapa sangat keras berpikir tentang bagaimana Persatuan dan Kesatuan Bangsa itu dapat dijaga melalui Dasar Negaranya. Mereka semua sepakat Ke-Bhinnekaan Indonsia haruslah diwujudkan dan jangan sampai negara menjadi pecah. Dasar Negara yang melindungi semua warga negara menjadi kunci penting mewujudkan persatuan dan kesatuan tersebut.
 
Hasil dari pertemuan lima tokoh bangsa itu kemudian menjadi konsep penting dalam rapat resmi Panitia 9 untuk mematangkan Dasar Negara Pancasila, atas ketegangan yang terus berlangsung terkait ide ide negara dan desakan kepentingan kelompok Islam.
 

Ketegangan tentang Dasar Negara itu akhirnya membuat Sukarno membentuk Panitia 9 (beranggotakan 9 orang) untuk menyelesailan tarik ulur Dasar Negara. Taggal 22 Juni 1945 melalui perdebatan yang sangat seru (demikian dikisahkan) Panitia 9 berhasil membuat kesepakatn Dasar Negara Pancasila yang populer dengan nama Pancasila Piagam Jakarta. Rumusan Piagam Jakarta ini tidak jauh dari konsep lima tokoh di atas.

Pancasila Piagam Jakarta isinya adalah yang sekarang dipakai oleh Negara ini, kecuali Sila Pertama. Sila Pertama saat itu ada tambahan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
 

Inilah 9 Tokoh Perumus Piagam Jakarta : (Ir.Sukarno,Moh Hatta,KH Wahid Hasyim,Moh Yamin, Kahar Muzakkir, Mr.Aa Ramis, Abi Kusno Tjokro Suyoso,H Agus Salim dan Mr.Ahmad Subardjo).

Pancasila Piagam Jakarta ini kemudian dibawa ke forum pleno yang lebih besar berjumlah 19 orang yang sedang bertugas menyusun Undang Undang Negara. Pada periodisasi Juli hingga Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikisahkan perdebatan dn polemik berlangsung sangat seru. Tokoh-tokoh dari Indonesia Timur dan non Islam mengancam akan memisahkan dari Indonesia jika Dasar Negara tetap menggunakan Piagam Jakarta dengan syariat Islamnya. Baru saja Kemerdekaan Bangsa diproklamirkan keutuhan negara dlam kondisi yg genting. Perpecahan di depan mata.
 

Atas situasi yang mengkhawatirkan itu, tangal 18 Agustus , Moh Hatta akhirnya membentuk panitia khusus untuk segera mengakhiri polemik. Ditunjuklah KH Wahid Hasyim, Ki Bgus Hadikusumo, Kasman Singodimejo dn Teuku Moh Hassan dan Moh Hatta sendiri.

Dikisahkan situasinya sangat menegangkan atas perdebatan Sila Pertama Piagam Jakarta. Tokoh Nasional diminta oleh Bung Karno untuk mengalah pada tokoh Muslim dalam hal Dasar Negara tersebut. Namun Polemik kemudian berakhir saat KH Wahid Hasyim memberanikan diri mengusulkan perubahan Sila Pertama menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja tanpa ada embel embel Syariat Islam. Bunyi sila perubahan itu menurutnya yang akan mampu mewakili semua agama dan golongan untuk menjalankan keyakinannya masing-masing. Bagi Umat Islam sendiri juga tidak bertentangan sama sekali dalam kontek ber-tauhid.
 
Sikap Bijaknya NU melalui KH Wahid Hasyim ini kemudian diterima oleh yang lain , sampai kemudian dibawa dalam pertemuan berikutnya dan menetapkan Pancasila 18 Agustus 1945 dipakai sbagai Dasar Negara yg resmi hingga serkarang.
 

Sejak awal Kemerdekaan NU telah membuktikan diri sebagai kelompok besar yang demokratis dan toleran pada saat kelompok muslim lain ingin bersikeras dengan dasar Islam.

Adalah Kahar Muzakkir yang tetap tidak mau menerima revisi tersebut. Bersama kawan kawannya yang lain terus ngotot agar Indonesia ini menjadi negara Islam. Sikap kecewa dan protesnya itu terus berkelanjutan hingga kemudkan menyatakan membrontak dengan membentuk TII ( Tentara Islam Indonesia) pada 1950. Ia kemudian memyatakan bergabung bersama kelompok muslim radikal Karto Suwiryo yg telah lebih dulu membentuk Negara Islam Indonesia ( DI : Darul Islam).
 
NU tetap komit dengan kesepakatan bersama. Oleh karna itu NU menolak untk ikut bergabung dengan DI TII. Sejumalh Kyai dan Tokoh NU pun akhirnya berhadapan dengan DI TII sebagai wujud komitmennya akan NKRI sebagai satu satunya Negara yang sah dan harus didukung. Pada akhirnya para pembrontak itu dapat ditumpas oleh TNI dalam kurun waktu yang cukup melelahkan sejak 1945-1960 .
 
Polemik Dasar Negara usai setalh NU dan TNI pada masa orde baru menumpas pembrontakan PKI 1965. Orba kemudian memberlakukan azas tunggal Pancasila bagi semua Parpol dan Ormas yang ada.
 
Sekali lagi NU, membuktikan komitmennya menjaga keutuhan NKRI tetap kokoh berdiri dari para pembrontak negara. Dan yang paling fenomenal adalah satu bulan pasca Proklamasi 17 Agustus yakni saat Sekutu dan Belanda datang kembali untuk merebut kemerdekaan. NU tidak tinggal diam dan langsung mengambil sikap tgas dengan mengeluarkan Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945.
 
Resolusi Jihad PBNU tersbut kemudian secara massif telah menggerakkan puluhan ribu santri dan warga NU di Jawa khususnya di Surabaya berdiri tegak menghadang pasukan bersenjata sekutu selama tiga minggu Oktober hingga 10 Nopember 1945. Perang 10 Nopember yang kita peringati sebagai hari Pahlawan adalah Fakta sejarah perangnya para santri dan warga sipil NU melalui Resolusi Jihadnya dalam upaya mempertahankan tegaknya NKRI. Sekitar 50 ribu warga NU Jawa Timur termasuk para santri yang tergabung dalam Laskar Hizbulloh gugur sebagai syuhada melawan tentara Sekutu.
 
Tanggal dicetuskannya Resolusi Jihad NU ,22 Oktober itu kini ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional olh Presiden Joko Widodo sebagai sebuah penghargaan perjuangan dan kesetiaan NU kepada negara.
 

Sampai sekarang komitmen NU kepada Pancasila, kepada Bangsa dan Negara Indonesia tidak akan tergoyahkan tanpa perlu diragukan lagi. Dan NU sudah bersumpah akan berada di garda terdepan untuk melawan kelompok manapun yang akan merongrong keutuhan NKRI dan Dasar Negara Pancasila.

Agus Maryono S Ag
KPNU Jawa Tengah, Presiden Komunitas NU Banyumas (KNB)

KNB Banyumas Banyumas

Agus Mar

Komunitas NU Banyumas (KNB)