LANGGAR

Oleh: Humaidi Syari’ati

Di Betawi, tempat ibadah orang Islam adalah Masjid dan Langgar. Masjid biasanya berbentuk lebih besar, dan apabila digunakan untuk sholat Jum’at maka disebut masjid jami’. Di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, seingat saya ditahun 1980-an hanya ada tiga masjid jami’ yaitu masjid Istiqomah Selong, masjid Nurul Iman Tanah Koja, dan Masjid Kampung Gunung. Maklum, ketika itu, pendatang belum banyak.

Jika masjid yang digunakan untuk sholat Jum’at tidak banyak, maka berbeda dengan langgar yang jumlahnya banyak. Biasanya Langgar dikenal menggunakan nama Imam Langgar atau pendiri sebuah langgar, seperti Langgar Guru Muhammad, Langgar Haji Ali, Langgar Haji Arsyad dan sebagainya. Di Betawi ada Langgar yang kesohor melahirkan banyak ulama hebat, seperti Guru Madjid, Guru mansyur, Syekh Junaid dan sebagainya. Namanya Langgar Tinggi di Pekojan. Ada juga Langgar Guru Marzuki, Langgar Guru Mughni, Langgar Guru Amin dan sebagainya.

Fungsi masjid dan Langgar adalah sama, yaitu sebagai tempat sembahyang (istilah sholat baru digunakan secara intens oleh orang Betawi diawal 2000). Namun, dimasa silam, Langgar memiliki fungsi sebagai tempat pendidikan agama awal. Kita belajar huruf Hijaiyah, belajar nahwu shorof, menghafal jurumiyah, mengaji Babul Minang, irsyadul Anam, sifat duapuluh dan sebagainya di Langgar.

Anak Betawi sekarang, mungkin tidak kenal lagi yang namanya Langgar. Setelah diberi nama baru “musholla”, banyak Langgar yang kehilangan fungsinya. Orang Betawi yang bersekolah di sekolah umum, mengaji di TPA dan sekedar ikut Rohis, mungkin kalau tidak diajak orangtuanya akan lupa caranya ikut haul dan tahlilan.

Kalau ibukota benar-benar pindah, maka Langgar harus didefinisikan ulang. Orang Betawi yang tetap merasa orang kampung, harus mengembalikan kampungnya kembali. Meskipun jalannya terjal dan mendaki.

Dan besek pun sudah berubah menjadi nasi kotak dan bungkusan.

 

Sumber: Facebook Humaidi Syari’ati