Kyaiku Cinta Merah Putih

Pada suatu saat, ketika masih di pesantren, seperti biasanya tiap hari Jum`at ada kegiatan roan atau kerja bhakti membersihkan lingkungan pesantren. Aku pun bersama teman-teman ikut bergabung mengikuti roan. Kalau tidak keliru, saat itu kami juga memindahkan puing-puing bangunan yang telah dirobohkan. Tanpa berfikir panjang aku mengambil sebuah hasduk yang tidak terpakai sebagai wadah puing-piung bangunan agar mudah membawanya. Dalam pikiran dan niatku tidak ada niat apa-apa terkait penggunaan hasduk tadi. Apalagi niat merendahkan merah putih. Itu murni keluguanku yang hanya berfikir itu hanya kain yang sudah tidak terpakai, lumayan dimanfaatkan untuk mempermudah membawa puing-puing agar cepat selesai. Tanpa diduga ketika itu Romo Kyai sedang duduk di depan rumah beliau memperhatikan santri-santri yang sedang roan. Termasuk aku pun tak luput dari perhatian beliau. Tak disangka beliau memanggilku,” Mas, ke sini dulu.” Dengan penuh tanda tanya dan perasaan segan, aku memenuhi panggilan beliau. Setelah aku berada di depan beliau, dengan lembut beliau berkata “ Mas, tolong bawa puing-puingnya jangan pakai kain ini, ya, ganti kain yang lain”. Seketika itu aku menyadari kekeliruanku, ternyata aku menggunanakan hasduk, lambang merah putih, lambang bendera NKRI, yang harusnya aku hormati.

Dari peristiwa ini aku belajar dari Romo Kyai akan pentingnya menghormati lambang negara. Romo Kyai telah ikut andil dalam proses kemerdekaan NKRI, beliau merasakan bagaimana pahitnya berjuang untuk dapat mengibarkan Sang Merah Putih di angkasa. Jadi jangan heran jika pesantren salaf yang punya Lokomotif Besar Nahdhatul Ulama sangat besar semangatnya dalam upaya mempertahankan dan memperkokoh NKRI, karena memang mempunyai sanad nasionalisme dari Para Kyai yang ikut andil membentuk NKRI.

NKRI Harga Mati.

4 thoughts on “Kyaiku Cinta Merah Putih

Leave a Reply